orfeus-jadi-pembuka-sipfest-2026-rayakan-asia-di-dunia-panggung-seni-pertunjukan
Ening Nurjanah dan Iedil Dzuhrie Alaudin dalam konferensi pers SIPFest 2026 di Serambi Salihara, Jakarta. | Dok Devy Lubis
Movie & Music
Orfeus Jadi Pembuka, SIPFest 2026 Rayakan Asia di Dunia Panggung Seni Pertunjukan
By Devy Lubis
Wed, 29 Jul 2026

Bulan depan, panggung Komunitas Salihara akan menjadi titik temu berbagai cerita dari Asia. Bukan sekadar festival seni pertunjukan, Salihara International Performing-arts Festival (SIPFest) 2026 mengajak penonton menyaksikan bagaimana tari, musik, teater, puisi, hingga teknologi saling bertemu dalam satu tema besar ‘asiaria’, 1–30 Agustus 2026.

Direktur festival Ening Nurjanah mengatakan, tema ‘asiaria’ lahir dari keinginan untuk merayakan sekaligus ‘meriakan’ karya-karya seniman Asia dan diaspora Asia. Menurutnya, wajah festival tahun ini terasa berbeda karena semakin banyak seniman Asia yang secara alami hadir dalam proses kurasi selama dua tahun terakhir.

Hasilnya adalah sebuah festival yang mempertemukan nama-nama penting dari berbagai negara. Ada kelompok butoh legendaris Sankai Juku dari Jepang, seniman multidisiplin Ho Rui An dari Singapura, sutradara teater Wang Chong dari China, hingga duo komponis Monica Lim dan Mindy Meng Wang dari Australia dan China. 

Mereka akan tampil berdampingan dengan sederet seniman Indonesia seperti Melati Suryodarmo, Rukman Rosadi, Siko Setyanto, dan kelompok musik KUNTARI. Menciptakan dialog artistik yang melampaui batas negara dan bahasa.

Festival dibuka oleh sebuah karya yang memiliki perjalanan panjang, ’Orfeus’ garapan koreografer Melati Suryodarmo yang terinspirasi dari sajak karya Goenawan Mohamad ‘Orfeus’ bukan karya baru. Pertunjukan ini pertama kali diproduksi Komunitas Salihara bersama Melati Suryodarmo dan Studio Plesungan, Solo, pada 2019. 

Rencana membawanya berkeliling ke berbagai kota sempat tertunda akibat pandemi. Enam tahun kemudian, karya tersebut akhirnya kembali ke panggung sebagai pembuka SIPFest 2026.

Bagi Ening, momentum ini terasa tepat. ‘Orfeus’ mencerminkan semangat ‘asiaria’. Memperlihatkan bagaimana berbagai disiplin seni dapat melebur menjadi satu pengalaman yang utuh.

"Orfeus bukan hanya tari," ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta, 24 Juli 2026.

Di dalam pertunjukan berdurasi sekitar satu jam itu, gerak tubuh berdialog dengan pembacaan puisi oleh Rebecca Kezia. Musik dimainkan langsung oleh pianis Sri Hanuraga. Tata visual didukung para penari Solo bimbingan Melati Suryodarmo.

Semua elemen tersebut berpadu membentuk sebuah dance theatre, di mana setiap gerakan menjadi cara lain untuk menerjemahkan puisi ke atas panggung.

“Karya ini merupakan salah satu contoh kolaborasi beberapa multidisiplin. Ada musik, tari, pembacaan karya, lalu ada video,” kata Ening. “Jadi bukan hanya gerak tubuh sebagai tari, tapi gerak tubuh yang bercerita merepresentasikan puisi ‘Orfeus’.”

Bagi penonton, pengalaman ini terasa seperti memasuki ruang di mana sastra, musik, dan tari saling melengkapi. Tubuh tidak lagi sekadar bergerak mengikuti irama, tetapi menjadi medium untuk mengisahkan kembali mitologi dan makna yang tersembunyi di balik petikan-petikan sajak.

Setelah pembukaan, perjalanan artistik dilanjutkan dengan 10 program utama yang menawarkan pengalaman berbeda-beda. Ho Rui An akan menghadirkan Figures of History and the Grounds of Intelligence, sebuah lecture performance yang mengeksplorasi hubungan antara sejarah, teknologi, dan kecerdasan artifisial. 

Pertunjukan lain mengajak penonton menikmati butoh khas Jepang, teater eksperimental, komposisi musik kontemporer, hingga karya-karya yang menggabungkan media digital dengan pertunjukan langsung.

Keberagaman inilah yang membuat SIPFest 2026 terasa istimewa. Festival ini tidak hanya menghadirkan karya dari berbagai negara Asia, tetapi juga memperlihatkan bagaimana seni terus berkembang melalui kolaborasi lintas disiplin dan lintas budaya.

Di tengah dunia yang semakin saling terhubung, ‘asiaria’ mengingatkan bahwa panggung seni masih menjadi salah satu ruang terbaik untuk saling mendengar. 

Lewat tubuh, suara, puisi, musik, dan teknologi, para seniman menawarkan cara baru untuk memahami Asia. Bukan sebagai satu identitas tunggal, melainkan sebagai kumpulan cerita yang terus bergerak dan saling bertemu.

“Makanya harus nonton langsung. Selain sebagai apresiasi terhadap seniman, dengan menonton langsung kita akan mendapatkan pengalaman, mendapatkan feel-nya,” kata Ening.

Share
Nyonya Secret

Pilihan Redaksi

Berita Terpopuler

Berita Terbaru