imlek-dan-cap-go-meh
| Foto Makhfud Sappe
FESTIVAL & CULTURE
IMLEK dan Cap Go Meh
Makhfud Sappe
Sun, 15 Feb 2026

Dari suasana khusyuk di Kelenteng Petak Sembilan hingga semarak penuh warna Cap Go Meh di Singkawang, tanda harmoni antaragama dan keberagaman yang terjaga.


Suasana Vihara Dharma Bakti di Petak Sembilan, Jakarta. Foto Makhfud Sappe

Asap dupa memenuhi udara Vihara Dharma Bakti, Petak Sembilan, sementara para umat, tua maupun muda, larut dalam doa. Beberapa membakar dupa, ada pula yang meletakkan hio. Perayaan Imlek menjadi waktu istimewa untuk berkumpul bersama keluarga, memanjatkan harapan akan kesehatan dan keselamatan. Perayaan Imlek ini menjadi simbol harmoni di Indonesia, negara yang terus merawat prinsip kebebasan beribadah dalam damai bagi setiap umatnya.

Ruangan Vihara Dharma Bakti yang juga dikenal sebagai Vihara Kim Tek Le, bersinar terang oleh lampion kertas berwarna-warni, lilin-lilin raksasa memenuhi ruangan memberi kehangatan pada bangunan yang sudah berdiri kokoh sejak tahun 1650.

Di atas meja altar, beragam persembahan seperti buah-buahan hingga kue keranjang tersusun rapi. Dominasi warna merah dan emas menghiasi seluruh sudut ruangan, lilin-lilin besar berdiri megah memenuhi tempat ruangan. Inilah suasana saat perayaan Tahun Baru Imlek di vihara tertua dan paling populer di Jakarta, yang terletak di Jalan Hayam Wuruk, kawasan Glodok, jantung Pecinan Ibu Kota.

Tapi cerita Imlek tidak berhenti di Petak Sembilan saja, ribuan kilometer dari Glodok, di Kota Singkawang, Kalimantan Barat, pada hari ke-15 perayaan Imlek, Cap Go Meh, dirayakan dengan gegap gempita. Kota yang mendapat julukan "Kota Seribu Kelenteng" ini menjelma menjadi ajang festival budaya yang besar. Pada malam ke-15, dua minggu setelah Imlek, Singkawang dipenuhi pengunjung dari berbagai daerah untuk menyaksikan tradisi besar ini.

Lilin raksasa memenuhi ruangan Vihara Dharma Bakti, Petak Sembilan. Foto Makhfud Sappe

Pawai Tatung, agnet perayaan Cap Go Meh.

Kemeriahan Cap Go Meh Singkawang adalah Parade Tatung daya tarik utamanya, atraksi spiritual yang tidak banyak ditemukan pada perayaan imlek di tempat lain. Tatung diyakini sebagai medium spiritual yang dirasuki roh leluhur atau dewa. Para Tatung tampil mengenakan busana tradisional penuh warna bernama sin fuk dan menjalani ritual “cuci jalan,” sebuah upacara untuk membersihkan kota dari pengaruh buruk sebelum acara puncak dimulai.


Cap Go Meh di Singkawang. Foto Imran Rosadi

Dalam kondisi trance, para Tatung menampilkan atraksi luar biasa, seperti berjalan di atas pedang atau menusukkan benda tajam ke tubuh tanpa mengalami cedera, serupa dengan ritual Mappaliuli yang ada di Segeri, wilayah Bugis. Pertunjukan semacam ini bukan sekadar hiburan, tetapi juga merupakan ritual sakral yang sarat dengan nilai-nilai spiritual. Cap Go meh sendiri telah diakui oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda pada tahun 2020.

Cap Go Meh di Singkawang selain sebagai perayaan budaya atau rangkaian ritual Imlek, juga merupakan bukti akulturasi sosial antara masyarakat Tionghoa dan warga setempat. Setiap pelaksanaan ritual berperan sebagai penghubung yang menyatukan ribuan orang dari berbagai penjuru negeri. Para pengunjung datang bukan hanya dari Pontianak, melainkan juga dari berbagai kota lain di Indonesia. Semua datang untuk memeriahkan puncak Imlek, Cap Go Meh

Singkawang sendiri dikenal dengan julukan sebagai “Kota Tidayu,” yang merupakan akronim dari Tionghoa, Dayak, dan Melayu, serta mendapat predikat sebagai Kota Paling Toleran di Indonesia. Ritual Cap Go Meh untuk tahun ini rencananya di akhir Bulan Februari 2026

Rangkaian perayaan Tahun Baru Imlek, dari keheningan penuh doa di klenteng Petak Sembilan hingga kemeriahan pesta Cap Go Meh di Singkawang, bukan hanya sebagai kekayaan budaya Nusantara tetapi juga memperlihatkan keindahan harmoni dan keberagaman di Indonesia.***

Artikel ini tayang juga di : inflight Magazine LIONAIRGROUP edisi JAN-FEB 26.

Share
Banner Odhua
Nyonya Secret
Ciputral Hotel JKT

Pilihan Redaksi

Berita Terpopuler

Berita Terbaru