Pekan lalu, pada Rabu siang, 8 Juli 2026, Perdana Menteri India Narendra Modi berjalan menyusuri pelataran Candi Prambanan, didampingi Presiden Prabowo Subianto. Bukan sekadar agenda kenegaraan. Kunjungan ini jadi simbol hubungan dua negara yang usianya jauh lebih tua dari status diplomatik Jakarta-New Delhi.
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menyebutnya momen penting. Mempererat people-to-people contact Indonesia dan India. Baginya, hubungan kedua negara bukan cuma soal diplomasi.
"Tetapi juga ikatan budaya dan peradaban yang telah lama terjalin," ujarnya saat mendampingi kunjungan tersebut di Candi Prambanan.
Candi Prambanan. Dok. Indonesian Heritage Agency/MCB
Kedekatan itu memang bukan basa-basi. Seni, bahasa, sastra, arsitektur, tradisi spiritual, hingga kisah besar Ramayana dan Mahabharata: semuanya jadi benang merah yang menyatukan dua peradaban. Prambanan sendiri adalah bukti hidupnya. Kompleks candi Hindu yang menyerap nilai-nilai peradaban India, lalu diolah menjadi ekspresi budaya yang sepenuhnya Indonesia.
"Kami ingin menjadikan Prambanan sebagai jembatan penting dalam memperkuat wisata budaya dan spiritual antara Indonesia dan India. Bersama Bali, Prambanan punya ikatan emosional dan spiritual yang kuat dengan wisatawan India," kata Widiyanti.
Di balik kunjungan simbolis ini, ada kerja panjang yang sudah berjalan. Pada 8 Februari 2026, Indonesia dan India menandatangani nota kesepahaman kerja sama pariwisata. Mencakup riset dan pengembangan, pendidikan dan pelatihan, promosi, MICE, investasi, hingga kerja sama sektor swasta.
Kerja sama ini juga merambah forum multilateral: ASEAN-India lewat ASEAN Outlook on the Indo-Pacific, G20, UN Tourism, hingga IORA di mana India menjabat Wakil Ketua sekaligus co-chair Kelompok Kerja Ekonomi Biru bersama Indonesia. Tahun ini, India juga memegang Ketua BRICS dan akan menjadi tuan rumah Pertemuan Menteri Pariwisata BRICS di Jaipur, Rajasthan, 19–22 Agustus 2026.
Namun ini tidak berhenti di atas kertas. Konektivitas menjadi kata kunci berikutnya. Bukan hanya rute ke Bali dan Jakarta, tapi juga ke Yogyakarta dan Jawa Tengah. Pembukaan penerbangan langsung ke Bandara Internasional Yogyakarta (YIA) tengah diupayakan, termasuk mendorong Angkasa Pura memberi insentif biaya landing dan parkir pesawat.
"Ke depan, kami akan terus berupaya dan berkolaborasi untuk memperkuat konektivitas ke Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah. Kami berharap semakin banyak wisatawan India yang berkunjung ke destinasi wisata prioritas seperti Candi Prambanan, Candi Borobudur, dan desa-desa wisata," tuturnya.
Indonesia juga tengah mengupayakan India masuk skema Visa-Free Entry (VWV). Proposal ini masih dalam pembahasan.
Sejak 2025, Indonesia mulai mengembangkan perayaan Shivaratri dan Maha Shivaratri sebagai bagian dari agenda budaya yang berpotensi menarik wisatawan India. Ditambah rangkaian acara seperti Prambanan Shiva Festival dan Prambanan Jazz Festival, kawasan ini terus dipoles jadi destinasi budaya kelas dunia.
Hasilnya mulai terlihat. Sepanjang Januari–Mei 2026, jumlah wisatawan India ke Indonesia mencapai 298.450 orang. Naik 0,40% dibanding periode sama tahun sebelumnya. Tren ini melanjutkan pertumbuhan positif sejak 2023: dari 606.439 kunjungan menjadi 734.490 pada 2025.
Bagi Widiyanti, kunjungan Modi bukan cuma seremoni sesaat. "Melalui kunjungan Perdana Menteri Modi, kami berharap dapat semakin memperkuat citra Indonesia sebagai destinasi wisata kelas dunia di mata wisatawan India dan masyarakat internasional," tutupnya.***