terpukau-sabu-raijua-pulau-eksotik-di-ujung-ntt
| Foto Imran Rosadi
Destination
Terpukau Sabu Raijua, Pulau Eksotik di Ujung NTT
By Imran Rosadi
Tue, 10 Mar 2026

“Sekitar tujuh sampai delapan jam, Pak,” jawab seorang ABK singkat.

Kalimat yang menjadi pembuka perjalanan kami bersama KM Cantika Lestari dari Pelabuhan Tenau, Kupang, menuju Pulau Sabu Raijua, sebuah pulau kecil di selatan Nusa Tenggara Timur pulau yang mungkin masih sangat jarang terdengar oleh sebagian wisatwan, pulau yang bahkan di peta Indonesia, tampilannya sangat kecil. 

Kabupaten Sabu Raijua, atau lebih dikenal dengan Pulau Sabu, adalah salah satu pulau eksotik di ujung NTT. Tempat ini seperti surga tersembunyi Indonesia, menyimpan kekayaan alam, bentang lanskap unik, serta budaya yang masih terjaga kuat. Selain tranposrtasi menggunakan kapal laut, Pulau ini juga dapat diakses menggunakan peasawat perintis melalui Bandar Udara Tarnamu.

Sambutan Hangat di Pulau Sabu

Kali ini saya bersama rombongan Potret Indonesia melakukan perjalanan tour fotografi ke Pulau Sabu. Tujuan kami tentu ingin mengabadikan pesona alam, budaya, dan kehidupan masyarakat lokal melalui lensa kamera.

Setelah menempuh perjalanan laut selama kurang lebih delapan jam, kapal akhirnya bersandar di pelabuhan. Pagi itu Pulau Sabu menyambut kami dengan cahaya matahari lembut dan keramahan warganya. Beberapa pemandu lokal yang telah kami hubungi sebelumnya sudah menunggu, mengantar rombongan untuk check-in di hotel sebelum kami mulai menyusuri pulau seluas sekitar 400 km² ini.


Dari Goa ke Pantai

Destinasi pertama kami adalah Goa Mabala, yang terletak di Desa Eimau, Sabu Tengah, sekitar 11 kilometer dari Seba. Goa ini memikat dengan formasi stalaktit dan stalagmitnya yang unik, dipadu akar-akar pohon yang menjuntai serta warna-warna cerah pada dinding goa.

Waktu terbaik berkunjung adalah siang hari, ketika matahari berada tepat di atas. Cahaya yang masuk melalui lubang di bagian atas goa menciptakan sorotan dramatis, sebuah momen yang sangat dinanti para fotografer.

Dari Goa Mabala, perjalanan berlanjut ke Pantai Rae Mea. Lagi-lagi Pulau Sabu menunjukkan pesonanya, hamparan pasir putih, tebing-tebing alami, dan laut biru jernih membentang sejauh mata memandang. Meski matahari terasa terik, semangat kami untuk memotret tak sedikit pun surut.

Di pantai ini kami menemukan kerang-kerang besar (kima) yang oleh masyarakat lokal dimanfaatkan sebagai wadah pembuatan garam tradisional. Keberuntungan berpihak pada kami, anak-anak setempat sedang asyik bermain di tepi pantai, menambah cerita dan dinamika visual dalam bingkai foto kami. Pantai-pantai di timur Indonesia memang jarang mengecewakan.

Kelabba Madja: Grand Canyon-nya Pulau Sabu

Destinasi pamungkas kita adalah Kelabba Madja, salah satu ikon Pulau Sabu yang sejak awal menjadi tujuan utama perjalanan kami. Lanskapnya sering disebut menyerupai Grand Canyon, dengan bukit dan tebing berlapis yang memiliki gradasi warna menawan.

Dari area parkir, kami berjalan sekitar 50–60 meter hingga panorama luar biasa terbentang di hadapan. Tebing-tebing unik berpadu dengan lanskap hijau di sekitarnya, menggoda siapa pun untuk terus menekan tombol rana.


Tak puas hanya di siang hari, kami memutuskan kembali ke Kelabba Madja pada malam hari. Setelah berkoordinasi dengan pemandu lokal dan mengantongi izin, sekitar pukul dua dini hari kami dating Kembali untuk berburu foto Milky Way. Meski jarak tempuh dari hotel cukup jauh, langit malam Pulau Sabu membayar lunas segala lelah. Tanpa terasa, matahari pun terbit di ufuk timur.

Kampung Adat Namata

Sebelum kembali beristirahat, kami singgah di Kampung Adat Namata di Desa Raeloro. Kampung ini dikenal sebagai kampung megalit dan pernah meraih Anugerah Pesona Indonesia 2020. Batu-batu besar, rumah adat, dan suasana kampung menghadirkan perjalanan lintas waktu, sebuah penutup sempurna sebagai pelengkap foto-foto tentang budaya di pulau ini.

Hari kedua setelah beristirahat di hotel, perjalanan kami lanjutkan ke Taman Doa Skeber, yang memiliki ikon patung Yesus setinggi sekitar 20 meter. Tempat ini dulunya merupakan benteng pertahanan buatan Belanda pada tahun 1914. Selain patung-patung rohani, masih tersisa peninggalan kolonial seperti meriam dan struktur benteng yang kokoh.



Sebagai penutup perjalanan, kami menghabiskan waktu di Pantai Seba, tak jauh dari pelabuhan. Menyaksikan matahari terbenam di sela aktivitas masyarakat setempat menjadi momen reflektif sebelum kapal membawa kami kembali ke Kupang.

Terpukau di Ujung NTT

Pulau Sabu mungkin belum terlalu akrab di telinga sebagian besar masyarakat Indonesia. Namun pulau ini layak menjadi tujuan utama bagi siapa pun yang ingin menemukan pesona alam eksotik dan budaya yang autentik. Kami sungguh terpukau di Pulau Sabu, sebuah pengalaman berharga dan kesempatan langka untuk mengabadikan surga tersembunyi di ujung Nusa Tenggara Timur.***

Share
Banner Odhua
Nyonya Secret
Ciputral Hotel JKT

Pilihan Redaksi

Berita Terpopuler

Berita Terbaru