ubud-writers-readers-festival-2026-kisah-kisah-yang-menembus-batas-kata-kata
Ilustrasi Ubud Writers & Readers Festival 2025. | Dok. UWRF/Yayasan Saraswati
FESTIVAL & CULTURE
Ubud Writers & Readers Festival 2026: Kisah-kisah yang Menembus Batas Kata-kata
By Devy Lubis
Sat, 11 Jul 2026

Ada banyak cara memahami dunia. Salah satunya lewat cerita. Sebuah novel dapat membawa pembaca melintasi batas negara, masa dan budaya. Sepotong memoar membuka jendela menuju pengalaman hidup orang lain. Sementara diskusi mampu melahirkan sudut pandang baru yang mungkin belum pernah terpikirkan sebelumnya.

Semangat itulah yang kembali dihadirkan Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) 2026. Berlangsung pada 21–25 Oktober di Ubud, festival sastra ini kembali menjadi ruang bertemunya para penulis, pemikir, seniman, dan aktivis dari berbagai belahan dunia. 

Memasuki penyelenggaraan ke-23, UWRF mengangkat tema ‘Samarasā: Awareness. Empathy. Action.’. Sebuah ajakan untuk lebih sadar, lebih berempati, dan berani mengambil tindakan melalui kekuatan cerita.

Tahun ini, lebih dari 100 sesi akan menghadirkan beragam percakapan. Membentang dari sastra, sejarah, politik, hingga lingkungan. Sejumlah nama besar pun telah diumumkan sebagai bagian dari jajaran pembicara pertama.

Sorotan utama datang dari peraih Booker Prize, Kiran Desai. Ia akan membahas novel terbarunya, ‘The Loneliness of Sonia and Sunny’. Lewat kisah tentang migrasi dan pencarian identitas, Desai kembali mengajak pembaca melihat kehidupan dari berbagai sisi. 

Dari Malaysia, Tash Aw hadir membawa ‘The South’, novel yang lahir dari kenangan masa remaja di lahan pertanian keluarga. Sementara finalis Booker Prize Katie Kitamura akan memperkenalkan ‘Audition’, novel yang mengeksplorasi bagaimana manusia membangun citra diri di hadapan orang lain.

Dunia mode juga mendapat tempat melalui kehadiran desainer Nepal-Amerika, Prabal Gurung. Dikenal lewat rancangan yang pernah dikenakan Michelle Obama hingga Duchess of Cambridge, Gurung membawa memoar debutnya, ‘Walk Like a Girl’. Kisah perjalanan membangun karier sekaligus bertahan sebagai desainer independen di industri fashion.

Suara Berani untuk Kemanusiaan

Festival ini juga memberi ruang bagi suara-suara yang berani mengangkat isu sosial dan kemanusiaan. 

Randa Abdel-Fattah akan membahas ‘Discipline’, novel yang mempertanyakan siapa yang berhak menyampaikan cerita dan siapa yang selama ini tidak didengar. Karya tersebut menjadi perhatian dunia setelah pembatalan kehadirannya di Adelaide Writers' Week 2026 memicu gelombang solidaritas dari ratusan penulis.

Nada yang sama juga hadir melalui penulis Palestina Adania Shibli lewat ‘Minor Detail’. Ia menghubungkan sejarah Palestina dengan realitas masa kini. Hadir pula penulis Pakistan Fatima Bhutto melalui ‘The Hour of the Wolf’, sebuah kisah tentang kekerasan, kehilangan, dan perjuangan untuk bertahan hidup.

Di luar ranah sastra, festival menghadirkan perspektif baru melalui jurnalis Inggris-Amerika Simon Winchester yang akan membahas buku ‘The Breath of the Gods’. Berkisah tentang sejarah, sains, dan masa depan angin. 

Ia akan berbagi panggung bersama Profesor David Lindenmayer, pakar ekologi hutan asal Australia yang selama puluhan tahun meneliti pentingnya menjaga kelestarian hutan.

Indonesia pun tampil melalui para pencerita yang membawa isu-isu dekat dengan kehidupan masyarakat. Jurnalis investigatif dan pembuat film Dandhy Laksono akan berbagi kisah di balik karya-karyanya, mulai dari ‘Sexy Killers’, 'Dirty Vote’, hingga yang terbaru ‘Pesta Babi.

Sementara Dian Purnomo akan mengangkat novel ‘Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam’, yang menyoroti praktik kawin tangkap di Pulau Sumba.

Festival juga menjadi panggung bagi beragam penulis Indonesia lainnya. Raisa Kamila akan membahas 'Perkara Keramat’ yang mengangkat sejarah dan ingatan masyarakat Aceh. Valiant Budi membawa memoar ‘Kedai 1001 Mimpi’ tentang pengalaman sebagai pekerja migran di Arab Saudi. 

Penyair Cyntha Hariadi hadir dengan eksplorasi bahasa dan warisan kolonial melalui puisi-puisinya, sedangkan Louie Buana memperlihatkan bagaimana naskah epik Bugis ‘La Galigo' terus hidup dalam bentuk penceritaan masa kini.

Belajar Menulis, Bertemu Sesama Pencerita

Selain rangkaian diskusi, UWRF juga menghadirkan pengalaman belajar yang lebih mendalam melalui program retret penulisan. Setelah sebelumnya mengumumkan retret memoar bersama Peter Godwin, tahun ini penulis Hong Kong Xu Xi akan memandu retret selama dua hari pada 19–20 Oktober. 

Program yang digelar bersama Mongrel International Inc. ini ditujukan bagi penulis memoar, nonfiksi naratif, maupun fiksi yang berangkat dari pengalaman nyata.

"Ubud Writers & Readers Festival terus menjadi mercusuar bagi kisah-kisah luar biasa dan suara-suara berani dari Indonesia maupun seluruh dunia," ujar pendiri dan direktur festival, Janet DeNeefe. 

Menurutnya, jajaran pembicara tahun ini mencerminkan semangat festival untuk merayakan keberagaman, keberanian, dan keyakinan bahwa kata-kata memiliki kekuatan untuk menghubungkan manusia serta menginspirasi perubahan.

Share
Nyonya Secret

Pilihan Redaksi

Berita Terpopuler

Berita Terbaru