semburat-cahaya-dari-musamut-hingga-pantai-lampu-satu-merauke
| Foto YUSUF AHMAD
Destination
Semburat Cahaya Dari Musamut Hingga Pantai Lampu Satu Merauke
By Yusuf Ahmad
Wed, 18 Feb 2026


Semburat cahaya matahari menembus celah-celah pohon di tengah Kampung Salor Indah, Distrik Kurik, Merauke, Papua Selatan. Langit biru cerah, tak tampak gumpalan awan putih. Hanya segelintir awan berada di tepi cakrawala sehingga tak menghalangi jatuhnya sinar matahari. Panasnya belum terasa menyengat kulit. Cahaya lembutnya menerpa setiap gundukan tanah yang menjulang tinggi. Gundukan itu bagaikan kumpulan candi kecil berwarna emas, berbentuk kerucut dengan tekstur berlekuk. Musamus, atau sarang semut, demikianlah orang biasanya menyebutnya.

Ada ratusan, bahkan ribuan musamus di savana Kampung Salor Indah . Salah satunya adalah Taman Wisata 1000 Musamus. Letaknya tak jauh dari Kota Merauke, hanya sekitar 1,5 hingga 2 jam perjalanan darat. Jika kita melintasi jalan-jalan besar di kampung ini, pemandangan menakjubkan hamparan Musamus dapat dilihat di sepanjang jalan.


Menurut para ahli, musamus ini terdiri atas tanah, rumput, dan air liur rayap yang berfungsi sebagai perekat.

Saat tiba di kampung ini, suasana tampak sepi. Tidak seperti biasanya, lokasi wisata yang terletak di kampung transmigrasi ini tidak ramai dikunjungi wisatawan. Hari itu, saya dan rombongan merupakan pengunjung pertama di tempat tersebut.

Kami menjelajahi Kampung Salor Indah selama lebih dari dua jam sebelum menuju Kampung Kaliki, salah satu wilayah dengan lanskap tanah gambut di selatan Merauke yang masih termasuk dalam Distrik Kurik. Beruntung kami datang bukan pada musim hujan, sehingga jalanan berlumpur mudah ditembus.

Warga Kampung Kaliki cukup ramah. Saat tiba di tengah kampung, sejumlah tokoh masyarakat menyambut kami dengan baik. Bahkan, mereka bersedia meluangkan waktu untuk berbincang. Selain bercocok tanam, aktivitas sehari-hari mereka adalah berburu binatang, seperti rusa, babi hutan, dan biawak.

Namun, Kaliki menyimpan cerita kelam. Kampung ini kerap mengalami kebakaran. Rawa gambut sangat rentan terhadap kebakaran pada musim kemarau. Dalam catatan, Kampung Kaliki dikelilingi ekosistem rawa gambut dengan ketebalan mulai dari sepuluh sentimeter hingga satu meter.

Hari hampir gelap, sinar matahari mulai meredup dengan warna kekuningan. Kami bergegas meninggalkan Kampung Kaliki menuju Kota Merauke, tempat kami beristirahat sejenak untuk menghilangkan penat sebelum melanjutkan perjalanan keesokan harinya..

Keesokan paginya, Kami sempat berkunjung ke Taman Nasional Wasur. Di sini, kami bertemu dengan burung kasuari dan kanguru. Kemudian, untuk melengkapi perjalanan, kami menjelajahi Merauke.

Tugu Nol Kilometer, yang terletak di perbatasan dengan negara Papua Nugini, menjadi tujuan kami selanjutnya. Kami menyaksikan kehidupan masyarakat Papua Nugini dan berinteraksi dengan mereka, meskipun tidak saling memahami bahasa.


Akhirnya, kami sampai pada penjelajahan terakhir di Pantai Lampu Satu. Pantai ini merupakan salah satu ikon wisata kota Merauke. Di pinggir pantai ini, sejumlah pria sibuk membuat kapal tradisional , sementara wanita merajut jaring penangkap ikan. Sebagian besar dari mereka berasal dari tanah Bugis-Makassar.

Kami menghabiskan waktu cukup lama menyusuri keindahan Pantai Lampu Satu, sebelum akhirnya meninggalkan tempat wisata ini menjelang malam.

Pemandangan sunset yang menjadi latar belakang anak-anak bermain bola di atas hamparan pasir mengantarkan kami pulang, meninggalkan Merauke.***

Foto-foto : YUSUF AHMAD


Share
Banner Odhua
Nyonya Secret
Ciputral Hotel JKT

Pilihan Redaksi

Berita Terpopuler

Berita Terbaru