on-the-map-dari-eksplorasi-lembah-bada-sampai-eksploitasi-jejak-naga-antaboga
Pengunjung di antara instalasi Citra Sasmita ‘Fibers of Time (2026) dan ‘Les deux ciels (2026) karya Tara Kasenda. | Dok. Devy Lubis
ART & DESIGN
ON THE MAP: Dari Eksplorasi Lembah Bada sampai Eksploitasi Jejak Naga Antaboga
By Devy Lubis
Tue, 16 Jun 2026

Eksplorasi material organik dari Lembah Bada di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, hingga refleksi keseimbangan ekologi dari mitologi tatar Sunda, Naga Antaboga, menandai perjalanan artistik perempuan-perempuan perupa yang ambil bagian dalam pameran "Indonesian Women Artists #4: ON THE MAP — Towards New Futures” di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, 12 April - 30 Juni 2026.

Perjalanan dimulai dari Bada. Sebuah lembah yang diam, dengan cerita yang hampir hilang.

Dari sana, kita akan berjalan melalui empat instalasi seni yang berbicara tentang ingatan, kekuatan, luka, dan cara kita terhubung dengan alam. Setiap karya adalah langkah dalam perjalanan menemukan jejak-jejak yang membentuk kita: jejak budaya, jejak politik, jejak trauma, dan jejak ekologi yang salah satunya terinspirasi dari simbolisme jejak Naga Antaboga.

Serat waktu: Citra Sasmita & Cinta Bumi Artisan

Imajinasi sebuah kain yang dibuat ribuan tahun lalu masih hidup hingga hari ini. Itu yang coba ditunjukkan Citra Sasmita melalui karya "Fibers of Time (2026)“.

Citra bekerja sama dengan Cinta Bumi Artisan menggunakan material tradisional bernama ranta: kain yang dibuat dari serat kulit kayu. Material ini berasal dari Lembah Bada, Sulawesi, dan sudah diwariskan turun-temurun selama berabad-abad. Selama ribuan tahun, ranta telah dimanfaatkan sebagai bahan pakaian sekaligus sarana ritual.


Masalahnya? Pengetahuan akan ranta kian senyap. Seiring datangnya tekstil modern dan pengaruh propaganda kolonial, masyarakat lokal mulai meninggalkan material ini. Kini hanya beberapa perempuan dari Lembah Bada yang masih mempertahankan proses pembuatannya.

Citra melihat sesuatu yang lebih dalam di sini. Dia memahami bahwa pewarisan pengetahuan tradisional tidak terlepas dari sistem kolektivisme perempuan: sesuatu yang terasa lazim berlangsung di berbagai daerah di Nusantara, termasuk Bali, tanah leluhurnya. 

Dalam upacara adat Bali, misalnya, perempuan memegang peran penting dalam membuat sarana persembahan yang penuh dengan nilai dan pengetahuan leluhur. 

Melalui instalasi ini, Citra menghadirkan kisah perempuan yang menjaga tradisi sebagai cara hidup dan spiritualitas. Setiap benang, setiap pewarna alami, adalah cara mereka bicara: "Kami masih di sini. Kami masih mengingat."

Sementara itu … : Bibiana Lee

Demokrasi sedang sakit. Di Indonesia dan Amerika Serikat, nilai-nilai demokrasi perlahan terkikis. Kekuasaan terpusat pada sekelompok orang. Suara rakyat melemah. Korupsi sudah seperti bagian normal dari sistem.

Bibiana Lee tidak bisa diam. Dia menciptakan "While We Watch (2026)”: sebuah instalasi yang membuat pengunjung merasa berada di jantung pertanyaan politik itu sendiri.

Karya ini menampilkan deretan tangan silikon seukuran manusia yang menggantung di sekeliling kamu. Tangan-tangan terbuka itu adalah simbol suara rakyat. Harapan, perlawanan, solidaritas. Beberapa tangan bertato naga (simbol kekuatan dan transformasi) dan Qilin (simbol kepemimpinan moral). 

Tato menjadi metafora luka, ingatan, dan perjuangan panjang.

Tapi ada yang lebih menarik. Melalui teknologi AR (augmented reality), naga dan Qilin di tato itu "hidup" dan berinteraksi: hanya jika kamu secara aktif memunculkannya. Inilah yang Bibiana coba katakan: dinamika politik tidak selalu transparan. Kita perlu usaha aktif untuk melihat lapisan-lapisan kekuasaan yang tersembunyi.

Ketika kamu berdiri di tengah tangan-tangan itu, bayangan kamu berlipat ganda di cermin. Pesan terakhirnya sederhana: demokrasi bukan sesuatu yang terjadi "di luar sana." Demokrasi adalah sesuatu yang terus diuji oleh pilihan dan sikap kita, hari demi hari.

Ingatan yang tergoyahkan: Nona Yoanishara

Apa yang tersisa dari kita ketika trauma memecahkan identitas? Pertanyaan ini yang membawa Nona Yoanishara membuat "N-MethyLD-A_(V.1): I Want You To Remember This Forever (2026)“.

Nona adalah peneliti yang bekerja di persimpangan seni, sains, dan teknologi. Untuk karya ini, dia mempelajari konsep neuroplastisitas: bahwa otak kita tidak tetap. Otak itu plastis. Dan trauma bukan hanya luka psikologis dari masa lalu. Trauma benar-benar mengubah struktur fisik dan emosional otak kita, cara kita berpikir dan merasa.

Instalasi ini adalah ruang refleksi, tetapi refleksi yang bercerita. Melalui bayangan dan teks yang diproyeksikan, kamu akan melihat momen-momen ketika kesadaran mencoba membangun diri kembali setelah hancur.

Setiap refleksi menunjukkan versi diri yang berbeda. Nona coba mengatakan: trauma menghancurkan siapa kita, tapi juga membuka kemungkinan baru untuk menjadi. Ada "diri pasca-kehancuran" yang muncul dari fragmen-fragmen masa lalu. Bukan berarti lupa, tapi belajar hidup dengan luka itu.

Benih Naga: Ines Katamso

Jika kamu berdiri di hadapan "Biji Naga (2026)“, kamu sedang menyaksikan percakapan antara dunia arwah (spiritualitas) dan dunia fisik (alam).

Ines Katamso adalah seniman Prancis-Indonesia yang bekerja dengan ekologi, budaya, dan mitos. Untuk karya ini, dia menggunakan tanah, plastik daur ulang, dan benih. Instalasi menampilkan bentuk-bentuk benih yang bergerak di atas gundukan tanah, meninggalkan jejak berulang—jejak yang jmengingatkan pada sisik naga tellurik.

Inspirasi datang dari mitologi: Naga Antaboga menangis, air matanya berubah menjadi benih, dan dari benih itu lahir Dewi Sri: dewi kesuburan. Kisah asal-usul ini adalah tentang ketergantungan dan keseimbangan. Setelah Dewi Sri meninggal, setiap bagian tubuhnya berubah menjadi tanaman. Bola matanya menjadi padi, kakinya jadi bambu, dan kepalanya jadi pohon lontar. Siklus hidup yang terus bergulir.

Elemen-elemen yang digantung di instalasi ini terbuat dari daun dan biji-bijian, terinspirasi dari penjor Bali (simbol naga). Semuanya bicara tentang hal yang sama: ekosistem, seperti budaya, bertahan melalui gesture yang berulang dan tindakan perawatan.

Pesannya lembut tapi dalam: alam tidak terpisah dari spiritualitas kita. Mereka satu kesatuan. Jika kita merawat satu, kita merawat yang lain.

Jejak yang Bicara

Perjalanan dimulai dari Lembah Bada; sebuah tempat di mana sisa-sisa pengetahuan diwariskan dan hidup di tangan perempuan. Dari sana, kita memasuki empat dunia yang berbeda. Dunia demokrasi yang tergoyahkan. Dunia kesadaran yang terpecah. Dunia ekosistem yang saling tergantung.

Tapi semuanya berbicara tentang jejak. Jejak budaya yang diwariskan. Jejak perjuangan politik. Jejak trauma yang membentuk ulang diri kita. Jejak naga yang tertinggal di tanah—simbol dari mitologi Naga Antaboga yang terus menghubungkan spiritualitas dengan alam.

Keempat seniman ini sedang menunjukkan sesuatu yang sederhana tapi mendalam: kita tidak pernah sendiri. Kita terhubung dengan masa lalu, dengan orang lain, dengan alam, dengan diri sendiri. Setiap jejak adalah cara alam dan budaya bicara kepada kita tentang cara hidup yang lebih bermakna

Pameran "ON THE MAP" terbuka hingga 30 Juni 2026 di Gedung A, Galeri Nasional Indonesia. Buka Selasa-Kamis pukul 10.00-18.00 WIB, Jumat-Minggu pukul 10.00-20.00 WIB.




Share
Penta
Nyonya Secret

Pilihan Redaksi

Berita Terpopuler

Berita Terbaru