dari-paris-hingga-busan-eksplorasi-fashion-seni-dan-inovasi-bertemu-di-panggung-jf3
Bjorn Backes membawakan koleksi ‘Requiem’ pada parade show PINTU Incubator 2025 (kiri). Koleksi Nona Rona (kanan). | Dok. JF3/Handout
Fashion
Dari Paris hingga Busan: Eksplorasi Fashion, Seni, dan Inovasi Bertemu di Panggung JF3
By Devy Lubis
Sat, 11 Jul 2026

Runway tidak hanya mempertemukan koleksi-koleksi terbaru, tetapi juga membawa kisah dari berbagai penjuru dunia. Di JF3 Fashion Festival 2026, panggung mode menjadi ruang dialog lintas budaya. Tempat eksplorasi tekstil Indonesia berdampingan dengan eksperimen teknologi dari Prancis, estetika kontemporer Korea Selatan, hingga perspektif kreatif para desainer Asia Tenggara. 

Pertemuan inilah yang menjadikan JF3 bukan sekadar pekan mode, melainkan ruang bertumbuhnya kolaborasi dan pertukaran ide.

Menerjemahkan bahasa desain & craftmanship dalam koleksi

Prancis kembali menjadi salah satu sorotan dalam edisi tahun ini. Masing-masing desainer yang hadir membawa pendekatan berbeda. Memperlihatkan bagaimana fashion dapat berkembang melalui eksplorasi, inovasi, dan pengalaman lintas budaya.

Salah satunya adalah 30%70, label milik Fengyuan DAI yang dikenal pernah berkolaborasi dengan Jean-Paul Gaultier, Le 19M, Sandrine Philippe, dan Stéphane Ashpool. Pada 2023, Fengyuan DAI juga terpilih sebagai finalis Festival Internasional Mode, Fotografi, dan Aksesori Hyères. 

Kehadirannya di JF3 menghadirkan perspektif tentang bagaimana perjalanan seorang desainer melintasi rumah mode besar hingga panggung independen dapat melahirkan bahasa desain yang unik.

Pendekatan berbeda dibawa oleh ROHAN MIRZA STUDIO. Label ini dikenal mengeksplorasi teknologi, material, dan teknik fabrikasi eksperimental seperti cetak 3D dan silikon untuk menciptakan karya yang berada di persimpangan antara fashion, seni, dan inovasi. Kehadirannya memperkaya percakapan mengenai masa depan fashion, ketika craftsmanship bertemu dengan teknologi tanpa kehilangan nilai artistiknya.

Sementara itu, TAREET, label milik Etienne, memperlihatkan bagaimana fashion dapat bersinggungan dengan musik, olahraga, dan budaya populer. Karyanya pernah dikenakan oleh Playboi Carti dan ENHYPEN, serta dipercaya merancang jersey Olympique de Marseille bersama PUMA. 

Di JF3 2026, TAREET akan berkolaborasi dengan DENIMITUP, salah satu peserta program akselerator PINTU. 

Kolaborasi ini menjadi contoh nyata bagaimana JF3 membuka ruang pertemuan antara desainer internasional dan brand Indonesia. Ini penanda bahwa kolaborasi tidak berhenti di atas runway, tetapi berlanjut dalam proses kreatif.

Pertukaran budaya jadi inspirasi

Hubungan kreatif antara Prancis dan Indonesia juga berlanjut melalui LOUISE MARCAUD. Setelah tampil di runway JF3 2025 lalu, ia kembali dengan koleksi terbaru yang terinspirasi dari tenun lurik, hasil eksplorasi yang lahir setelah mengikuti JF3 dan program PINTU Cultural Visit. 

Koleksi tersebut menjadi bukti bahwa pertukaran budaya dapat berkembang menjadi inspirasi yang nyata, melahirkan karya baru yang membawa jejak pengalaman sekaligus penghormatan terhadap tradisi.

Kolaborasi dengan Prancis semakin diperdalam melalui keterlibatan École Duperré Paris, salah satu institusi pendidikan mode terkemuka di negara tersebut. Bersama para incubees PINTU dan finalis Future Fashion Designer 2026, mereka akan menghadirkan presentasi kolaboratif yang mempertemukan dunia pendidikan, industri, dan talenta muda dalam satu ruang kreatif.

Gelombang kreativitas lintas Asia

Percakapan lintas negara itu juga meluas ke kawasan Asia Tenggara. Melalui ASEAN Fashion Designers Showcase (AFDS), JF3 menghadirkan Erjohn dela Serna House of Designs dari Filipina, KINNALY dari Laos, serta Indra Murak dari Singapura. Masing-masing membawa karakter yang merefleksikan keberagaman wajah fashion Asia Tenggara sekaligus membuka ruang dialog yang semakin erat dengan ekosistem mode Indonesia.

Gelombang kreativitas Korea Selatan kembali mewarnai runway JF3 melalui Studio di Perla, OHGYO, dan CONSTELLER D.L. Kehadiran ketiganya menjadi bagian dari kolaborasi berkelanjutan antara JF3 dan Busan Fashion Week yang membuka ruang lebih luas bagi pertukaran ide, talenta, dan perspektif baru dalam perkembangan fashion Asia.

Pada akhirnya, kekuatan JF3 tidak hanya terletak pada banyaknya desainer yang tampil, tetapi pada kemampuannya mempertemukan berbagai cara pandang dalam satu panggung. 

Dari Paris hingga Busan, dari Manila hingga Singapura, setiap koleksi membawa cerita yang berbeda. Ketika seluruh cerita itu bertemu di Jakarta, runway pun berubah menjadi ruang di mana kolaborasi, inspirasi, dan masa depan fashion terus menemukan bentuknya.***

Share
Nyonya Secret

Pilihan Redaksi

Berita Terpopuler

Berita Terbaru