Tak banyak orang Indonesia yang akrab dengan Uruguay. Negara kecil di pesisir timur Amerika Selatan itu mungkin lebih sering dikenal sebab sepak bola. Namun di balik lapangan hijau dan sejarah olahraga, Uruguay menyimpan bentang alam yang luas, tradisi pedesaan yang kuat, serta hubungan yang erat antara manusia dan tanah tempat mereka hidup.
Semua itu hadir dalam Pameran Seni Rupa Uruguay bertajuk “Panorámica” di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, 5–28 Juni 2026. Melalui pameran ini, publik diajak mengenal Uruguay bukan melalui peta atau buku sejarah, melainkan melalui karya seni yang merekam lanskap, kehidupan, dan pengalaman keseharian masyarakatnya.

Saat fajar seorang gaucho menunggang kuda criollo menuju parade tahunan Patria Gaucha di Tacuarembó, 2005. Dok. Luis Fabini via Galeri Nasional Indonesia
Pameran ini menandai 60 tahun hubungan diplomatik Indonesia dan Uruguay. Lebih dari sekadar perayaan hubungan antarnegara, ‘Panorámica’ membuka ruang perjumpaan budaya yang memungkinkan masyarakat kedua bangsa saling mengenal melalui bahasa yang paling universal: seni.
Bagi Duta Besar Uruguay untuk Indonesia Cristina González, pameran ini menjadi kesempatan memperkenalkan identitas budaya Uruguay kepada masyarakat Indonesia. Menurutnya, seni mampu membangun dialog yang melampaui batas geografis maupun bahasa.
“Panorámica merepresentasikan semangat Uruguay sekaligus menunjukkan nilai-nilai universal yang juga dekat dengan budaya Indonesia, seperti hubungan manusia dengan alam, tradisi, dan identitas,” ujar Duta Besar Cristina.
Pandangan serupa disampaikan Kepala Museum dan Cagar Budaya, Indira Estiyanti Nurjadin. Ia menilai kerja sama budaya internasional memiliki peran penting dalam memperluas wawasan masyarakat terhadap kebudayaan dunia. “Seni dan budaya tidak hanya membantu kita mengenal bangsa lain, tetapi juga menemukan nilai-nilai yang dapat dipelajari dan dibagikan bersama,” kata Esti.

Dua karya Manuel Rodriguez berjudul ‘Bilbao, 25 de abril 2023. 16:30-19:30h (2023-2025)’ dan ‘Montevideo Lunes 2 de diciembre 2025 21:35-22:50h (2026)’. Dok. Galeri Nasional Indonesia
Dua sudut pandang
‘Panorámica’ mempertemukan dua perupa Uruguay, Luis Fabini dan Manuel Rodríguez. Mereka menghadirkan pendekatan berbeda tentang lanskap dan hubungan manusia dengan alam.
Dalam karya-karya mereka, Uruguay ditampilkan dari dua cara pandang yang saling melengkapi. Di satu sisi, ada kehidupan pedesaan yang tenang dan lekat dengan tradisi. Di sisi lain, ada lanskap yang terus berubah dan mengundang perenungan.
Bersama-sama, keduanya menghadirkan Uruguay bukan sekadar sebagai wilayah geografis, melainkan sebagai pengalaman yang hidup di antara ingatan, alam, dan keseharian masyarakatnya.
Fabini merekam hubungan manusia dengan alam melalui fotografi kehidupan para gaucho,sosok penggembala yang telah lama menjadi bagian penting dari identitas budaya Uruguay. Foto-foto tersebut tak hanya menampilkan hamparan lanskap yang tenang, tetapi juga memperlihatkan ketangguhan, kerja keras, dan pengalaman hidup yang membentuk hubungan manusia dengan tanah tempat mereka berpijak.
Di balik citra heroik seorang gaucho, tersimpan kisah tentang kehidupan yang dijalani dari hari ke hari bersama alam yang terus menemani.
Sementara itu, Rodríguez menghadirkan panorama yang lebih tenang dan reflektif melalui sapuan cat air yang lembut dan kontemplatif. Karya-karya dalam seri Watercolor Infinite Dawn tersebut menggambarkan alam sebagai sesuatu yang terus bergerak dan berubah, sekaligus membentuk pengalaman batin manusia.
Lanskap tidak lagi sekadar menjadi latar, melainkan ruang kontemplasi yang mengundang pengunjung untuk berhenti sejenak dan menikmati pengalaman melihat secara lebih mendalam.
Ketika perjalanan sebuah negeri menjadi pengalaman bersama
Dalam bahasa Spanyol, ‘panorámica’ berarti pemandangan yang luas dan menyeluruh. Namun bagi kurator Alam Wisesha dan Karamina Puspitasari, istilah tersebut lebih dari sekadar bentang alam yang dapat ditangkap mata.
Lebih jauh, ‘Panorámica’ dimaknai sebagai upaya memahami Uruguay melalui berbagai pengalaman, suasana, dan perjumpaan yang perlahan membangun kedekatan dengan tempat dan orang-orang yang tinggal dan menetap di sana. Pengalaman yang dapat dirasakan, dibayangkan, dan ditafsirkan oleh setiap pengunjung.
Uruguay merupakan negara di tenggara Amerika Selatan yang berbatasan dengan Brasil, Argentina, dan Samudra Atlantik. Wilayahnya didominasi oleh dataran bergelombang, padang rumput luas, sungai, dan garis pantai yang panjang. Kondisi geografis ini mendukung kegiatan peternakan dan pertanian yang menjadi bagian penting perekonomian masyarakat dan negara.
“Kehidupan sosial budaya mereka tumbuh dekat dengan ruang terbuka, kebersamaan, dan tradisi keseharian seperti budaya gaucho, musik candombe dan tango, serta kebiasaan berbagi mate,” demikian Alam Wisesha dalam catatan kuratorialnya.
Latar alam dan kehidupan sosial inilah yang menjadi benang merah pameran. Memperlihatkan bagaimana identitas budaya terus berkembang seiring waktu, namun tetap menjaga hubungan yang erat dengan alam dan akar tradisinya. Dalam banyak hal, pengalaman tersebut terasa akrab bagi masyarakat Indonesia yang juga memiliki kedekatan kuat dengan lanskap dan kehidupan berbasis komunitas.
Di tengah jarak ribuan kilometer yang memisahkan Indonesia dan Uruguay, Panorámica menunjukkan bahwa seni memiliki kemampuan untuk memperpendek jarak itu.
Melalui lanskap, cerita, dan pengalaman yang dibawa para senimannya, Uruguay hadir lebih dekat. Bukan sekadar sebagai sebuah negara yang jauh di seberang samudra, tetapi sebagai ruang perjumpaan yang mengingatkan bahwa hubungan manusia dengan alam, tradisi, dan identitas adalah pengalaman yang bersifat universal.
“Di lain pihak, panorámica juga relevan di tengah dunia yang bergerak cepat dan dipenuhi citra instan. Ia mengajak kita untuk memperlambat cara melihat ketidakpastian, dan menyadari bahwa setiap lanskap menyimpan jejak kehidupan dan cerita di dalamnya,” kata Alam.***
