Ini bukan film. Ini kisah nyata tentang Lionel Messi dan Lamine Yamal. Tentang campur tangan takdir yang mempertemukan dua megabintang beda generasi di masa lalu. Sebelum keduanya berhadapan di final Piala Dunia 2026.
Tahunnya 2007. Media Katalan, Sport, mengadakan lotere untuk amal dengan sasaran orangtua dan bayi. Sponsornya UNICEF, lembaga PBB yang peduli kesejahteraan anak sedunia. Beberapa pemenangnya diundi. Hadiahnya berupa sesi foto bersama skuad utama Barcelona di Stadion Nou Camp.
Salah satu yang beruntung pasangan imigran Mounir Nasraoui (Maroko) dan Sheila Ebana (Equatorial Guinea). Untuk sesi foto, suami-istri dan bayinya itu dipasangkan dengan Messi, bintang muda Barca berusia 20 tahun.
Bayinya baru berusia lima bulan. Namanya Lamine Yamal Nasraoui Ebana.
Tidak, tidak. Ini bukan sekadar kebetulan. Ini takdir sedang membisikkan sebuah rahasia. Serupa teknik foreshadowing dalam penulisan naskah sastra atau film. Memberikan sedikit isyarat untuk sebuah cerita besar di masa depan. Orang baru sadar dan “mendadak ingat” pada fragmen kecil itu begitu gambaran kejadian terungkap sepenuhnya.
Messi mungkin sudah lupa jika ia pernah memandikan bayi bernama Lamine Yamal. Bercengkerama dan tertawa. Tulus dan nyata.
Fotografer Joan Monfort, yang bertugas mengabadikan keakraban dalam acara amal itu, juga lupa. Ia baru sadar saat Lamine Yamal membawa Spanyol juara Euro 2024. Sang ayah, Mounir, mengunggah foto jepretannya 17 tahun lalu dengan keterangan “Dua legenda bermula”.
“Sungguh takdir yang ajaib,” kata Monfort seperti dilansir BBC Sport.
“Ini serendipity. Keberuntungan yang indah—ketika Anda tidak mencari, tetapi menemukan sesuatu yang sangat berharga, lebih besar dari yang Anda kira. Bahkan bila diangkat jadi film pun ceritanya sulit dipercaya.”
Messi masih culun saat itu. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan sang bayi. Ia jelas tidak menduga bahwa kelak bayi itulah yang mengikuti jejak bintangnya. Paling dekat dengannya. Bagai bayangan.
Messi sejak usia 20 tahun dan seterusnya seumpama mercusuar bagi klub kebanggaan masyarakat Katalan tersebut. Menjulang tinggi, berkilauan, dan agung. Ia jadi panutan publik pecinta bola. Legenda yang tak tergantikan. The Greatest of All Time. Terbaik Selamanya. Sedunia.
Sementara itu, bayi bernama Lamine Yamal sudah tumbuh sehat dan kuat. Umur empat tahun, ia sudah masuk klub sepak bola lokal bernama La Torreta. Dua tahun bermain di level anak-anak, seorang pencari bakat menemukan dan mengundangnya untuk masa percobaan di La Masia.
Itu akademi kondang milik Barca. Sekolah sepak bola yang mencetak banyak pemain hebat seperti Andres Iniesta dan Xavi Hernandez, motor Spanyol saat juara Piala Dunia 2010. Messi juga jebolan La Masia.
Menginjak tujuh tahun, tepatnya pada 2014, Lamine Yamal resmi jadi murid akademi. Ia menapaki jalannya sendiri, semakin dekat menuju Messi. Menyerupai Messi.
Sekadar perbandingan. Tepat pada ulang tahun ke-19, Messi mencetak 11 gol dalam kariernya, juga juara La Liga dan Liga Champions. Lamine Yamal menginjak usia 19 tahun pada 13 Juli lalu. Ia sudah mengoleksi 56 gol, tiga kali juara La Liga, sekali Copa del Rey, dan Euro 2024.
Bagi Barca, Messi telah mengguratkan kenangan paling indah sepanjang 18 tahun berkarier di Nou Camp. Segala trofi, segala rekor. Semua terukir atas namanya. Lamine Yamal penerusnya. Nomor 10 milik sang legenda juga telah diwariskan kepadanya.
Dua bintang disentuh takdir. Dipertemukan secara ajaib. Dipertemukan sekali lagi di final Piala Dunia 2026. Messi, 39 tahun. Lamine Yamal, 19 tahun. Yang tua memimpin Argentina, yang muda menggalang permainan Spanyol. Messi menatap legasi. Lamine Yamal mencari pembuktian diri.
Dulu sekali, Messi pernah menimang Lamine Yamal dalam sebuah persilangan takdir yang tak terduga. Sekarang, biarlah takdir kembali menentukannya.