Di Salihara, menonton bukan berarti duduk diam hingga lampu panggung padam. Di salah satu pertunjukan, penonton akan menjadi bagian dari para performer. Di pertunjukan lain, panggung berubah menjadi ruang tempat puisi, musik, dan tari saling bertukar peran. Bahkan, ada karya-karya yang belum selesai sepenuhnya, tapi justru mengundang penonton ambil bagian memberi pandangan.
Pengalaman seperti itulah yang ingin dihadirkan Salihara International Performing-arts Festival (SIPFest) 2026. Selain menghadirkan seniman-seniman dari berbagai negara Asia, festival ini juga menawarkan cara menikmati seni yang berbeda di setiap pertunjukannya. "Setiap karya akan memberikan pengalaman yang berbeda," ujar direktur festival, Ening Nurjanah.
Menurutnya, beberapa karya jadi sorotan utama tahun ini. Masing-masing menghadirkan pengalaman yang benar-benar berbeda, baik dari sisi artistik maupun tata ruang pertunjukan.
Ada ‘Orfeus’ karya Melati Suryodarmo yang memadukan tari, puisi, musik, dan visual dalam format dance theatre. Ada ‘Nadirah’, produksi teater lintas negara yang mempertemukan Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Sementara ‘Opera for the Dead’ menawarkan pengalaman imersif yang menghapus batas antara penonton dan performer.
Yang terakhir bahkan akan mengubah total wajah Black Box Salihara.
"Kami tidak akan menggunakan kursi sama sekali. Penonton akan bergabung bersama para penampil," kata Ening.
Karya ciptaan Monica Lim dan Mindy Meng Wang itu memadukan permainan guzheng, vokal, musik elektronik, serta animasi tiga dimensi. Ini akan menjadi pengalaman yang mengeksplorasi duka dan ritual kematian. Sementara tata ruangnya sengaja dirancang agar penonton tidak hanya menyaksikan, tetapi ikut merasakan atmosfer pertunjukan dari dalam.
Sorotan lain datang dari ‘Nadirah’. Produksi terbaru Komunitas Salihara ini mempertemukan naskah karya Alfian Sa’at dari Singapura, sutradara Iedil Dzuhrie Alaudin dari Malaysia, serta para aktor Indonesia yang tergabung dalam AKSARA, alumni Kelas Akting Salihara seperti Runny Rudiyanti, juga Sita Nursanti.
Setelah dipentaskan di Singapura, Kuala Lumpur, dan Tokyo, lakon ini akhirnya hadir untuk pertama kalinya di Jakarta dengan seluruh pemain Indonesia.
Kisahnya mengikuti pergulatan seorang perempuan Muslim muda yang berhadapan dengan persoalan iman, keluarga, cinta, dan pencarian identitas. Tema yang terasa dekat dengan kehidupan masyarakat Asia, termasuk Indonesia.
Bagi Ening, kolaborasi tiga negara ini menjadi salah satu bentuk nyata semangat ‘asiaria’. "Kami berharap keriaan itu terjadi bukan hanya di atas panggung, tetapi juga di antara para penampil dan penonton dari berbagai budaya," ujarnya.
Festival kemudian berlanjut dengan pertunjukan lain yang sama beragamnya. ‘Made in China 2.0’ karya Wang Chong merefleksikan perubahan sosial melalui teater solo, sementara kelompok musik KUNTARI menghadirkan Mutu Beton, eksplorasi bunyi-bunyian primal yang dipadukan dengan ritme Nusantara.
Koreografer Ruben Reniers dan komponis Irene Tanuwidjaja membawakan ‘In (between) Movement’ sebelum festival ditutup oleh penampilan yang telah lama dinantikan: kelompok butoh legendaris Jepang, Sankai Juku.
Terakhir kali kelompok ini tampil di Indonesia adalah pada 1995. Tiga dekade kemudian, mereka kembali melalui KOSA – Between Two Mirrors, karya yang merangkum esensi koreografi maestro Ushio Amagatsu.
SIPFest tidak hanya merayakan karya-karya yang telah selesai. Festival ini juga membuka ruang bagi ide-ide yang masih tumbuh melalui program Ruang Karya Bertumbuh.
Di sinilah lima seniman dari Indonesia dan Korea Selatan mempresentasikan karya yang masih dalam proses penciptaan. Penonton tidak sekadar menjadi penikmat, melainkan juga diajak berdiskusi dan memberi masukan yang dapat mempengaruhi perkembangan karya tersebut.
"Yang paling penting dari program ini adalah diskursus," kata Ening. "Seniman bisa mendengar langsung tanggapan dari penonton sebelum karya itu benar-benar selesai."
Bagi Salihara, pengalaman inilah yang tidak mungkin tergantikan oleh layar. “Merasakan koneksi dengan karya dan dengan penonton lain," ujar Ening.
Selaras asa penyelenggara, SIPFest 2026 tidak hanya menghadirkan karya-karya seni pertunjukan dari berbagai penjuru Asia. Festival ini membuka ruang bagi perjumpaan, percakapan, dan pertukaran gagasan yang terus berlanjut, bahkan setelah tirai panggung ditutup.
Bagi sutradara ‘Nadirah’, Iedil Dzuhrie, itulah nilai paling berharga dari sebuah festival seni.
"Yang paling saya senangi dari festival ini adalah cultural exchange-nya. Apa yang terjadi di atas panggung kemudian kita bawa dan terjemahkan ke kehidupan di luar panggung. Di situlah kita belajar apa yang bisa kita rayakan bersama, sekaligus memikirkan langkah berikutnya."