Masa depan sebuah bangsa seringkali dibicarakan dalam angka. Pertumbuhan ekonomi, pembangunan infrastruktur, atau kemajuan teknologi. Namun, sesungguhnya masa depan juga ditentukan oleh satu hal yang jauh lebih mendasar; yakni bagaimana kita memperlakukan anak-anak hari ini.
Pesan itulah yang mengemuka dalam diskusi “Mengawal Ekosistem Perlindungan Anak” yang diselenggarakan Save the Children Indonesia jelang peluncuran Festival Pahlawan Anak 2026. Bertepatan dengan 50 tahun kiprahnya di Indonesia, organisasi ini kembali mengajak masyarakat melihat perlindungan anak bukan sebagai isu sosial semata, melainkan fondasi pembangunan bangsa.
Di balik optimisme Indonesia menuju masa depan, masih tersimpan berbagai tantangan yang dihadapi anak-anak. Lebih dari separuh remaja berusia 13–17 tahun pernah mengalami setidaknya satu bentuk kekerasan sepanjang hidupnya. Di sisi lain, jutaan anak masih hidup dalam kemiskinan, bekerja di usia dini, atau menghadapi risiko di ruang digital yang kini menjadi bagian dari keseharian mereka.

Tantangan serupa hadir dalam dunia pendidikan. Meski tingkat melek huruf anak tergolong tinggi, akses pendidikan belum sepenuhnya merata. Data yang diolah Save the Children menyebutkan, sekitar satu dari lima anak usia SMP dan satu dari tiga anak usia SMA tidak lagi bersekolah. Partisipasi pendidikan anak usia dini masih relatif rendah.
Tak cukup sampai di sini, persoalan kesehatan pun tak kalah jadi sorotan. Stunting, gizi kurang, berat badan lahir rendah, hingga belum meratanya imunisasi dasar masih menjadi pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan bersama.
Fakta lain yang perlu disadari, Indonesia juga merupakan negara yang akrab dengan bencana alam. Situasi ini sering kali membuat anak kehilangan akses terhadap pendidikan, layanan kesehatan, bahkan rasa aman yang seharusnya mereka miliki.
Selama lebih dari lima dekade, Save the Children Indonesia berupaya menjawab tantangan tersebut melalui pendekatan yang menyeluruh. Mulai dari memperkuat sistem perlindungan anak, meningkatkan kualitas pendidikan, memperluas layanan kesehatan dan gizi, hingga membangun kesiapsiagaan masyarakat menghadapi bencana.

Anak-anak ceria bermain di Pantai losari makassar. Foto Makhfud Sappe
Pendekatan ini dilakukan bersama pemerintah, sekolah, komunitas, sektor swasta, dan tentu saja anak-anak sebagai bagian dari solusi. “Selama 50 tahun kami belajar bahwa perubahan yang paling bermakna tidak pernah lahir dari satu pihak, melainkan kolaborasi,” ujar Dessy Kurwiany Ukar, CEO Save the Children Indonesia di Jakarta, 14 Juli 2026.
Berbagai capaian yang telah diraih, lanjutnya, menunjukkan bahwa perubahan nyata dapat terwujud bila semua pihak bergerak bersama. Mulai dari penguatan literasi dan numerasi di sekolah, pemberdayaan anak perempuan, peningkatan kapasitas tenaga kesehatan, pelatihan Dokter Kecil, hingga pembangunan ruang belajar sementara bagi anak-anak yang terdampak bencana.
Tak hanya di tingkat masyarakat, Dessy mengungkapkan, pihaknya secara konsisten mendorong lahirnya berbagai kebijakan yang memperkuat sistem perlindungan anak di Indonesia.
Di sisi lain, Dessy mengingatkan, perjalanan dan kerja-kerja mereka masih jauh dari selesai. “Keberpihakan terhadap anak tidak boleh berhenti di level komitmen, tapi harus diwujudkan dengan aksi konkret dan berkelanjutan,” terangnya.
Karena itu, kata dia, perlindungan anak tidak dapat diserahkan kepada satu lembaga atau pemerintah saja. Dibutuhkan kolaborasi yang lebih luas, lebih kuat, dan berkelanjutan agar setiap anak dapat tumbuh dalam lingkungan yang aman, sehat, dan penuh kesempatan.
Pada akhirnya, melindungi anak bukan sekadar memenuhi hak generasi muda. Ini adalah investasi jangka panjang bagi masyarakat. “Sebab, ketika anak-anak tumbuh dengan aman, sehat, dan memperoleh pendidikan yang layak, kita sedang menyiapkan masa depan yang lebih baik bagi semua.”