songkolo-teman-begadang-di-sudut-jakarta
| Dok Istimewa
Songkolo, Teman Begadang di Sudut Jakarta
Rusman Madjulekka
Thu, 29 Jan 2026

Songkolo selalu menjadi menu kuliner yang identik dengan malam hari. Bahkan sampai lewat tengah malam. Karena waktu penyajiannya maka makanan ini lebih populer dengan sebutan “Songkolo Begadang”. Meski banyak juga disajikan pagi hari sebagai menu sarapan sebelum memulai aktivitas.  

Aroma makanan tradisional khas dari Sulawesi Selatan, yang terbuat dari beras ketan cukup menggoda, sampai kerap “memanggil” orang untuk berhenti sejenak, berbagi cerita, atau sekadar mengisi perut sebelum pulang ke rumah usai bekerja. 

Bagi warga di Jakarta, pilihan untuk menyantap songkolo kini mudah ditemukan. Salahsatunya di sebuah kedai di kawasan Kalibata, Jakarta Selatan. Tepatnya di kompleks apartemen Kalibata City, basement tower cendana.

Meski menunya ada kata “begadang” dibelakangnya, namun kedai ini belum beroperasi sampai 24 jam. 

“Saat ini kami baru buka mulai jam 6 pagi sampai jam lapar tengah malam, tutup sekitar jam 1 dini hari karena keterbatasan karyawan,” ujar Andi Rahmat Ridha, owner kedai “Songkolo Begadang” Kalibata yang dihubungi, Selasa (27/1/2026).


Saya setidaknya dua kali berkesempatan mencicipi menu “songkolo” di kedai ini. Pelayannya cukup cekatan melayani setiap pengunjung. Menu songkolo terbuat dari beras ketan putih maupun ketan hitam yang diolah dengan santan dan garam. Ketan yang telah matang ditaburi kelapa sangrai yang bercita rasa manis dan gurih, ditambah ikan teri goreng maupun ikan lainnya.  

Songkolo yang disajikan di meja makan dialasi daun pisang. Aroma wangi daun pisang membuat makanan tersebut tambah nikmat. Bisa request sambal untuk merasakan sensasi lebih. Songkolo yang dilahap terasa memiliki cita rasa gurih, setelahnya paling pas menyeruput pisang ijo yang dicampur es dan sirup. 

Secara sepintas saya merasakan kelebihan menyantap songkolo disini relatif sama alias tak berbeda dengan songkolo yang disajikan di Makassar. Artinya, tak perlu jauh-jauh nyeberang lautan bila kangen menyantap menu tradisional yang sudah melegenda tersebut. 

Meski kedai yang dirintis Ridha dan istrinya sejak 11 November 2024 memilih nama “Songkolo Begadang” (SB), namun tidak berarti hanya menyediakan songkolo saja. Tersedia juga nasi kuning, mie kering, pisang ijo dan aneka dessert/kue-kue lainnya seperti barongko, sikaporo, katerisala, sanggara balanda, dan lainnya.

BACA JUGA“Tunjuk-Tunjuk”, Makan Prasmanan ala Makassar di BSD City

Secara operasional sehari-hari sepenuhnya kedai SB jalankan istri Ridha, mengingat dia baru ke Jakarta sedangkan Ridha lebih sering dinas. “Jadi kepikiran saat itu bagaimana membuat kesibukan dan kebetulan dia juga hobi masak, maka tercetuslah ide buat usaha kuliner khas Bugis Makassar,” kisah alumni jurusan ilmu ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Hasanuddin angkatan 2007 ini. 

Kenapa memilih songkolo?

Pertimbangannya karena selain Ridha yang memang penyuka makanan khas Bugis-Makassar, juga karena songkolo dan nasi kuning masih jarang dijumpai di Jakarta. Kalau coto makassar, konro, sop saudara, atau pallubasa dan lainnya sudah banyak dan ada yang menjadi pioninya. 

Ridha bersyukur karena sejak memulai usahanya pada akhir tahun 2024, respon pasar cukup menggembirakan. Pelanggan terus bertambah. Hal itu karena ia dan istri selalu menjaga kualitas masakan yang disajikan. “Rata-rata konsumen banyak yang dine in, sedangkan yang pesan online sekitar 40%,” ungkapnya. 

Selain dari wilayah Jakarta, menurut Ridha, pelanggan kedainya juga banyak yang berasal dari wilayah Jabodetabek, termasuk Wakil Menteri Badan Perlindungan Pekeja Migran Indonesia, Dzulfikar Ahmad Tawalla. “Ia sering pesan buat di kantornya.” ***

Share
Ciputral Hotel JKT
Nyonya Secret

Pilihan Redaksi

Berita Terpopuler

Berita Terbaru