BAKRIN Solihin lahir di Pompanua empat puluh lima tahun silam. Tanah tumpah darahnya itu sebuah desa di Kabupaten Bone, terletak antara Sengkang dan Watampone. Ia menamatkan SD di sana (saya kira waktu itu masih bernama Sekolah Rakyat) dan SMP di Maros; SMA diselesaikan di Makassar. Lalu pindah ke Jakarta dan merampungkan kuliahnya di Fakultas Psikologi UI. Semuanya berjalan lancar. Setelah bekerja lebih-kurang tiga tahun di sebuah perusahaan asing, ia memperoleh tawaran untuk melanjutkan studi di salah satu perguruan tinggi terkemuka di Amerika Serikat. Tentu saja Bakrin memanfaatkan sebaik-baiknya kesempatan itu. Lagi-lagi semuanya berjalan lancar. Hanya memakan waktu sekitar lima tahun saja, ia kembali ke Tanah Air dengan mengantongi diploma Ph.D dengan yudisium Summa Cum-Laude.
Semua bekas teman sekolahnya mengakuinya cerdas. Ia tidak pernah tampak sungguh-sungguh belajar, tetapi selalu lulus dengan angka mencengangkan. Di segi itu, mencemburukan memang. Ia selalu menduduki tempat yang paling atas.
Baru-baru ini ia menemui saya di Jakarta. Karena tidak merasa bebas bercakap-cakap di rumah paman (tempat saya menginap) ia mengajak saya ke luar. Ia memilih sebuah restoran yang interiornya ditata sedemikian rupa sehingga kita merasa tenang dan betah di dalamnya. Saya nyatakan rasa kagum atas ketinggian selera yang dimilikinya.
"Saya sangat berharap Anda dapat meluangkan waktu yang agak longgar bersama saya hari ini. Di antara keluarga, sisa Anda yang dapat saya ajak berdialog. Sejak pulang dari Amerika, jurang intelektual kian lebar menganga memisahkan saya dengan ibu-bapak dan adik-adik kandung saya." Bakrin membuka percakapan. Suaranya datar. Pandangannya terarah ke sendok garpu yang disilangkannya di atas meja makan. Lalu diam beberapa saat.
Pernyataan yang dilontarkan itu membuat saya tak mampu mengucapkan kata-kata menyambutnya. Saya merasa serba salah. Ibu, bapak dan adik-adik kandungnya, seperti ibu, bapak dan adik-adik kandung saya sendiri. Saya selalu merasa asyik berada di tengah-tengah mereka. Saya tidak mengalami kesulitan sedikit pun berinteraksi dengan mereka. Guyon-guyon dalam bahasa daerah selalu membumbui percakapan kami.
"Seperti Anda tahu, saya sekarang sudah berpisah dengan mereka, saya hanya ditemani sepasang pembantu. Laki-laki dan perempuan yang berstatus suami istri. Kapan mereka pulang ke kampung, maka saya tinggal sendirian di rumah. Sesekali saya ingin ditemani salah seorang adik agar tidak kesepian. Tetapi keinginan itu saya urungkan mengingat dialog tak akan nyambung. Apa yang mau dipercakapkan, literaturnya sangat terbatas. Ia malas membaca. Lagi pula seleranya memang rendah. Ia tidak mampu menikmati puisi, musik klasik dan seni lukis abstrak. Ia hanya senang dangdut dan roman-roman picisan. Yang amat memprihatinkan saya, walaupun ia mengantongi ijazah doktorandus, bahasa Inggrisnya sungguh blepotan. Saya heran, orang sebodoh dia, kok bisa jadi sarjana. Anda tentu mengerti kalau saya katakan tak bisa berdialog dengan orang yang kualitasnya seperti itu." Bakrin menatap tajam ke pangkal hidung saya. Ia seperti mengundang reaksi saya. Tatapan matanya tak dilepaskannya, sampai-sampai saya dibuatnya agak gugup.
Kata-kata yang meluncur dari mulutnya memancing reaksi macam-macam dari benak saya. Pikiran saya dibuat sibuk, tetapi mulut saya kian terpaku. Bakrin makin asyik bermonolog, pikiran saya makin sibuk melayang-layang, tak satu kata yang diucapkan Bakrin yang terbayang simbolnya di otak saya. Ia seperti berbicara sendirian dan saya tak hadir di sana. Padahal, saya terang-terang duduk berhadapan dengannya.
Kecerdasan yang bergabung dengan kesempatan yang mengantar seseorang mengantongi ijazah berpredikat "sangat terpelajar" ternyata bukan jaminan untuk menjadi arif dalam kehidupan ini. Bakrin Solihin merekam isi bergudang buku psikologi dan ilmu-ilmu lain yang terkait ke dalam otaknya, tetapi ternyata gagal menyentuh psikologi ibu, bapak dan adik-adiknya sendiri. Sebuah tragedi yang sering tak disadari oleh yang bersangkutan.***
Artikel lain dari penulis :