teater-koma-tafsir-baru-rumah-sakit-jiwa-bersama-rangga
Ratna Riantiarno siap ambil bagian dalam pentas Teater Koma berjudul ‘Rumah Sakit Jiwa’ di Jakarta, 30 Juli - 2 Agustus 2026. | Dok Devy Lubis
Movie & Music
Teater Koma: Tafsir Baru ‘Rumah Sakit Jiwa’ bersama Rangga
By Devy Lubis
Mon, 13 Jul 2026

Berselang 35 tahun setelah pentas perdananya, lakon ‘Rumah Sakit Jiwa’ karya seniman serbabisa almarhum Nano Riantiarno digarap ulang. Masih bersama Teater Koma, namun pengerjaannya di bawah tangan dingin penerus, Rangga Riantiarno. 

Kini, pada pementasan ‘Rumah Sakit Jiwa’ versi 2026 ini, Ratna Riantiarno kembali naik panggung. Aktor film, teater sekaligus pemimpin produksi Teater Koma ini sekali kagu memerankan Ibu dr. Rogusta. 

Aktingnya kali ini bukan sekadar mengulang peran yang pernah ia bawakan pada 1991 silam. Tiga puluh lima tahun berlalu, banyak hal telah berubah. Ratna datang sebagai pribadi yang berbeda, dengan pengalaman hidup yang jauh lebih panjang.

"Tiga puluh lima tahun lalu saya memainkan peran ibu ketika usia saya masih muda. Anak-anak juga masih kecil. Rangga (sekarang sutradara) waktu itu baru berusia 12 tahun. Sekarang saya sudah menjadi Oma (nenek). Tentu kemarahan, cara berpikir, dan keinginannya juga sudah berbeda," ujarnya.

Karena itu, Ratna memilih untuk tidak menjadikan pementasan lama sebagai acuan. Ia kembali membaca naskah ‘Rumah Sakit Jiwa’ dari sudut pandang yang baru, tanpa membandingkannya dengan pertunjukan tiga dekade silam.


"Saya tidak mau melihat yang dulu atau mengingat pertunjukan yang lalu. Saya membaca naskah ini lagi sebagai pertunjukan yang benar-benar baru karena sutradaranya baru dan persepsinya juga baru.”

Menurut Ratna, perubahan itu tidak hanya terjadi pada dirinya, tetapi juga pada cara generasi baru memandang sebuah karya. Ia mengaku belajar menerima bahwa setiap generasi memiliki cara berpikirnya sendiri, termasuk ketika kini harus bekerja bersama putranya yang duduk di kursi sutradara.

"Perbedaan pendapat antara ibu dan anak itu pasti ada. Tapi saya sadar, enggak mungkin memaksakan cara berpikir generasi kami kepada generasi sekarang. Mau tidak mau, kita harus saling berkompromi.”

Meski demikian, ada satu hal yang tetap dipertahankan Teater Koma sejak ‘Rumah Sakit Jiwa’ pertama kali dipentaskan, yaitu riset. Jika pada 1991 para pemain melakukan observasi ke rumah sakit jiwa, proses serupa juga dilakukan kali ini. Bedanya, kondisi yang mereka temui sudah jauh berbeda.

Ratna melihat perubahan itu dari berbagai sisi, mulai dari sistem pengelolaan rumah sakit, pendekatan para tenaga medis, hingga persoalan yang dihadapi para pasien. Baginya, perkembangan tersebut justru membuat pertanyaan utama dalam lakon ini semakin terasa relevan.

"Kadang kita perlu bertanya, sebenarnya yang sakit jiwa itu siapa? Yang disebut pasien atau justru orang-orang yang merasa dirinya paling waras? Kadang-kadang apa yang diucapkan pasien ada benarnya, sementara yang mengelola justru tidak selalu baik-baik saja.”

Pertanyaan itu pula yang, menurut Ratna, membuat ‘Rumah Sakit Jiwa’ tetap memiliki daya hidup hingga sekarang. Ketika Rangga kembali membaca naskah karya sang Ayah, Nano Riantiarno, ia melihat bahwa kritik yang pernah dianggap relevan puluhan tahun lalu ternyata masih menemukan gaungnya di masa kini.

Di tangan Rangga, ‘Rumah Sakit Jiwa’ melibatkan sekitar 25 hingga 26 aktor lintas generasi. Jumlahnya memang lebih sedikit dibandingkan pementasan tahun 1991 yang mencapai sekitar 35 pemain. 

Namun, bagi Rangga sendiri, kekuatan pertunjukan tidak diukur dari banyaknya pemain, melainkan kekuatan pesan —ini tentu ciri khas dari setiap pementasan Teater Koma— dan pengalaman yang dibawa pulang oleh penonton.

"Kami berusaha menghadirkan pertunjukan yang tidak hanya mengajak penonton berpikir, tetapi juga memanjakan mereka lewat visual, akting, musik, dan tata artistik. Mudah-mudahan setelah menonton, orang pulang membawa sesuatu. Mudah-mudahan jawabannya, ‘dunia tidak sedang berubah menjadi rumah sakit jiwa’,” pungkasnya.

‘RUMAH SAKIT JIWA’ akan dipentaskan sebanyak 5-kali di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada 30 Juli - 2 Agustus 2026. Tiket pertunjukan bisa diakses melalui situs resmi www.teaterkoma.org dan platform www.loket.com.  

TERKAIT :Teater Koma dan Kembalinya ‘Rumah Sakit Jiwa’

Share
Nyonya Secret

Pilihan Redaksi

Berita Terpopuler

Berita Terbaru