viral-membaca-makna-di-zaman-algoritma
| Ilustrasi oleh Ai
VIRAL : Membaca Makna di Zaman Algoritma
Muliadi Saleh - Esais Reflektif
Sun, 25 Jan 2026

Viral adalah gema. Ia lahir dari satu suara, lalu membesar karena dipantulkan oleh jutaan layar. Dalam hitungan menit, sebuah peristiwa melintasi ruang, menabrak kesadaran publik, dan menetap sejenak dalam ingatan kolektif. Di era digital, viralitas menjadi mata uang baru. Siapa yang viral, ia ada. Siapa yang luput dari linimasa, seakan tak pernah terjadi. 

Namun apa hakekat viral? Ia bukan sekadar popularitas, bukan pula jaminan kebenaran. Viral adalah mekanisme penyebaran. Hasil pertemuan antara emosi manusia dan logika algoritma. Yang menyentuh amarah, ketakutan, haru, atau sensasi, akan lebih cepat berlari. Algoritma bekerja tanpa nurani. Ia hanya membaca interaksi. Manusialah yang memberi makna. Atau justru kehilangan makna di dalamnya. 

Viralitas kini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Bencana, prestasi, kesalahan, bahkan aib, hidup berdampingan di linimasa yang sama. Peristiwa tak lagi menunggu waktu untuk dipahami. Ia dituntut segera dibagikan. Kamera lebih cepat dari refleksi. Jempol mendahului pikiran. Dunia seakan bergerak dengan satu perintah tak tertulis: cepat, sebelum terlambat. 


Di sisi baiknya, viralitas mampu membuka ruang keadilan. Kasus yang terabaikan bisa menemukan perhatian. Suara kecil dapat terdengar. Solidaritas bisa terkumpul dalam waktu singkat. Banyak kebaikan lahir dari viralitas atas donasi terkumpul, ketidakadilan disorot, dan empati lintas batas tumbuh. 

Namun di sisi gelapnya, viralitas juga menjadi pisau bermata dua. Ia dapat melukai martabat, memelintir fakta, dan menghancurkan kehidupan seseorang tanpa proses yang adil. Yang viral tak selalu benar, dan yang benar sering kali tak viral. Dalam logika ini, kebenaran dipaksa pandai menari agar dilirik. 

Masalah utama viralitas terletak pada banjir informasi tanpa kebijaksanaan. Kecepatan mengalahkan verifikasi. Emosi mengalahkan nalar. Akibatnya, hoaks mudah menyebar, penghakiman massal terjadi, dan ruang publik berubah menjadi arena perburuan sensasi. Tantangan terbesar kita bukan kekurangan informasi, melainkan kekurangan kebijaksanaan dalam mengelolanya. 

Lalu bagaimana sikap agar viral tak membawa mudarat? Pertama, jeda. Menunda beberapa detik sebelum membagikan adalah bentuk perlawanan paling sederhana terhadap tirani algoritma. Kedua, niat. Bertanya pada diri sendiri. Apakah ini untuk menolong, atau sekadar ingin menjadi bagian dari keramaian? Ketiga, empati. Bahwa di balik setiap konten, sadari bahwa ada manusia dengan luka, keluarga, dan masa depan. Keempat, literasi. Memeriksa sumber, konteks, dan dampak sebelum menyebarkan. 

Viralitas sejatinya adalah ujian etika di zaman digital. Ia menantang kita untuk tetap manusia di tengah mesin, tetap berakal di tengah arus, dan tetap beradab di tengah keramaian. Viral boleh datang dan pergi, tetapi jejak moral dari apa yang kita bagikan akan tinggal lebih lama dari trending topic mana pun. 

Pada akhirnya, bukan soal apakah kita bisa membuat sesuatu menjadi viral, melainkan apakah kita mampu menjaga nurani tetap hidup di tengah dunia yang riuh oleh viralitas. Sebab di zaman ketika segalanya ingin viral, yang paling berharga justru adalah kebijaksanaan untuk memilih apa yang pantas dibagikan dan apa yang sebaiknya diredam demi kemaslahatan bersama.***

Share
Nyonya Secret

Pilihan Redaksi

Berita Terpopuler

Berita Terbaru