pappri-dan-ekosistem-musik-indonesia
Menteri Kebudayaan Fadli Zon, Gubernur Banten Andra Soni, Ketum PAPPRI Tony Wenas, serta toko-tokoh music nasional dalam Perayaan Hari musik Nasional 2026 di Banten | Dok Istimewa
Movie & Music
PAPPRI dan Ekosistem Musik Indonesia
By Za ~ Zen. Teater Populer 84 I Suara Indonesia
Sun, 15 Mar 2026
Dari Serang Menghidupkan Imajinasi Kebudayaan Nusantara

Perayaan Hari Musik Nasional 2026 di Gedung Negara Serang, Banten, bukan sekadar panggung pertunjukan musik. Ia menjadi ruang refleksi tentang masa depan musik Indonesia sebagai bagian dari perjalanan kebudayaan bangsa.

Acara yang diselenggarakan oleh Persatuan Artis Penyanyi, Pencipta Lagu, dan Pemusik Republik Indonesia (PAPPRI) Provinsi Banten ini mempertemukan berbagai unsur penting dalam ekosistem musik nasional.

Hadir di antaranya Menteri Kebudayaan Fadli Zon , Gubernur Banten Andra Soni, Ketua Umum PAPPRI Tony Wenas, Sekretaris Jenderal PAPPRI Dwiki Dharmawan, tokoh musik nasional Chandra Darusman, Bendahara Umum PAPPRI  Lexi M. Budiman, serta sejumlah tokoh musik dan pengurus PAPPRI dari berbagai daerah.

Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia yang dipimpin Menteri Kebudayaan Fadli Zon, bersama Inspektur Jenderal serta para Direktur Jenderal dan direktur di lingkungan kementerian tersebut, turut hadir dan memberikan apresiasi terhadap penyelenggaraan Perayaan Hari Musik Nasional yang dimotori PAPPRI di Serang, Banten. Kehadiran jajaran kementerian ini memperlihatkan bahwa negara menaruh perhatian pada musik sebagai bagian penting dari kehidupan kebudayaan Indonesia.


Menteri Kebudayaan Fadli Zon, Ketua Umum PAPPRI Tony Wenas, dan Inspektur Jenderal Kementerian Kebudayaan Fryda Lucyana berbincang mengenai perkembangan kebudayaan dan musik Indonesia.

Namun yang membuat pertemuan ini terasa penting bukan semata kehadiran para tokoh tersebut. Yang lebih terasa adalah kesadaran bersama bahwa masa depan musik Indonesia memerlukan ekosistem kebudayaan yang kuat. 

Musik tidak lahir dari ruang kosong. Ia tumbuh dari pertemuan kreativitas seniman, dukungan masyarakat, ruang kebudayaan yang hidup, serta kebijakan negara yang memberi tempat bagi berkembangnya seni.

Dalam konteks inilah PAPPRI memiliki peran strategis. Sejak berdiri pada tahun 1986, organisasi ini tidak hanya menjadi rumah bagi para penyanyi, pencipta lagu, dan pemusik Indonesia, tetapi juga berada di garis depan dalam memperjuangkan hak cipta, pengelolaan royalti, serta perlindungan profesi bagi para pelaku musik.

Lebih jauh dari itu, PAPPRI sesungguhnya memiliki potensi penting sebagai salah satu simpul kebudayaan yang menjaga martabat musik Indonesia. Melalui organisasi profesi semacam inilah kreativitas para seniman dapat bertemu dengan kesadaran kebudayaan yang lebih luas.

Dalam laporan panitia yang disampaikan Ketua DPD PAPPRI Banten Drs. H. Muhammad Faisal, S.H., M.H., muncul sebuah gagasan yang patut mendapat perhatian: perlunya pembangunan gedung kesenian berkelas nasional di Provinsi Banten, sekaligus pengabdian nama Wage Rudolf Supratman, pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya, sebagai salah satu nama jalan utama di Kota Serang.


Ketua DPD PAPPRI Banten Drs. H. Muhammad Faisal, S.H., M.H. menyampaikan laporan panitia sekaligus mengusulkan pembangunan gedung kesenian berkelas nasional di Provinsi Banten.

Gagasan ini menyentuh persoalan yang lebih mendasar daripada sekadar pembangunan fisik. Setiap wilayah - baik kota, kabupaten, maupun provinsi - memerlukan fasilitas kebudayaan yang memadai untuk menunjang aktivitas kreatif masyarakatnya.

Sebuah kompleks kesenian yang dirancang dengan visi kebudayaan yang matang bukan hanya menyediakan ruang pertunjukan. Ia dapat menjadi pusat kehidupan budaya yang hidup - tempat lahirnya karya, ruang pertemuan antara seniman dan masyarakat, sekaligus wadah bagi generasi muda untuk menemukan panggilan kreatifnya.

Gedung pertunjukan dengan arsitektur yang bermartabat, tata interior yang baik, serta akustik yang mumpuni dapat menjadi panggung bagi karya-karya seni berbobot nasional bahkan internasional. Lebih dari itu, bangunan semacam ini dapat tampil sebagai ikon kota - sebuah landmark kebudayaan yang menumbuhkan kebanggaan masyarakatnya. 

Sejarah kebudayaan Indonesia memberikan contoh penting melalui Taman Ismail Marzuki (TIM) di Jakarta. Sejak akhir 1960-an, “TIM” tidak hanya menjadi kompleks pertunjukan, tetapi juga ruang lahirnya generasi seniman dan berbagai gerakan seni modern Indonesia.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa arsitektur kebudayaan mampu membentuk imajinasi sekaligus karakter masyarakat.

Karena itu pembangunan gedung kesenian tidak dapat dipandang sekadar proyek infrastruktur. Ia merupakan bagian dari pembangunan sumber daya manusia.

Dalam perspektif inilah gagasan yang lahir dari Serang memiliki arti yang lebih luas. Ia menunjukkan bahwa energi kebudayaan di daerah dapat menjadi kekuatan penting bagi perkembangan musik Indonesia.

Semangat semacam ini layak menginspirasi DPD PAPPRI di seluruh Nusantara. Ketika setiap daerah berani menghadirkan ruang kesenian yang bermartabat setidaknya berkelas seperti “Taman Ismail Marzuki” dalam skala nasional maka jaringan kebudayaan Indonesia akan tumbuh semakin kuat.

Pada akhirnya, musik Nusantara tidak hanya berkembang sebagai ekspresi artistik. Ia hidup sebagai *suara kebudayaan bangsa.* 


Ketua Umum PAPPRI, Tony Wenas menyanyikan Laguna Meredith Alam Karya Eros Djarot, menghadirkan Susanna hangar dalam Perayaan Hari Musik Nasional 2926.

Dan ketika suara itu terus dirawat oleh para seniman lintas generasi oleh mereka yang telah lama mengabdikan hidupnya bagi musik Indonesia maupun generasi yang baru tumbuh maka usia boleh saja menua, tetapi karya harus tetap muda, terus menyala dan mengantar bangsa ini memperkaya zamannya.

Share
Banner Odhua
Nyonya Secret
Ciputral Hotel JKT

Pilihan Redaksi

Berita Terpopuler

Berita Terbaru