setelah-nobar
| Ilustrasi Ai
World Cup FIFA
SETELAH NOBAR
By M Asri Arief
Mon, 20 Jul 2026

Perhelatan pentas sepak bola dunia berakhir hari ini, skuad yang dijuluki La Furia Roja (Si Merah Penuh Amarah), benar-benar "marah”dan menaklukkan sang juara bertahan Albicelestes Argentina dengan skor 1-0 di laga grand final. Tabulasi peringkat sepak bola global pun teracak, tim asuhan Luis de la Fuente berhasil merebut trofi juara dunia untuk kedua kalinya.

Semula duel dinilai bakal seru, ternyata hanya berlangsung datar. Spanyol terlihat menguasai ritme permainan, lambat laun laga berlangsung alot malah cenderung panas.Wasit asal Slovenia, Slavko Vincic, terpaksa obral kartu setidaknya satu kartu merah dan tujuh kartu kuning. Memasuki extra time kedua kubu hanya sesekali saling serang, olah bola dan operan ke pertahanan lawan tidak layaknya sebuah pertandingan di partai puncak. Pertandingan di Stadion MetLife New York Amerika Serikat tersebut, tidak tuntas menyajikan gaya Total Football ala Eropa dengan gerak Jogo Bonito khas Amerika Latin.

Kemenangan skuad La Furia Roja Spanyol bermula dari inisiatif serangan yang dimanfaatkan oleh Nico Williams dan menyundul bola ke arah Ferran Torres, sekali sepakan pun langsung memperdaya kiper Emiliano Martinez pada menit ke-105. Spontan euforia kemenangan Timnas Spanyol merebak, termasuk histeria pencinta bola yang menyaksikan melalui layar kaca TVRI di berbagai tempat Nonton Bareng (Nobar).

Khusus di Indonesia, sejarah nobar menjadi budaya sosial yang telah mengakar sejak siaran televisi pertama TVRI pada tahun 1962, kemudian berkembang menjadi ajang komersial pada tahun 1978. Saat tayang laga grand final, kebetulan Penulis berada di Kota Kupang Nusa Tenggara Timur. Nobar di Kota Karang, tercatat digelar di lebih dari 200 titik termasuk lokasi publik resmi. Dapat dipastikan, gebyar nobar di wilayah lain pun berjumlah sama dan bisa jadi lebih, karena sepak bola telah menjadi fenomena global yang merakyat.

Suara supporter dari pentas nobar di gang-gang perkampungan padat penduduk, kafe hingga ke tempat elit yang biasa sesak dengan peserta nobar kini kembali sepi. Tersisa deretan meja/kursi, cangkir kosong dan tentu saja sampah, sebagai bukti membludaknya peserta nobar. Semua kembali pada rutinitas, pesta empat tahunan itu pun hanya menyisakan cerita-cerita indah. Terbukti, magik sepak bola tetap sebagai olah raga paling favorit, merakyat karena tidak butuh biaya yang tinggi dan mudah untuk dimainkan (low barrier to entry).

Harapan setelah nobar, filosofi sepak bola tetap melekat dalam rutinitas kehidupan sosial. Jika gemuruh nobar hanya sebatas sembilan puluh menit waktu normal untuk menyaksikan sebuah kerja sama tim, sportivitas, daya juang yang pantang menyerah dan rasa saling menghargai di lapangan hijau. Maka filosofi dan pelajaran yang tersirat dari sepak bola bahwa menjadi juara bukan hanya tentang bakat, melainkan juga terkait sikap dan mentalitas, sepatutnya terdiseminasi dalam diri agar mumpuni melakoni kehidupan di lapangan yang lebih luas. Saat ini, kita tidak lagi sebagai penonton, melainkan sebagai "pelaku bareng” untuk menata dan menjalani kehidupan yang lebih harmoni.(*)

Penulis, pencinta sepak bola.

Share
Nyonya Secret

Pilihan Redaksi

Berita Terpopuler

Berita Terbaru