Beragam julukan ikonik Timnas Spanyol, paling populer adalah Sang Matador, sering pula disebut La Roja (Si Merah) atau La Furia Roja (Si Merah Penuh Amarah). Melalui pertarungan yang sangat menguras tenaga, skuad asuhan Luis de la Fuente Castillo berhasil mengalahkan Belgia. Padahal Timnas Matador sudah dinilai miring, bahkan Pelatih asal Belgia Hein Vanhaezebrouck menyebut Si Merah tidak lagi sengejreng era sebelumnya. Kelemahan utama, terletak pada produktivitas lini serang yang dinilai sangat tumpul.
Debut Sang Matador kini sah melaju ke fase berikutnya, di babak semifinal Sang Matador akan menjajal kekuatan Timnas Prancis asuhan Didier Deschamps di Stadion AT&T Arlington Amerika Serikat. Menghadapi pasukan Les Bleus (Si Biru) atau Les Coq (Ayam Jantan) simbol negara Prancis, Sang Matador tentu tak gentar karena unggul tipis dalam statistik head-to-head.
Performa Les Coq Gaulois (Ayam Jantan) di ajang Piala Dunia saat ini sangat mentereng, pencapaian ini mencatatkan Sang Ayam Jantan lolos ke babak semifinal Piala Dunia secara berturut dalam tiga edisi. Memiliki kepercayaan diri yang sangat tinggi, karena kematangan pemain yang merata di semua lini. Pemain di bangku cadangan pun memiliki skill individu yang baik, nyaris selevel dengan pemain inti sehingga pergantian pemain saat pertandingan, tak mengurangi kokok Sang Ayam Jantan. Aspek psikis pun sangat tangguh, memiliki mental petarung dengan modal stamina yang kuat sehingga bisa dominan saat berjibaku dalam perebutan bola lambung atau bola datar dari kaki ke kaki.
Sebaliknya, skuad Sang Matador dinilai sangat tumpul dalam eksekusi penyelesaian akhir. Bahkan sering tampil buntu, jika pemain depan dikurung ketat. Sisi ini, perlu sentuhan ketat mengolaborasi pemain muda dan senior agar tetap tampil solid. Mempercayakan selebrasi olah bola yang lebih lapang kepada pemain muda, diharapkan mampu meningkatkan talenta untuk bergerak lebih luwes di wilayah pertahanan lawan sekaligus dapat mengontrol tempo permainan.
Pertandingan nanti akan sangat bergantung pada kejelian Luis de la Fuente memainkan Muleta del Matador (kain merah yang dibentangkan Sang Matador pada pertarungan banteng), memanfaatkan kelemahan skuad Sang Ayam Jantan yang seringkali larut dengan ritme permainan lawan. Bentangan Muleta Matador untuk memancing Sang Ayam Jantan sibuk menyerang, biasanya meninggalkan ruang terbuka yang dapat dimanfaatkan untuk serangan balik. Meski taktik ini sangat rentan, namun patut dicoba sepanjang konsentrasi pemain lini belakang tetap konsisten.
Menyadari stagnansi pemainnya mengembangkan skill ketika lawan mendominasi penguasaan bola, Didier Deschamps menerapkan strategi dan taktik yang sangat cair (fluid) dengan mengandalkan transisi kilat dan disiplin dalam bertahan. Hasilnya fantastis, Sang Ayam Jantan lebih beringas mematuk lawan. Pada laga nanti, taktik ini bisa jadi akan menyulitkan Sang Matador. Luis de la Fuente pun dituntut meramu jurus jitu, karena kemenangan Sang Matador terlihat dari kepiawaiannya bermanuver dengan mengumpankan Muleta hingga koyak dipatuk Sang Ayam Jantan. Jika lengah, Sang Matador akan dipaksa membentangkan Muleta putih pertanda takluk.(*)
Penulis, pencinta sepak bola.