Di tengah laju Jakarta yang terus bertransformasi menuju era serbadigital, suara tawa, musik gambang kromong, dan dialog spontan khas lenong kembali menghidupkan suasana kampung Betawi. Lewat pertunjukan Lenong Kampung Te-Ko, masyarakat diajak menengok kembali nilai-nilai yang selama ini menjadi denyut kehidupan warga Jakarta: kebersamaan, keberanian, dan kepedulian terhadap sesama.
Dipentaskan oleh Sanggar Oplet Robet di Galeri Indonesia Kaya pada 20 Juni 2026, Lenong Kampung Te-Ko mengangkat kisah sederhana yang terasa dekat dengan realitas kehidupan perkotaan. Cerita berpusat pada sebuah kampung yang hidup rukun di tengah hiruk-pikuk kota besar.
Keharmonisan itu mulai terusik ketika sekelompok preman memanfaatkan kesulitan ekonomi warga demi kepentingan pribadi.
Menariknya, pertunjukan ini menyelipkan kritik sosial yang cukup tajam. Sosok preman tidak semata digambarkan sebagai mereka yang berpenampilan sangar dan urakan. Dalam kehidupan sehari-hari, figur serupa bisa hadir dalam berbagai bentuk, bahkan dari kalangan terdidik sekalipun. Yaitu mereka yang menyalahgunakan kewenangan atau menggelembungkan nilai atau angka demi keuntungan pribadi.
Dari konflik tersebut, penonton diajak menyadari bahwa persatuan dan solidaritas tetap menjadi kekuatan utama dalam menghadapi berbagai tantangan sosial.
Dikemas dalam gaya lenong Betawi yang ringan dan menghibur, pertunjukan berdurasi sekitar 60 menit ini memadukan humor segar, improvisasi para pemain, serta iringan musik tradisional yang akrab di telinga masyarakat. Kehadiran bintang tamu Rudi Sipit semakin menambah kehangatan suasana, menghadirkan pengalaman yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mengundang refleksi.
Di balik gelak tawa yang mengisi sepanjang pertunjukan, tersimpan pesan yang relevan bagi Jakarta hari ini. Ketika kota terus berkembang dan berubah, nilai-nilai kebersamaan yang tumbuh dari kehidupan kampung tetap menjadi fondasi penting yang tidak boleh hilang.
Tak heran jika lenong kembali menunjukkan perannya sebagai cermin kehidupan masyarakat. Dengan cerita yang dekat dengan keseharian, kesenian rakyat ini mampu menyampaikan kritik sosial sekaligus pesan moral dengan cara yang ringan, akrab, dan mudah diterima.
Jaga warisan budaya di tengah dinamika pemajuan Jakarta
Karya yang ditulis oleh Riyanto RA dan disutradarai oleh Maulana Firdaus ini dibawakan oleh 16 penampil dari Sanggar Oplet Robet, sebuah komunitas seni yang selama lebih dari dua dekade konsisten menjaga keberlangsungan budaya Betawi.
Berawal dari semangat para mantan anggota Teater Cagar Budaya pada 2001, kelompok yang awalnya bernama Ocehan Plesetan Rombongan Betawi (Oplet Robet) ini berkembang menjadi salah satu wadah penting bagi pelaku seni tradisi Betawi, mulai dari lenong, tari, hingga gambang kromong.
Pertunjukan Lenong Kampung Te-Ko merupakan bagian dari rangkaian perayaan Hari Ulang Tahun ke-499 Kota Jakarta yang digelar Galeri Indonesia Kaya sepanjang Juni 2026. Mengusung tema “Bergerak Menuju Era Baru Jakarta”, program ini menghadirkan berbagai pertunjukan seni Betawi sebagai upaya menjaga warisan budaya yang telah menjadi identitas kota.
Program Director Indonesia Kaya Renitasari Adrian mengatakan, perayaan HUT Jakarta menjadi momentum penting untuk menghidupkan kembali berbagai kesenian Betawi di tengah perkembangan kota yang semakin dinamis.
“Sebagai ruang publik budaya yang berkomitmen melestarikan dan memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia, kami ingin perayaan HUT ke-499 Jakarta di Galeri Indonesia Kaya menjadi momentum untuk menghidupkan kembali berbagai kesenian Betawi yang telah menjadi identitas kota ini,” ujarnya.
“Kami percaya transformasi Jakarta menuju era baru perlu berjalan seiring dengan upaya menjaga warisan budayanya. Melalui rangkaian pertunjukan seni Betawi, kami berharap semakin banyak masyarakat, khususnya generasi muda, dapat mengenal dan mengapresiasi budaya yang menjadi bagian dari perjalanan Jakarta.”
Jembatan tradisi dan generasi
Senada dengan hal tersebut, Riyanto RA selaku penulis naskah menilai bahwa lenong selalu memiliki kedekatan dengan kehidupan masyarakat Betawi.
“Lenong sejak dulu lahir dari kehidupan masyarakat Betawi. Melalui Lenong Kampung Te-Ko, kami ingin menghadirkan cerita yang dekat dengan keseharian masyarakat, sehingga penonton tidak hanya terhibur, tetapi juga dapat melihat kembali pentingnya kebersamaan, keberanian, dan kepedulian terhadap sesama di tengah perubahan kota yang terus berlangsung.”
Sementara itu, pimpinan Sanggar Oplet Robet, Ramdani atau yang lebih dikenal sebagai Qubil AJ mengungkapkan, pertunjukan ini dapat menjadi jembatan bagi generasi muda untuk lebih mengenal budaya Betawi.
“Kehadiran Oplet Robet berangkat dari kesadaran bahwa budaya Betawi membutuhkan ruang untuk terus hidup dan berkembang. Kesempatan untuk menampilkan Lenong Kampung Te-Ko di Galeri Indonesia Kaya menjadi kebanggaan tersendiri bagi kami, karena melalui panggung ini semakin banyak masyarakat, khususnya generasi muda, dapat mengenal dan mencintai kesenian Betawi,” tuturnya.
Ia berharap pertunjukan ini dapat menjadi pengingat bahwa di tengah perkembangan Jakarta menuju era baru, budaya Betawi tetap menjadi bagian penting dari identitas kota yang perlu terus dijaga bersama.
Selain Lenong Kampung Te-Ko, rangkaian perayaan HUT Jakarta di Galeri Indonesia Kaya sebelumnya juga menghadirkan pertunjukan Majoor Jantje: The Last Mardijkers oleh Salindia Teater dan Djantoek Reborn oleh Atien Kisam. Perayaan akan berlanjut melalui pertunjukan Penganten Keder oleh Sanggar Sinar Norray pada 27 Juni 2026.
Melalui berbagai pertunjukan tersebut, Galeri Indonesia Kaya kembali menegaskan bahwa perjalanan Jakarta menuju masa depan tidak hanya ditandai oleh pembangunan dan modernisasi, tetapi juga oleh kemampuan kota ini untuk menjaga akar budayanya tetap hidup dan relevan bagi generasi yang akan datang.