Berapa banyak perupa perempuan Indonesia yang nama dan karyanya kita kenal? Pertanyaan sederhana itu mendasari gelaran pameran yang berlangsung di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta: "Indonesian Women Artists #4: ON THE MAP — Towards New Futures".
Hingga akhir bulan ini, tepatnya 30 Juni 2026, publik diajak mengenal lebih dekat 12 perupa perempuan lintas generasi lewat karya-karya terbaru mereka. Bibiana Lee, Citra Sasmita, Dyantini Adeline, Endang Lestari, Ines Katamso, Irene Agrivina, KaNA Fuddy Prakoso, Ni Nyoman Sani, Nona Yoani Shara, Rani Jambak, Tara Kasenda, dan Ve Dhanito.
Pameran juga menampilkan karya-karya maestro perempuan seperti Sri Astari Rasjid, Lucia Hartini, Hildawati Soemantri, Marida Nasution, dan Umi Dachlan.
Meski demikian, pameran ini bukan tentang mengisi kuota. Karena setiap karya memiliki cerita mendalam tentang identitas, memori, dan hubungan dengan alam.

Ve Dhanito dan instalasi berjudul ‘Bias (2026)’. Dok. Galeri Nasional Indonesia
Pengalaman personal, perspektif universal
Tema "ON THE MAP" bukan sekadar nama. Ini adalah konsep yang mengajak para perupa mengeksplorasi apa yang disebut Donna Haraway sebagai "situated knowledge”: pengetahuan yang lahir dari pengalaman tubuh dan konteks personal.
Dengan pendekatan itu, para seniman menggali berbagai hal: ingatan pribadi, proses kerja otak, perasaan diterima dan memiliki, juga empati. Ada yang mengangkat artefak sejarah keperempuanan Nusantara yang sarat implikasi sosial, kultural, dan politik. Ada pula yang mempertanyakan relasi manusia dengan alam dan lingkungan.
"Sekilas, karya-karya dalam berbagai media ini dapat dibaca seperti legenda dalam peta," tulis kurator menyebut tema. "Tetapi menilik lebih lanjut, karya-karya ini memberikan dimensi baru dalam sebuah ‘peta’. Dimensi itulah yang berusaha dihadirkan."
Ketiga dimensi utama muncul dalam pameran: tubuh, alam, dan warisan budaya. Namun ketiganya tidak terpisah tegas. Mereka saling berkelindan, menciptakan lanskap yang kompleks dan terhubung.
“Sub kategori tersebut bukanlah pemilahan yang jelas dan ajek karena berawal dari pengalaman para perupa yang kaya dimensi dan aspek. Dan publik akan bertemu dengan simpangan ketiganya,” jelas kurator
Kisah Ratu Kalinyamat dalam cahaya kontemporer
Salah satu contoh bagaimana para seniman membaca sejarah perempuan adalah karya KaNA Fuddy Prakoso. Ia menghadirkan sosok Ratu Kalinyamat, perempuan historis yang menguasai pengetahuan navigasi maritim.
Dengan rekayasa cahaya, kata kurator, “KaNA menunjukkan bahwa pengetahuan tidak hanya milik pria.” Ia bahkan menempatkan penikmat pameran menjadi bagian dari kehadiran Ratu Kalinyamat. Melalui cahaya, sosok historis ini seolah hadir di dalam diri setiap pengunjung.
Yang dilakukan KaNa hanyalah satu dari begitu banyak cara seniman membaca ulang sejarah. Bukan sekadar mendokumentasikan, tetapi mengajak publik untuk terlibat dan merasakan relevansinya hingga hari ini.
Seri yang bertahan
Pameran "ON THE MAP" bukanlah yang pertama. Sejak 2007, rangkaian Indonesian Women Artists (IWA) telah digelar tiga kali sebelumnya. Ada IWA #1: The Curtain Opens (2007), IWA #2: Into The Future (2019), dan IWA #3: Infusion into Contemporary Art (2022).
Mengapa seri ini dipertahankan? Inisiator pameran Inda C. Noerhadi mengatakan, "Sejak awal, IWA digagas sebagai platform apresiasi sekaligus upaya untuk 'melihat' kesenimanan perupa perempuan Indonesia secara lebih mendalam."
Dan, edisi keempat IWA tahun ini menjadi pemungkas seri sebelum bertransformasi menjadi Biennale Perempuan. Sebuah langkah yang menunjukkan komitmen jangka panjang terhadap praktik seni perempuan di Indonesia.
Arsip kultural dan ruang untuk perempuan
Kepala Museum dan Cagar Budaya Esti Nurjadin menekankan pentingnya ruang seperti ini. "Karena menghadirkan ruang dokumentasi, presentasi, dan pertemuan karya dengan publik secara berkelanjutan.”
Ia mengapresiasi upaya menghadirkan rangkaian pameran secara berkelanjutan sejak diinisiasi 2007 silam. “Ini menunjukkan komitmen dalam membangun arsip kultural sekaligus meneguhkan kontribusi perupa perempuan dalam percakapan kebudayaan yang lebih luas."
Pameran Indonesian Women Artists #4: "ON THE MAP" terbuka setiap hari Selasa-Kamis pukul 10.00-18.00 WIB dan Jumat-Minggu pukul 10.00-20.00 WIB di Gedung A, Galeri Nasional Indonesia.
INFO TIKET:
- Pelajar: Rp25.000
- Dewasa: Rp50.000
- Warga Negara Asing (WNA): Rp150.000
- WNA pemegang KITAS: Rp50.000
- Gratis: Anak di bawah 3 tahun, dewasa di atas 60 tahun, penyandang disabilitas, pemilik KIP/KIPK
Tiket dapat dibeli langsung di lokasi atau online melalui Traveloka dan tiket.com.
