Catatan Musafir Laut di Era Kiwari
Ingatan saya seketika terlempar ke bulan Desember 1999. Saat itu, ditemani Pak Muhtar sang pengemudi setia dan putra pertama kami, Bagir, yang baru berusia tiga tahun, kami membelah ombak menuju Jakarta. Kendaraan yang kami tumpangil bukanlah kapal penumpang biasa, melainkan KM Niaga IX—sebuah kapal kargo yang memiliki fasilitas peti kemas berpendingin di bawah 0°C. Di dalam perut kapal itu, ikut serta sebuah Isuzu Panther high grade, perabotan rumah tangga, hingga sepeda onthel kesayangan yang siap memulai lembaran baru di ibu kota.
Siapa sangka, pengalaman menjadi musafir laut itu baru akan kami ulangi sekitar 27 tahun kemudian.
Dorongan untuk kembali menginjakkan kaki di atas geladak kali ini cukup istimewa: sebuah panggilan persaudaraan. Pada 14 Juni 2026, berlokasi di ruang megah Hotel Claro Makassar, para pendiri, pengurus dan anggota SAR Unhas menggelar perayaan Hari Ulang Tahun ke-40 SAR-Unhas, sebuah entitas bersejarah yang didirikan oleh Umar Arsal, Priyanto Sismadi, Bambang Edi Nugroho, Lili Irham Moeis, Bachtiar, Riady Bakri, Gener Wakulue, Frieds & Fernando Karangan, Laode Muhammad Syarif, Iwanov, Moh Revody (almarhum), Muh Taufiq Zaini, dan kawan-kawan lainnya.
Untuk menghadiri momen penting tersebut, pada tanggal 11 Juni 2026, diputuskan menumpang kapal milik Pelni, KM Labobar, dengan tujuan Pelabuhan Soekarno-Hatta Makassar
Romantisme Kelas Ekonomi dan Kearifan lokal yang Bertahan
Tiket KM Labobar ditebus melalui transaksi digital. Karena animo masyarakat yang tinggi, kami hanya kebagian Kelas Ekonomi bernomor kursi. Namun, syukurnya, justru di kelas ekonomi inilah kami menemukan denyut nadi Nusantara yang sesungguhnya.
Alhamdulillah, setelah puluhan tahun alpa, desiran angin laut, magisnya matahari terbit, dan temaramnya senja dari balik pagar geladak kembali menyapa. Selama lebih dari 48 jam pelayaran, ruang ekonomi menjadi teater sosial yang menakjubkan. Kami berjumpa dengan sesama perantau, khususnya diaspora Bugis-Makassar yang telah menetap jauh di Sumatera, tepatnya di Lampung. Hebatnya, meski lahir dan besar di tanah seberang, lidah mereka tetap fasih melantunkan bahasa daerah leluhur.
Di atas kapal ini pula, tradisi berbagi yang menjadi napas orang Bugis-Makassar terasa begitu pekat. Tanpa canggung, kami berbagi bekal perjalanan yang dirancang tahan banting menghadapi kelembapan udara laut. Ada penganan terbuat dari beras ketan yang disantap lahap bersama bajabu—serundeng kelapa berpadu ikan yang gurihnya meresap hingga ke sanubari. Kebersamaan yang ikhlas tanpa tendensi ini menjadi pelipur lara di tengah fasilitas kapal yang sesungguhnya masih menyimpan banyak “pekerjaan rumah”.
Harus diakui, Pelni telah melakukan inovasi. Akses masuk kapal kini jauh lebih manusiawi bagi penumpang lansia dengan hadirnya fasilitas menyerupai garbarata (belalai gajah) yang terhubung langsung ke Dek 4. Sayangnya, modernisasi akses ini tidak dibarengi dengan sanitasi yang paripurna. Kawanan kecoa kecil yang bebas berlarian di kabin, serta kondisi toilet yang acap kali kebanjiran, menjadi noktah hitam dalam romantisme pelayaran ini.
Ironi Ketepatan Waktu di Atas Dharma Nusantara 7
Setelah menuntaskan rindu dan silaturahmi di perayaan SAR-Unhas di Makassar, tiba saatnya untuk kembali melanjutkan perjalanan pulang ke arah barat menuju Surabaya. Mengingat tiket Pelni sudah ludes terjual, pilihan jatuh pada armada swasta milik Dharma Lautan Utama (DLU), yakni kapal Ro-Ro (Roll-on/Roll-odd) Dharma Nusantara 7.
Kapal raksasa ini bak kota terapung yang mampu menampung hingga 1.000 penumpang beserta puluhan truk logistik kelas berat. Meski lagi-lagi hanya bertengger di Kelas Ekonomi (kursi duduk), patut diapresiasi tingkat kebersihannya yang selangkah di depan kapal sebelumnya.
Namun, ujian kesabaran sesungguhnya bukan pada kebersihan, melainkan pada manajemen waktu operasional yang melenceng jauh dari muruahnya.
Di lembar tiket, jadwal keberangkatan tertera pukul 17.00 WITA dengan estimasi ketibaan di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya pada pukul 23.00 atau paling lambat 01.00 dini hari. Faktanya? Kapal baru melepas jangkar pukul 21.00 WITA. Waktu empat jam menguap begitu saja hanya untuk proses loading truk-truk raksasa ke dalam lambung kapal.
Imbasnya sangat fatal. Kami baru merapat di Surabaya pukul 06.30 pagi. Keterlambatan masif ini menciptakan efek domino yang merugikan. Banyak penumpang dengan rute transit menuju Jakarta, Banyuwangi, Semarang, hingga kota-kota lainnya harus menelan pil pahit karena tiket kereta api atau bus lanjutan mereka hangus tak bersisa.
Hal yang paling menyayat hati adalah nihilnya komunikasi dari pihak manajemen kapal. Tidak ada pengumuman dini, tidak ada permohonan maaf saat keterlambatan mulai terindikasi. Para penumpang dibiarkan meraba-raba dalam ketidakpastian.
Catatan Penutup : Menanti Simbiosis Mutualisme
Di tengah mahalnya harga tiket burung besi yang kian mencekik, jalur laut kembali menjadi urat nadi transportasi massal Nusantara. Fakta ini seharusnya menjadi momentum bagi penyedia jasa pelayaran—baik pelat merah maupun swasta—untuk berbenah secara revolusioner.
Standar kebersihan ruang publik dan kelayakan air harus dijaga ketat, kualitas sajian kuliner perlu dievaluasi, dan yang terpenting: transparansi informasi dan penghargaan terhadap waktu penumpang adalah harga mati yang tak bisa ditawar. Apabila jadwal meleset, komunikasikanlah sedini mungkin agar penumpang memiliki ruang untuk memitigasi kerugian.
Semoga kelak, pelayaran di negeri kepulauan ini tidak lagi sebatas wahana memindahkan raga, tetapi benar-benar menghadirkan simbiosis mutualisme: di mana maskapai pelayaran meraup untung yang berkah, dan para musafir laut bisa tiba di pelukan keluarga dengan perasaan utuh dan berbahagia.*****