senjakala-argentina-andaikan-messi-pergi
| Ilustrasi oleh Ai
World Cup FIFA
Senjakala Argentina: Andaikan Messi Pergi
By Dani Wicaksono
Tue, 21 Jul 2026

Setiap hal baik pasti akan berakhir. Itu hukum alam. Lionel Messi adalah hal baik bagi Argentina. Suatu hari nanti, ia akan gantung sepatu dan publik sepak bola dunia bakal kehilangan salah satu legenda. Khususnya bagi Albiceleste. Khususnya lagi di ajang Piala Dunia 2030.

Belum lama berselang, dunia sudah kehilangan Cristiano Ronaldo. Ia mengatakan tak dapat memperkuat Portugal di edisi 2030. Usianya bakalan menginjak 45 tahun. Messi saat ini sudah 39 tahun. Kemungkinan besar, ia pun tidak bisa ikut dalam turnamen empat tahun mendatang.

Andaikata bersedia dipanggil, sulit rasanya mengharapkan Messi dapat menampilkan performa terbaik seperti sekarang.

Sepanjang Piala Dunia 2026, Messi tampil cemerlang. Seolah usia tidak berarti apa-apa. Delapan laga, delapan gol, dan empat assist. Argentina mencapai final dua kali beruntun. Sayang sekali, mereka gagal juara lagi. Kalah 0-1 lawan Spanyol.

Andaikan juara, Messi pasti mendapat penghargaan sebagai Pemain Terbaik Turnamen. Persis ketika mereka mengangkat trofi Qatar 2022.

Benar. Messi adalah pemain terbaik dunia. Ketenarannya dimulai semenjak umur 18 tahun, saat membawa Argentina juara Piala Dunia U-20 2005. Selanjutnya adalah cerita indah seorang bocah dari Rosario. Banyak kalangan menilai Messi bahkan lebih baik dari Diego Maradona, sang legenda Argentina. Ia adalah “nyawa” Argentina ketika juara Olimpiade 2008, Piala Dunia 2022, Copa America 2021 dan 2024, serta Finalissima 2022.

Tak tergantikan. Namun, batasan usia prima barangkali sudah lewat bagi Messi. Piala Dunia 2026 adalah kesempatan terbaik dan mungkin terakhirnya. Gerbang perpisahan dengan timnas semakin dekat.

Lionel Scaloni, pelatih Argentina, tengah mempertimbangkan masa depannya seusai gagal juara Piala Dunia 2026. Namun, sebagian kalangan berharap ia bertahan. Ia adalah figur pelatih yang dapat memberikan “jawaban” jika kelak Messi benar-benar meninggalkan panggung sepak bola internasional.

Scaloni (48 tahun) menjadi asisten pelatih dari Jorge Sampaoli, yang membesut Albiceleste pada 2016-2018. Ia pernah ditunjuk sebagai pelatih timnas Argentina U-20. Ia paham betul materi pemain generasi Messi dan generasi berikutnya.

Ditunjuk sebagai pelatih tim utama pada 2018, Scaloni menekankan filosofi kepelatihan “kebersamaan dan persahabatan”. Ikatan emosional antara para pemain diperkuat. Ini untuk kepentingan komunikasi di lapangan. Begitu komunikasi lancar, peran masing-masing pemain dalam tim bakal terpenuhi.

Landasan itu membuat Argentina berjaya di lapangan. Scaloni mencatatkan 104 pertandingan bersama skuad utama. Argentina menang 76 kali, imbang 18 kali, dan kalah 10 kali. Rekor kemenangannya adalah 73,08%.

Selama melatih, ada kalanya Scaloni tidak menurunkan Messi dalam pertandingan resmi. Setidaknya 24 laga dimainkan Argentina tanpa kehadiran sang kapten. Albiceleste mengamankan 18 kemenangan, tiga kali seri, dan tiga kali kalah. Rerata kemenangan sebesar 75%.

Dengan Messi, Argentina bermain 70 kali. Menang 53 kali, imbang 11 kali, kalah enam kali. Rerata kemenangan sebesar 76%.

Hanya selisih satu persen. Itu catatan yang hebat. Dengan kata lain, pasukan Argentina di tangan Scaloni sangat kuat—dengan atau tanpa Messi. Ada Messi, Albiceleste bermain luar biasa. Tanpa Messi, hasilnya tak jauh beda.

Premis itulah yang menjadi jawaban ketika pada saatnya nanti Messi melambaikan salam perpisahan kepada timnas Argentina.

Scaloni atau pelatih lain berikutnya harus menyusun formasi baru. Darah muda seperti Nico Paz dan Franco Mastantuono barangkali akan menjadi tumpuan di lini serang. Enzo Fernandez dan Alexis Mac Allister akan menjadi poros serangan. Giuliano Simeone dan Valentín Barco juga akan dipasang semakin kerap—keduanya menjadi pengganti ketika para senior kelelahan atau cedera di Piala Dunia 2026.

Duet lini belakang, Cristian Romero dan Lisandro Martínez, selalu jadi andalan. Sementara, penyerang Inter Milan Lautaro Martinez (28 tahun) akan mengambil peran pendobrak berikutnya. Ia mencetak 40 gol dalam 84 penampilan bersama timnas sejak 2018.

Messi bermain 207 kali untuk Albiceleste dan menorehkan 125 gol. Selama tampil dalam enam edisi Piala Dunia (2006-2026), ia menjadi kontributor terbaik sepanjang masa dengan 21 gol dan 12 assist.

Argentina jelas berbeda tanpa seorang Messi. Namun, jika menakar performa kepelatihan Scaloni, Argentina tak akan melemah di masa depan.

Share
Nyonya Secret

Pilihan Redaksi

Berita Terpopuler

Berita Terbaru