Timnas Inggris berhasil mengalahkan Norwegia, meski kebobolan terlebih dahulu lewat sepakan pemain sayap kiri Norwegia Andreas Schjelderup yang membentur tiang jauh sebelum masuk ke dalam gawang. Pertandingan yang digelar di Miami Stadium tersebut berlangsung alot, meski terlihat Inggris lebih unggul dalam penguasaan bola namun tidak memproduksi peluang yang cukup di babak pertama. Dalam tambahan waktu di ujung babak pertama, Jude Bellingham berhasil menyamakan angka dan selanjutnya menjadi pahlawan Inggris setelah berhasil mencetak gol kedua dalam extra time yang merubah skor akhir menjadi 2-1 untuk skuad The Three Lions.
Mengikuti jejak Inggris, Timnas asuhan Lionel Scaloni juga membongkar pertahanan low block sekaligus membungkam perlawanan pasukan La Nati Swiss dengan angka dramatis 3-1. Dalam laga yang melelahkan di Arrowhead Stadium (Kansas City Stadium) Amerika Serikat tersebut, wasit Joao Pinheiro asal Portugal mengeluarkan satu kartu merah dan empat kartu kuning. Naas bagi Breel Embolo (striker Swiss) setelah berebut bola dengan Leandro Paredes (gelandang bertahan Argentina), kartu kuning yang semula diberikan kepada Paredes justru ditarik setelah adanya intervensi VAR (Vidio Assistant Referee) dan menghukum Embolo dengan kartu merah.
Di babak semifinal, Timnas Albicelestes bakal menjajal skuad The Three Lions yang rencana digelar di Mercedes-Benz Stadium (Atlanta Stadium) Amerika Serikat. Dapat dipastkan, duel The Three Lions dengan skuad Albicelestes akan berlangsung sengit. Satu mewakili Benua Eropa, satunya lagi mewakili Benua Amerika. Sepanjang Piala Dunia tahun ini, kedua negara jagoan bola ini selalu tampil dengan performa yang maksimal. Gaya permainan sepak bola Inggris dikenal dengan intensitas tinggi, kecepatan (fast-paced) dan stamina pemain yang tangguh. Sedang skuad Argentina terkenal dengan kombinasi teknik penguasaan bola (khas Amerika Latin), didukung dengan determinasi fisik yang agresif.
Meski Inggris lolos ke fase semifinal, sang sutradara Thomas Tuchel, mengakui timnya sempat tampil ceroboh dan melakukan banyak kesalahan taktis. Thomas Tuchel tidak menanggapi secara serius tim yang bakal dihadapi pada babak semifinal, hanya ingin fokus membenahi kelemahan skuadnya. Sementara Lionel Scaloni, sang pelatih Argentina,sangat mewaspadai kekuatan Inggris. Menurutnya, kualitas pemain Inggris sangat merata dan memiliki pola permainan yang terorganisir sangat luar biasa.
Secara matematis, kedua tim memiliki peluang yang sangat berimbang. Persentase kemenangan Inggris dan Argentina pun sangat tipis yaitu 37,9 persen untuk Inggris dan 31,3 persen untuk Argentina. Perseteruan Inggris dan Argentina di fase semifinal, berangkat dari dorongan magik yang berbeda. Inggris yang haus dengan titel juara dunia selama enam puluh tahun, diprediksi akan berjibaku habis-habisan untuk mengalahkan sang juara bertahan.
Modal pemain Inggris yang melanglang buana di klub-klub elit Eropa, tentu akan memberikan pengalaman bermain yang sangat baik. The Three Lion pun dinilai sarat dengan pemain muda yang berkualitas, bahkan disebut sebagai tim yang memiliki generasi emas yang mumpuni. Di sisi lain, Timnas Argentina pun pasti berjuang mempertahankan trofi di perhelatan global. Masih cukup waktu bagi Thommas Tuchel dan Lionel Scaloni mengutak-atik taktik dan mengasah mental pemain agar siap bertarung di lapangan hijau, fokus pada satu tujuan yaitu meretas ambisi untuk menjadi pemenang. Walhasil, menang pada babak semifinal maka ekspektasi jadi juara tinggal selangkah.(*)
Penulis, pencinta sepak bola.