Teater Koma kembali! Kali ini mereka hadir dengan kisah dan naskah yang pernah dipentaskan 35 tahun silam, ‘Rumah Sakit Jiwa’. Produksi ke-237 yang menandai 49 tahun Teater Koma berkarya di industri seni pertunjukan Indonesia ini akan digelar 5-kali dalam 4-hari pada 30 Juli - 2 Agustus 2026.
Tiket pertunjukan bisa diakses melalui situs resmi www.teaterkoma.org dan platform www.loket.com.
‘Rumah Sakit Jiwa’ dipentaskan perdana pada 1991. Kini, bersama Bakti Budaya Djarum Foundation, Teater Koma menghidupkan kembali salah satu karya penting yang pernah menjadi bagian dari sejarah panjang kelompok teater tersebut. Tentu saja, dengan rasa dan fenomena yang bermunculan di era abundance hingga hari ini, tahun 2026.
Cerita mengalir mengikuti perjalanan Rogusta, dokter baru di rumah sakit jiwa yang dipimpin Profesor Sidarita. Rogusta percaya, pendekatan yang lebih manusiawi dan bersahabat mampu membantu proses penyembuhan para pasien.
Metode yang diterapkannya ternyata mengubah kehidupan di rumah sakit tersebut; walau prosesnya pelan. Namun, perubahan itu di sisi lain justru berbenturan dengan sistem yang telah lama mengakar. Belum lagi ada orang-orang yang merasa posisinya terancam dan kepentingannya tersingkirkan.
Dari sini Teater Koma mencoba mengajak kita semua, terutama penonton dan penikmat seni, memahami sekaligus berefleksi. Terutama ketika kita melihat masih ada akal sehat dan upaya-upaya sederhana untuk memperbaiki ‘sistem’ yang dilanggengkan dengan penuh kesewenangan.
“Sejak dipentaskan pertama kali tahun 1991, ‘Rumah Sakit Jiwa’ bukan semata-mata bercerita tentang sebuah institusi, tapi tentang manusia dan berbagai persoalan yang mengitarinya,” kata Rangga Riantiarno, sutradara pementasan.
“Itu sebabnya, kami merasa lakon ini masih relevan dengan hari ini,” tambahnya.
Alih-alih berpaku pada naskah awal dan pementasan perdana garapan N. Riantiarno, di tangan Rangga, ‘Rumah Sakit Jiwa’ edisi 2026 hadir dengan pembacaan baru yang relate dengan kehidupan kita hari ini. Modifikasi dilakukan di beberapa aspek.
“Sebenarnya ini lebih kepada durasi. Masih bisa dipadatkan, Jadi, tidak mengubah total. Lebih kepada pertimbangan durasi … tapi tetap berupaya agar esensi dari kalimat-kalimatnya (dialog dan monolog) tidak hilang,” jelasnya.
Rangga percaya bahwa persoalan kemanusiaan, ketimpangan kekuasaan, hingga dinamika sosial di masyarakat tetap menjadi benang merah yang relevan di generasi manapun. Meski demikian, perkembangan zaman membuat realitas yang dihadapi masyarakat hari ini jauh berbeda dibandingkan saat ‘Rumah Sakit Jiwa’ pertama kali dipentaskan.
“Dulu belum ada internet. Jadi, naskahnya menggambarkan bagaimana ‘serangan-serangan dunia’ mempengaruhi kondisi psikis manusia saat itu,” tutur Rangga.
Kini, lanjutnya, bentuk ‘serangan’ itu semakin beragam. Arus informasi yang seolah tak pernah berhenti, media sosial, hingga perkembangan artificial intelligence (AI) menghadirkan tantangan baru bagi kesehatan jiwa dan mental. Orang semakin sulit, bahkan terkadang enggan, mana yang nyata dan mana hasil produksi AI.
Karena itu, persiapan pementasan tidak berhenti pembacaan naskah atau ruang latihan saja. Untuk memahami setiap karakter secara utuh, para pemain dan kru melakukan observasi langsung ke rumah sakit jiwa serta pusat rehabilitasi yang menangani orang-orang dengan gangguan kejiwaan.
Mereka juga berdiskusi langsung dengan psikiater dan psikolog klinis agar setiap tokoh yang dihadirkan nanti lahir dari empati, bukan sekadar interpretasi. Namun, bagi Rangga, riset bukan berarti meninggalkan ruang bagi imajinasi. Keduanya justru saling melengkapi dalam proses membangun karakter.
“Kalau kita (pemain) tidak melihat atau mengalami peristiwa yang sebenarnya … kadang-kadang imajinasi itu jadi enggak punya akar.”
Pengalaman di lapangan, menurutnya, membantu para pemain memahami bahwa persoalan kesehatan jiwa hari ini, termasuk pemicunya, memiliki ‘wajah’ yang jauh lebih beragam dibanding tiga dekade silam.
“Itulah pentingnya observasi. Dulu belum ada korban judi online, pinjol, korban pileg atau caleg gagal … variasi-variasi yang ada zaman sekarang, yang mungkin tahun 1991 tidak terlalu kentara,” kata Rangga.
Jadwal Pementasan:
Rumah Sakit Jiwa oleh Teater Koma
- Kamis, 30 Juli 2026 | 19.30 WIB
- Jumat, 31 Juli 2026 | 19.30 WIB
- Sabtu, 1 Agustus 2026 | 13.30 WIB & 19.30 WIB
- Minggu, 2 Agustus 2026 | 13.30 WIB