asa-konservasi-jalan-panjang-menghidupkan-kembali-prambanan
Candi Prambanan | Dok. Indonesian Heritage Agency/MCB
Destination
Asa Konservasi: Jalan Panjang Menghidupkan Kembali Prambanan
By Devy Lubis
Sun, 12 Jul 2026

Di pelataran kedua Kompleks Candi Prambanan, ratusan reruntuhan batu masih menunggu giliran untuk disusun kembali. Dari 224 Candi Perwara atau candi-candi pendamping yang mengelilingi candi utama, baru enam yang berhasil dipugar. Sisanya, lebih dari 200 candi, rusak dalam berbagai tingkatan.

Fakta tersebut menginisiasi kerja sama baru yang diresmikan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto bersama Perdana Menteri India Narendra Modi di Kompleks Candi Prambanan, 8 Juli 2026. Pemerintah Indonesia dan India sepakat berkolaborasi dalam konservasi dan restorasi Situs Warisan Dunia UNESCO ini. Bagian dari hubungan budaya yang sudah terjalin lebih dari satu milenium.

Fokus kolaborasi ada pada restorasi Candi Perwara di sektor timur laut kawasan Prambanan. Prosesnya diagendakan berlangsung bertahap selama sepuluh tahun. Jauh dari kata sederhana, upaya bersama ini melibatkan berbagai tahapan. Mulai dari penelitian arkeologi, identifikasi dan penyusunan kembali batu-batu asli, dokumentasi digital, survei LiDAR, pemindaian tiga dimensi, hingga rekonstruksi berbasis kecerdasan artifisial. 


Metode utama yang dipakai adalah anastylosis. Pendekatan restorasi yang menyusun kembali struktur asli menggunakan material aslinya sendiri.

Selain konsen pada kerja-kerja fisik, ada juga pertukaran pengetahuan. Antara lain peningkatan kapasitas konservator dan arkeolog, penelitian bersama, serta penguatan sistem pengelolaan kawasan dan drainase untuk pelestarian jangka panjang.

Kepala Badan Layanan Umum Museum dan Cagar Budaya (BLU MCB) Indira Estiyanti Nurjadin menyebut kerja sama ini sebagai langkah strategis. "Kolaborasi tidak hanya berfokus pada pelestarian fisik Candi Prambanan, tetapi juga menjadi ruang pertukaran pengetahuan, pengalaman, dan teknologi konservasi antara Indonesia dan India.”

Esti menambahkan, “Kami ingin memastikan bahwa proses konservasi berjalan berdasarkan kajian ilmiah. Ini sekaligus memperkuat kapasitas konservator Indonesia agar semakin siap menghadapi tantangan pelestarian warisan budaya di masa depan.”

Kenapa India? Pilihan India sebagai mitra bukan kebetulan. Pengaruh peradaban India sudah lama menjadi bagian dari perkembangan budaya Nusantara. Dan, Prambanan sebagai kompleks candi Hindu terbesar di Indonesia adalah salah satu buktinya. Akar sejarah yang sama ini jadi fondasi memperluas kerja sama pelestarian warisan budaya.

India sendiri punya pengalaman panjang dalam konservasi situs warisan dunia, dengan pendekatan berbasis riset, dokumentasi digital, dan peningkatan kapasitas ahli. Lewat kolaborasi antara Archaeological Survey of India (ASI), Museum dan Cagar Budaya, dan Balai Pelestarian Kebudayaan, kedua negara akan saling bertukar keahlian dan praktik terbaik dalam konservasi cagar budaya.

Bagi Esti, kolaborasi ini adalah investasi jangka panjang sekaligus tonggak baru diplomasi budaya, mengingat Prambanan adalah warisan dunia yang menjadi kebanggaan Indonesia sekaligus bagian dari peradaban dunia. 

“Melalui kolaborasi ini, kami tidak hanya merevitalisasi bangunan candi, tetapi juga membangun pengetahuan, memperkuat kapasitas para konservator, serta menghadirkan praktik-praktik terbaik dalam pelestarian cagar budaya," tutupnya.

Ia berharap kerja sama ini bisa jadi model bagi pelestarian situs-situs warisan lain di Indonesia, sekaligus mempertegas posisi Indonesia sebagai salah satu pusat keunggulan konservasi warisan budaya di tingkat global.***

Share
Nyonya Secret

Pilihan Redaksi

Berita Terpopuler

Berita Terbaru