songkok-recca-cara-masyarakat-bugis-mempertahan-filosofi-hidup
| Foto YuSUF AHMAD
FESTIVAL & CULTURE
Songkok Recca, Cara Masyarakat Bugis Mempertahan Filosofi Hidup
By Yusuf Ahmad
Mon, 09 Mar 2026

Jemari lentik milik Ibu Hj Suryani menganyam helai demi helai serat Lontar, hingga satu per satu serat itu menyatu, membentuk bulatan. Butuh ketelitian dan kesabaran untuk menyelesaikannya, karena semua dikerjakan secara manual, hingga menghasilkan Songkok Recca yang tidak hanya memiliki nilai fungsi, tetapi juga nilai estetika dan filosofi bagi setiap penggunanya. Inilah salah satu kerajinan budaya Bugis yang diwariskan secara turun-temurun. Para pengrajin terus mempertahankan tradisi sekaligus menjadikannya sebagai sumber penghidupan.

Di sebuah kampung yang tak jauh dari Kota Watampone, Sulawesi Selatan, tepatnya di Kelurahan Polewali, Kecamatan Tanete Riattang Barat, Ibu Hj Suryani Bersama suaminya Azis Taba, membuat usaha kerjainan Songkok Recca. Mereka tidak sendirii, setidaknya ada belasan rumah warga yang juga membuat usaha kerajinan yang sama. 

Pagi itu, Saya bersama seorang teman dari Bone dan ditemani driver, menuju ke lokasi pengrajin. Jalanan menuju ke kampung itu cukup mulus, aspal beton. Di kiri dan kanan, hamparan sawah terbentang luas, diselingi rumah-rumah panggung sederhana khas Bugis. 
Sekitar 20 menit Kami sudah tiba di lokasi. Begitu memasuki kawasan pengrajin, belasan wanita menyambut dengan pakaian adat Bugis. Mulai dari gadis hingga wanita separuh baya. Ternyata mereka semua adalah pengrajin Songkok Recca. Dari balik rumah perpaduan kayu dan beton, tampak para pengrajin duduk bersila, tekun merangkai bahan demi bahan dengan teliti. 
Di kampung ini, kerajinan Songkok Recca bukan sekadar mata pencaharian. Ia adalah warisan, diturunkan dari orang tua kepada anak, dari generasi ke generasi. Setiap pola, setiap bentuk, memiliki makna. 


Dari cerita Ibu Suryani dan Pak Azis Taba, terungkap bahwa proses pembuatan sebuah karya bisa memakan waktu berhari-hari dan semua dikerjakan secara manual, mengikuti cara-cara lama. Bahan dan pewarnaan pun masih alami. Warna hitam misalnya, diambil dari bahan kulit jambu mente. 

“Menjaga keaslian proses adalah bentuk penghormatan terhadap leluhur dan identitas Suku Bugis,” Ujar Pak Azis Taba.

Bahan dasar Songkok Recca ini pun tidak terlalu sulit. Bahan utamanya adalah serat batang lontar yang dipilih khusus yang dikeringkan dan diserut menjadi serat halus (recca). Kemudian direndam dan dijemur agar lentur dan kuat. Selain itu ada juga hiasan benang halus emas dan perak serta kain sebagai bahan tambahan. Satu buah Songkok Recca bernilai 70 ribu hingga 3,5 juta rupiah. Bahkan Pak azis mengaku ada pelanggan yang memesan satu buah Songkok Recca berbahan emas senilai 250 jt.

Beberapa tahun belakang ini, Pak Azis bersama Istrinya berkesempatan memarkan hasil kerajinannya hingga ke Eropa, diantaranya ke Berlin, Swiss, Austria, hingga ke Paris.


“Alhamdulillah ada 50 buah Songkok Recca yang terjual, semuanya dibeli oleh tamu-tamu dari manca negara,” ungkap Ibu Suryani.

Songkok Recca Bone, menjadi salah satu bagian busana pria khas masyarakat Bugis, yang sudah digunakan sejak masa Kerajaan Bone, sekitar abad ke-16. Dikenal sebagai identitas budaya Bone dan bagian penting dari busana adat Bugis. Songkok Recca, bukan sekadar aksesori, tapi sarat sejarah, identitas, dan filosofi hidup bagi orang Bugis. 

Kata “recca” Sendiri dalam bahasa Bugis berarti serat/anyaman dari pohon lontar. Awalnya, songkok Recca hanya dipakai oleh bangsawan dan pejabat Kerajaan Bone saja. Dan 
menjadi simbol kedudukan sosial dan kehormatan ketika itu. Namun sekarang, sudah banyak digunakan oleh Masyarakat Umum. Baik tokoh masyarakat, kalangan pejabtan pemerintahan, bahkan para ulama juga sudah mulai menggunakannya. Terutama pada saat acara budaya dan pesta pernikahan. 
Banyak yang menafsirkan tentang filosofi Songkok Recca. Salah satunya filosofi Sipakatau, yang berarti saling memanusiakan. Anyaman recca yang saling terkait melambangkan manusia yang tidak bisa hidup sendiri. Pentingnya saling menghargai dan menghormati sesama. Siri’, yang berarti harga diri dan kehormatan. Menjunjung tinggi martabat serta menjaga kehormatan diri, keluarga, dan leluhur, karena Songkok dipakai di kepala, bagian paling mulia dari tubuh. Itulah sebabnya orang Bugis percaya istilah “Lebbi’ mate siri’ na lopi’” yang berarti lebih baik mati daripada kehilangan harga diri.

Bukan hanya itu, Songkok Recca juga mengandung filosofi kejujuran dan kesederhanaan yang dilambangkan dari warna songkok recca yang alami, yakni hitam, dan emas. Serta filosofi kearifan lokal dan ketekunan karena dalam proses pembuatannya yang rumit dan teliti mencerminkan kesabaran, kerja keras, konsistensi dalam menjaga tradisi.

Cukup lama kami berbincang-bincang dengan Ibu Suriyani. Segelas kopi hitam yang tersaji tak terasa ludes sudah. Menjelang siang cahaya matahari mulai terik. Aktivitas mulai melambat. Para pengrajin yang hampir semuanya adalah wanita bersiap untuk istirahat. Sejumlah karya Songkok Recca sudah tersusun rapi dalam pajangan, siap untuk dipasarkan. 
Meski Kelurahan Polewali bukan satu-satunya tempat pembuatan kerajinan Songkok Recca di Kabupaten Bone, namun desa ini telah menjadi ruang pendidikan kultural yang hidup bagi Masyarakat Bone.***

Artikrl ini juga bisa dibaca di : Majalah LIONAIRGROUP edisi Maret-April 2026

Share
Banner Odhua
Nyonya Secret
Ciputral Hotel JKT

Pilihan Redaksi

Berita Terpopuler

Berita Terbaru