Piala Dunia 2026 adalah penutupan bagi seorang Cristiano Ronaldo. Ia mengakhiri kiprahnya di turnamen ini dengan air mata. Portugal menyerah 0-1 melawan Spanyol di babak 16 besar di Dallas Stadium, Selasa (7/7) pagi WIB.
Mimpi terakhirnya untuk membawa Portugal juara buyar ketika gelandang Spanyol Mikel Merino mencetak gol tunggal di injury time babak kedua. Portugal tak mampu membalas di sisa waktu.
CR7 berumur 41 tahun dan 152 hari seusai kekalahan itu, dihitung dari hari lahirnya pada 5 Februari 1985. Ia sadar diri. Ia tidak mampu lagi memperkuat timnas ketika turnamen serupa digelar empat tahun kemudian di Portugal, Spanyol, dan Maroko.
Ia akan tercatat sebagai salah satu pemain terbaik dunia yang gagal meraih trofi Piala Dunia.
“Saya sedih harus meninggalkan Piala Dunia dengan cara seperti ini,” katanya dalam sesi konferensi pers.
“Saya sudah memberikan segalanya. Melakukan yang terbaik. Ini pertandingan Piala Dunia terakhir saya, benar. Namun, kini saya punya waktu untuk refleksi diri, berada di tengah-tengah keluarga. Saya tidak mau membuat keputusan terburu-buru untuk ke depannya.”
CR7 telah membela Selecao das Quinas, selama 23 tahun. Selama itu, ia menghadirkan era keemasan bagi sepak bola Portugal.
Ronaldo adalah pemecah segala rekor. Ia mengoleksi lima gelar Ballon d'Or, tiga predikat Pemain Terbaik Eropa, empat Sepatu Emas Eropa , juga lima gelar Pemain Terbaik Dunia versi FIFA.
Di level timnas, Ronaldo telah memberikan tiga gelar juara untuk Portugal: Euro 2016, serta UEFA Nations League pada 2019 dan 2025. Sebelum ini, Portugal belum pernah memenangkan turnamen apa pun.
“Saya bermain 23 tahun untuk Portugal dan meraih tiga titel. Sebelum Cristiano, Portugal belum pernah juara. Euro 2016 akhirnya menjadi yang paling penting. Bagi saya, trofi itu sama hebatnya dengan Piala Dunia,” kata Ronaldo yang kini menjadi penyerang tersubur sepanjang masa timnas Portugal di ajang Piala Dunia dengan torehan 11 gol.
Ronaldo belum memberikan indikasi apakah ia masih bersedia tampil untuk Portugal di Euro 2028. Tapi pernyataannya untuk mengakhiri penampilan di Piala Dunia menghadirkan era baru dalam lanskap sepak bola internasional.
Tanpa Ronaldo di Piala Dunia 2030 berarti sorot mata publik dunia akan tertuju pada para pemain generasi terkini.
Ada Kylian Mbappe di Prancis, Erling Haaland di Norwegia, Brahim Diaz di Maroko, Jude Bellingham di Inggris, dan taburan bintang ternama di timnas Spanyol dan Belgia. Megabintang Lionel Messi dari Argentina kini sudah berusia 39 tahun. Empat tahun lagi ia berusia 43 tahun. Mungkin ia masih bermain, mungkin pula pensiun dari timnas.
Yang jelas, turnamen edisi 2030 tidak akan sepi walaupun tanpa Ronaldo.
Bagi Portugal sendiri, mundurnya sang kapten legendaris mengisyaratkan terbitnya “fajar kebebasan”. Siapa pun pelatih berikutnya—karena Roberto Martinez mundur setelah kekalahan lawan Spanyol—tidak lagi terbebani untuk terus memanggil Ronaldo di setiap turnamen internasional.
Memang Ronaldo adalah pemain terbaik. Tapi itu dulu. Era keemasannya sudah lewat. Portugal kini leluasa melakukan perombakan tim. Khususnya dengan memberikan kesempatan kepada bintang-bintang muda untuk keluar dari bayang-bayang kebesaran Ronaldo.
Memaksimalkan potensi para pemain muda barangkali lebih baik ketimbang selalu menggantungkan harapan pada seorang Ronaldo.
Portugal tentu saja tetap menaruh respek tertinggi untuknya. Jasanya tak tertandingi. Namun, sekarang saatnya mereka maju dengan muka tegak. Saatnya menyongsong era baru tanpa Ronaldo.***