Prancis menghadapi Spanyol dalam duel semifinal Piala Dunia 2026 di Dallas Stadium, Rabu (15/7) dini hari WIB.
Laga yang layak disebut “final dini” ini bakal menghadirkan rivalitas modern antara dua pemain hebat. Generasi penerus Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi. Kylian Mbappe di pihak Les Bleus, Lamine Yamal di kubu La Roja.
Bicara taktik, Prancis merupakan tim yang sangat eksplosif selama gelaran di tiga negara ini. Skuad asuhan Didier Deschamps mencatatkan rekor sempurna di perjalanan menuju semifinal. Enam kali bermain, enam kali menang.
Lini depan Prancis sangat subur dengan koleksi 16 gol, sedangkan lini belakangnya cukup solid karena baru kemasukan dua gol. Hanya Argentina yang mengungguli Prancis dengan koleksi 17 gol hingga semifinal.
Mbappe, bomber Real Madrid berusia 27 tahun, menyumbang delapan gol dan tiga assist untuk “Ayam Jantan”. Ia berada di daftar teratas untuk perebutan “Sepatu Emas” di edisi kali ini. Bersaing ketat dengan Messi, kapten Argentina yang juga mengoleksi delapan gol, tapi hanya dua assist.
Selain itu, Mbappe juga mengejar Messi untuk gelar top scorer sepanjang masa di Piala Dunia. Mbappe telah mengumpulkan 20 gol dari 20 pertandingan Piala Dunia sejak 2018, ketika ia membawa Prancis juara. Messi unggul dengan 21 gol dari 31 pertandingan.
Spanyol tidak terlalu mentereng. Dibesut Luis de la Fuente, La Roja masih mengandalkan sistem permainan tiki-taka. Ritme bermain khas dengan operan pendek dan cepat. Tapi tim ini cenderung disiplin dalam bertahan. Bukan tiki-taka agresif seperti saat juara Piala Dunia 2010.
Dominasi dalam hal penguasaan bola jadi andalan utama. Kesabaran intinya. Selama ada bola, selalu ada peluang untuk mencetak gol.
Lini serang La Roja memproduksi 11 gol sejauh ini. Tidak ada penyerang yang menonjol. Semua bisa mencetak gol. Jika ada yang pantas disebut, hanya Mikel Oyarzabal yang menjadi top scorer tim dengan empat gol. Atau Mikel Merino, penentu kemenangan 1-0 atas Portugal dan 2-1 atas Belgia. Namun, barisan pertahanannya sangat kuat. Dari enam pertandingan, Spanyol baru kemasukan satu gol, yaitu ketika menghadapi Belgia di perempat final.
Walaupun terkesan kurang produktif, Spanyol sangat berbahaya ketika menyerang. Dipimpin playmaker muda Lamine Yamal, La Roja melesakkan total 110 tendangan ke arah gawang. Catatan itu sama dengan Prancis. Hanya Belgia lebih unggul dengan 112 percobaan ke arah gawang.
Yamal baru mencetak satu gol di turnamen ini. Namun, kontribusinya untuk La Roja telah berbuah dua penghargaan Man of the Match. Saat menghadapi Austria di babak 32 besar dan saat mengalahkan Belgia.
Winger Barcelona berusia 18 tahun ini memiliki tipe bermain sangat kreatif. Skill individunya sangat tinggi, dan selalu berani mencecar lini belakang lawan. Bergerak lincah, dengan dan tanpa bola. Kerap melakukan tendangan berbahaya, kerap pula memberikan umpan presisi.
Ia adalah pemain remaja terbaik sedunia saat ini. Bahkan dianggap sebagai penerus Messi di Barca. Gunjingan publik karena hanya mencetak satu gol tidak terlalu membebani pikirannya.
“Pergerakan saya bisa menarik banyak pemain lawan dan membuat rekan setim berada dalam posisi tanpa kawalan. Saya melakukan apa pun untuk membantu tim meraih kemenangan. Bahkan jika saya tidak menyentuh bola dalam sebuah serangan—itu tetap hal yang baik,” kata Yamal dalam konferensi pers jelang melawan Prancis.
“Kami juara Euro ketika saya hanya mencetak satu gol. Sekarang saya juga baru mencetak satu gol. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”
Spanyol adalah juara Euro 2024, di mana Yamal hanya mencetak satu gol. Tepatnya saat La Roja mengalahkan Prancis dengan skor 2-1 di semifinal.
Berdasarkan catatan pertemuan kedua tim (37 kali), Spanyol lebih baik dengan 17 kemenangan. Prancis menang 13 kali dan keduanya imbang 7 kali.
Dalam dua pertemuan terbaru, La Roja menghabisi Prancis dua kali berturut-turut. Menang 5-4 di semifinal UEFA Nations League (5 Juni 2025) dan menang 2-1 di semifinal Euro 2024 (9 Juli 2024).