Timnas Inggris dan Argentina, rivalitas paling ikonik di perhelatan sepak bola dunia kembali bertemu di fase semifinal. Duel The Three Lions dengan Timnas Albicelestes yang paling dikenang dengan aroma yang sangat menyengat, ketika berlaga di Stadion Azteca dalam perempat final Piala Dunia di Meksiko. Saat itu, Inggris takluk setelah Diego Maradona mencetak dua gol legendaris. Gol pertama dikenal sebagai “hand of God” (tangan Tuhan) karena dicetak menggunakan tangan, gol kedua setelah Maradona melewati beberapa pemain kemudian menaklukkan kiper Peter Shilton.
Setelah lebih dari dua dekade, Piala Dunia tahun ini kembali mempertemukan dua raksasa bola tersebut dalam laga krusial di fase semifinal. Sebelumnya skuad The Three Lions pun diprediksi bakal mampu membungkam Timnas Albicelestes, apalagi Anthony Gordon berhasil mencetak gol di menit ke-55. Ironisnya, tanpa perlu extra time, Timnas Argentina berhasil menekuk Inggris 2-1 setelah Enzo Fernandez dan Lautaro Martinez mencetak gol. Dari kemenangan tersebut, Timnas asuhan Lionel Scaloni akan menghadapi Timnas Matador atau La Furia Roja asuhan Luis de la Fuente di fase grand final yang rencana digelar di Stadion MetLife New Jersey Amerika Serikat.
Pertemuan Timnas La Furia Roja dengan Timnas Albicelestes dipastikan akan berlangsung alot, bukan hanya prototipe permainan yang berbeda, tetapi lebih didasari pada semangat yang menggelora antara mempertahankan trofi juara dunia dengan gairah mengulang sejarah. Seperti diketahui, sang juara bertahan Argentina merebut trofi Piala Dunia setelah mengalahkan Prancis lewat adu tos-tosan (adu pinalti) di Stadion Lusail Iconic Qatar tahun 2022. Sedangkan La Furia Roja yang saat itu diasuh oleh Vicente del Bosque, berhasil melumpuhkan Tim Oranye Belanda dengan gol tunggal Andres Iniesta pada empat menit sebelum extra time berakhir di Stadion Soccer City Afrika Selatan tahun 2010.
Dalam rekor head-to-head, Spanyol dan Argentina sangat berimbang. Duel kedua tim pun hanya bertemu sekali dalam ajang Piala Dunia. Dalam lima laga persahabatan terakhir, tercatat Spanyol dominan unggul. Tanpa meremehkan kualitas skuad besutan Lionel Scaloni, Pelatih Luis de la Fuente sangat antusias agar skuadnya dapat bertemu dengan Timnas Argentina di fase puncak perhelatan global.
Performa kedua tim dalam Piala Dunia tahun ini sangat mentereng, keduanya pun ngotot mengukir sejarah setelah enam puluh tahun pertemuannya di pentas internasional. Pasukan La Furia Roja berupaya mengulang sukses di Afrika Selatan, sedangkan Timnas Albicelestes juga tak ingin kehilangan moment mempertahankan mahkota sebagai juara bertahan.
Tak terbantahkan, selain kualitas pemain, penerapan taktik pun akan sangat menentukan. Timnas La Furia Roja terkenal dengan taktik penguasaan bola tinggi yang sering disebut tiki-taka, mobilitas lini tengah dan pertahanan rapat yang terbilang ampuh mendikte ritme pertandingan. Sebaliknya, Timnas Albicelestes dikenal bermain sangat fleksibel, mengandalkan umpan dan operan pendek dari kaki ke kaki khas Amerika Latin untuk menguasai lini tengah, didukung kecepatan transisi dan kebebasan taktis bagi pemain yang berperan sebagai kreator serangan. Lalu siapa yang bakal mengukir sejarah, kayaknya antusiasme tiki-taka lebih dominan dan mengalahkan formasi operan pendek.(*)
Penulis, pencinta sepak bola.