Gaya berwisata pascapandemi berubah. Banyak orang mencari sesuatu yang lebih dari sekadar staycation saat liburan. Mereka menginginkan pengalaman yang mampu menghadirkan kebersamaan, petualangan, sekaligus kedekatan dengan alam dan budaya setempat.
Perubahan tren tersebut menjadi salah satu alasan Club Med memperkuat posisi di Asia Tenggara. Tidak hanya melalui transformasi resor yang sudah ada seperti di Bintan yang sepelemparan batu dari Singapura atau Bali favorit semua, tetapi juga melalui rencana ekspansi ke sejumlah destinasi baru yang tengah naik daun. Termasuk Manado di Sulawesi Utara, Borneo di Malaysia, dan Koh Samui di Thailand.
Manado, Permata Baru di Timur Indonesia
Kisah Club Med di Indonesia tampaknya benar-benar tidak akan berhenti di Bintan.
Dalam beberapa tahun terakhir, perhatian industri pariwisata global mulai bergeser ke Indonesia bagian timur. Di antara berbagai destinasi yang muncul, Manado menjadi salah satu nama yang paling sering disebut.
Dikelilingi perairan biru Sulawesi Utara, kota ini dikenal sebagai gerbang menuju Taman Nasional Bunaken: surga bagi penyelam dengan salah satu ekosistem laut terkaya di dunia. Namun, daya tarik Manado sesungguhnya jauh melampaui aktivitas bawah laut.
Pegunungan hijau, desa-desa tradisional, kuliner khas Minahasa, hingga akses menuju pulau-pulau tropis menjadikan kawasan ini memiliki kombinasi yang jarang ditemukan dalam satu destinasi.
Bagi operator resor internasional seperti Club Med, Manado menawarkan sesuatu yang semakin dicari wisatawan global. Pengalaman alam autentik yang masih relatif belum tersentuh dibanding destinasi wisata massal lainnya di Asia.
Jika rencana pengembangan ini terealisasi pada 2029, Manado berpotensi menjadi salah satu wajah baru pariwisata premium Indonesia di pasar internasional.
Borneo dan Kebangkitan Wisata Alam Berkelanjutan
Selain Manado, perhatian Club Med juga mengarah ke Borneo, pulau yang selama ini dikenal sebagai salah satu benteng terakhir hutan hujan tropis dunia. Tapi Borneo di sini terletak di belahan Malaysia.

Di era ketika wisatawan semakin sadar lingkungan, Borneo menawarkan daya tarik yang sulit ditandingi. Pengalaman bertemu satwa liar di habitat aslinya, menyusuri sungai-sungai purba, hingga menjelajahi kawasan konservasi yang menjadi rumah bagi orangutan dan beragam spesies endemik lainnya.
Tren wisata berbasis alam (nature-based tourism) terus meningkat secara global, dan Borneo berada di posisi yang ideal untuk menjawab kebutuhan tersebut.
Kehadiran resor berkonsep premium di kawasan ini —yang peresmiannya dijadwalkan November 2026 mendatang— berpotensi menghadirkan model pariwisata baru yang menggabungkan kenyamanan kelas dunia dengan prinsip konservasi dan keterlibatan masyarakat lokal.
Koh Samui, Babak Baru di Thailand
Sementara itu di Thailand, Club Med tengah mempersiapkan destinasi baru di Koh Samui, pulau tropis yang selama bertahun-tahun menjadi magnet wisatawan internasional.
Dikenal dengan pantai-pantai berpasir putih, teluk-teluk tersembunyi, serta atmosfer yang lebih santai dibanding Phuket, Koh Samui menawarkan kombinasi ideal antara relaksasi dan gaya hidup pulau yang elegan.

Masuknya Club Med ke destinasi ini mencerminkan strategi perusahaan untuk memperluas portofolio resor premium di lokasi-lokasi yang memiliki karakter kuat dan daya tarik jangka panjang.
Bagi wisatawan Asia Tenggara, kehadiran resort baru di Koh Samui pada 2028 juga membuka pilihan liburan yang semakin beragam, sekaligus memperkuat jaringan destinasi Club Med di kawasan.
Menuju Era Baru Liburan Keluarga
Tiga destinasi Asia di atas melengkapi ekspansi yang mencakup South Africa Beach & Safari (Juli ini); Tremblant (Kanada), San Sicario (Italia), dan Musandam (Oman) yang rencananya resmi dibuka pada 2028. Apa yang dilakukan Club Med hari ini sebenarnya mencerminkan perubahan yang lebih besar dalam industri pariwisata global.
Wisatawan tidak lagi hanya mencari kolam renang yang lebih besar atau kamar yang lebih mewah. Mereka menginginkan pengalaman yang mampu menghadirkan cerita, mempererat hubungan keluarga, serta memberikan makna yang lebih dalam selama perjalanan.
Pertama, memprioritaskan pemenuhan emosional (whycation), bukan sekadar lokasi geografis. Kedua, mengisi ruang-ruang ketiga (third space) yang dirasa esensial bagi kesehatan fisik dan jiwa seperti olahraga. Ketiga, hushpitality: terbebas dari penat akibat burnout atau terlalu banyak mengambil keputusan.
Dari pembaruan fasilitas di Bintan hingga rencana ekspansi ke Manado, Borneo, dan Koh Samui, arah yang dituju tampak jelas. Menghadirkan perjalanan yang bukan sekadar tentang destinasi, melainkan tentang bagaimana setiap anggota keluarga dapat pulang membawa kenangan yang akan bertahan jauh lebih lama daripada masa liburannya sendiri.
“Kami ingin membuktikan bahwa kemewahan sejati terletak pada kebebasan untuk kembali terhubung dengan alam, keluarga, dan diri sendiri,” ungkap CEO Club Med ESAP Rachael Harding.****