teater-koma-dan-proses-kreatif-yang-tidak-pada-tempatnya
Penata musik Fero Stefanus dalam konferensi pers pementasan ‘Rumah Sakit Jiwa’ di Jakarta | Dok. Bakti Budaya Djarum
Movie & Music
Teater Koma dan Proses Kreatif yang ‘Tidak pada Tempatnya’
By Devy Lubis
Tue, 14 Jul 2026

Di balik kisah yang kembali dipentaskan, ‘Rumah Sakit Jiwa’ dibangun melalui kerja kolaboratif lintas disiplin. Lakon karya N. Riantiarno pada 1991 yang kini disutradarai Rangga Riantiarno itu menghadirkan tata artistik, tata cahaya, tata suara, multimedia, kostum, hingga musik yang dirancang khusus untuk membawa penonton masuk ke dunia yang dibangun di atas panggung.

Bagi Fero A. Stefanus, penata musik ‘Rumah Sakit Jiwa’, musik tidak sekadar menjadi pengiring adegan. Bersama Rangga dan para pemain, ia merancang komposisi yang mengikuti dinamika emosi setiap tokoh sekaligus menghadirkan rasa "tidak pada tempatnya"—sebuah gagasan yang mendukung nyawa pertunjukan ini.

"Konsep musiknya sederhana. Bagaimana menggambarkan rumah sakit jiwa yang terasa 'tidak pada tempatnya'. Kadang orang yang dianggap sakit belum tentu tidak waras, sementara yang terlihat waras juga belum tentu benar-benar waras," ujarnya.

Secara musikal, Fero menggunakan instrumen yang akrab di telinga. Mulai dari piano, drum, saksofon, cello, hingga kontrabas. Namun, instrumen-instrumen tersebut dimainkan dengan cara yang tidak selalu mengikuti ekspektasi penonton

"Bunyinya mungkin cello, tetapi dimainkan dengan cara yang tidak biasa. Atau di satu adegan, penonton mungkin akan bertanya, kenapa musiknya seperti ini? Dari situ saya membangun imajinasi tentang Rumah Sakit Jiwa lewat bunyi-bunyian.”

Berbeda dengan pementasan 1991, Fero justru memilih tidak menjadikan musik pertunjukan terdahulu sebagai referensi. Ia bahkan mengaku tidak diperbolehkan menonton dokumentasi pementasan pertama agar dapat menghadirkan interpretasi yang benar-benar baru.

“Kalau ciri khas Mas Nano, memang ada beberapa musik yang spesifik sekali. Misalkan, musiknya ada bunyi terompet atau tambur … itu diikutin saja. Tapi, di luar itu benar-benar imajinasi bebas aja,” terangnya. 

Ia juga memasukkan sentuhan musik yang lebih dekat dengan pendengar masa kini. Sentuhan tahun 2000-an hingga musik modern zaman sekarang. Ia pun melibatkan beberapa musisi muda untuk membantu menciptakan efek suara serta ilustrasi musik. 

“Mereka membawa perspektif yang berbeda karena tumbuh di generasi yang berbeda.”


Perancang Samuel Wattimena dalam konferensi pers pementasan ‘Rumah Sakit Jiwa’ di Jakarta. Dok. Bakti Budaya Djarum Foundation.

Tak hanya musik, identitas visual setiap tokoh juga mendapat perhatian khusus. Perancang busana Samuel Wattimena bersama Rima Ananda merancang kostum yang tidak berhenti pada fungsi estetika, tetapi menjadi bagian dari proses bercerita.

"Kami tidak ingin kostum hanya menjadi pelengkap visual. Setiap rancangan dibuat untuk membantu penonton mengenali karakter, latar belakang, hingga perubahan yang dialami masing-masing tokoh sepanjang cerita,” kata Sam.

Karena itu, lanjutnya, prosesnya melibatkan diskusi yang cukup panjang dengan sutradara. “Agar setiap detail kostum benar-benar mendukung penceritaan.”

Melalui perpaduan akting, musik, tata artistik, dan kostum, ‘Rumah Sakit Jiwa’ kembali hadir sebagai karya yang tidak hanya menghidupkan naskah lama, tetapi juga membangun pengalaman baru bagi penonton. 

Lakon ini akan dipentaskan di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada 30 Juli hingga 2 Agustus 2026. Pertunjukan dimulai pukul 19.30 WIB, dengan jadwal tambahan pada Sabtu (1 Agustus) pukul 13.30 WIB serta Minggu (2 Agustus) pukul 13.30 WIB.

Sekira 70% kursi telah terisi. Dapatkan tiket nontonmu lewat situs resmi Teater Koma atau platform penjualan tiket yang telah ditentukan.***

TERKAIT :

Share
Nyonya Secret

Pilihan Redaksi

Berita Terpopuler

Berita Terbaru