Tidak ada jalan mudah mencapai final. Tapi, jika boleh menakar, Argentina telah mendaki tebing paling terjal selama Piala Dunia 2026. Kemenangan 2-1 atas Inggris pada big match semifinal di Atlanta Stadium, Kamis (16/7) dini hari WIB adalah buktinya.
Inggris dan Argentina bertukar serangan sejak peluit dibunyikan. Tidak ada gol sepanjang babak pertama. Namun, “Tiga Singa” berhasil menciptakan keunggulan di menit ke-55 ketika umpan silang Morgan Rogers disepak Anthony Gordon dan mengoyak gawang Argentina.
Dari sinilah situasi berubah. Albiceleste menekan tanpa henti, memaksa Inggris bermain defensif. Nyaris tidak ada serangan balik yang mengejutkan Argentina. Alih-alih, kiper Inggris Jordan Pickford harus berjibaku dengan sejumlah penyelamatan spektakuler selama 40 menit terakhir. Ia akhirnya terpuruk juga.
Kapten Argentina Lionel Messi memberikan umpan manis untuk tendangan jarak jauh Enzo Fernandez di menit ke-85, lalu membuat assist lagi untuk sundulan Lautaro Martinez di menit ke-90+2.
Begitu peluit panjang berbunyi, Messi bersimpuh. Tangannya mengepal. Berteriak keras melepas emosi. Ini final ketiganya setelah menjadi runner up Piala Dunia 2014 di Brasil dan juara Piala Dunia 2022 di Qatar. Ini barangkali menjadi final terakhirnya, mengingat sang Pemain Terbaik Dunia itu sudah berusia 39 tahun.
“Sungguh gila bisa mencapai final Piala Dunia dua kali beruntun. Laga semifinal ini menunjukkan sekali lagi kekuatan kami sebagai sebuah tim. Kami punya mental baja dan sanggup menampilkan permainan hebat. Kami sabar dan bisa membaca permainan sejak awal. Ketika mereka unggul, kami justru bisa tampil lebih baik,” kata Messi usai pertandingan.
Bukan sekali ini Argentina menunjukkan respons positif pada laga sulit.
Ketika berjumpa Cape Verde di babak 32 besar, tim asuhan Lionel Scaloni ini dipaksa bertarung hingga extra time sebelum menang 3-2. Di babak 16 besar, Albiceleste bahkan tertinggal dua gol hingga satu jam pertandingan ketika menghadapi Mesir. Namun, dengan perjuangan mati-matian, Messi cs membalikkan keadaan dan menang 3-2.
Sama halnya di perempat final, ketika Argentina berjumpa Swiss. Imbang 1-1 hingga waktu normal, “Tim Tango” dipaksa menuju extra time hingga akhirnya menang 3-1.
Seharusnya Argentina menjadi tim paling lelah di turnamen ini. Tapi tidak. Tidak ada kata itu dalam kamus. Setiap kesulitan itu justru menempa mental Argentina. Menjadikannya tim yang teruji dan tangguh. Termasuk bagi Messi di masa senjanya. Ia menggurat tanda di setiap laga. Jika tidak mencetak gol, ia membuat assist. Messi yang magis.
Mantan ikon Barcelona itu tetap saja jadi motor serangan tim saat menghadapi Inggris. Jatuh bangun berkali-kali. Berlari dan mengoper tiada henti. Ia pun kembali dinobatkan sebagai Man of the Match—kelima kalinya sepanjang Piala Dunia 2026. Sembilan dribel sukses yang dilakukannya merupakan statistik terbaik dalam sebuah laga knockout Piala Dunia, terhitung sejak 1966.
Dua assist yang dihasilkannya tak hanya mengantarkan Argentina ke final. Messi kembali memimpin daftar perebutan “Sepatu Emas” dengan koleksi delapan gol dan empat assist. Kylian Mbappe (Prancis) juga memiliki delapan gol, tapi hanya tiga assist.
Sekarang, Messi menatap final lawan Spanyol. Argentina memiliki kans menjadi juara Piala Dunia dua kali beruntun. Belum pernah ada tim yang melakukannya setelah Italia (1934 dan 1938) dan Brasil (1958 dan 1962).
Spanyol jelas bukan tim sembarangan. La Roja menyajikan Tiki-taka terbaiknya saat membungkam Prancis dengan skor 2-0 di semifinal. Sang juara Euro 2024 itu juga baru kemasukan satu gol dalam seluruh laga Piala Dunia 2026.
Argentina memiliki serangan terbaik, Spanyol punya pertahanan terbaik. Laga puncak Piala Dunia 2026 ini bakal digelar di New York New Jersey Stadium, Senin (20/7) dini hari WIB.
“Saya mengenal Spanyol dengan baik. Beberapa pemainnya membela Barca bersama saya beberapa tahun lalu. Mereka tim hebat dengan materi pemain luar biasa. Mereka juga menampilkan permainan sepak bola yang ekselen,” kata Messi. “Laga final nanti akan spesial, dan saya memperkirakan pertandingan yang sangat ketat.”
Inggris, di lain pihak, akan berjumpa Prancis untuk perebutan tempat ketiga. Laga ini akan digelar di Miami Stadium, Minggu (19/7) subuh WIB.