Ada yang berbeda dari koleksi anniversary LAKON Indonesia yang ke-8. Lahir bukan dari bahan baku baru, melainkan perca. Sisa-sisa kain yang ukurannya tak sama.
Selama delapan tahun, potongan-potongan kain dari setiap koleksi LAKON dikumpulkan dengan cermat. Sisa kain tenun, batik, hingga perca dari koleksi ikonik seperti Pakaiankoe, Gantari, dan koleksi kapsul Lebaran 2025. Semua disimpan, bukan dibuang.
Potongan-potongan itu lantas diolah kembali menjadi busana yang siap dikenakan. Mudah dipadupadankan, relevan untuk berbagai momen, dan sarat cerita.
Setiap pieces dibuat terbatas. Tidak ada dua yang persis sama. “Karena memang hanya itu yang ada,” ujar Thresia Maretha, founder LAKON Indonesia.
Meski begitu, perempuan di balik perhelatan akbar JF3 Fashion Festival dan inisiatif Pintu Incubator tersebut, ‘sisa’ sebenarnya bukan kata yang tepat karena tidak mewakili maknanya. "Setiap potongannya adalah bagian dari perjalanan kami. Cerita kami ada di sini,” tuturnya.
TERKAIT :
- LAKON Indonesia: Delapan Koleksi, Delapan Babak Perjalanan
- 8 Tahun LAKON Indonesia: Merawat Wastra, Merajut Masa Depan Fashion
Bila melihat potongan-potongan kain itu, memori kembali mengalir ke setiap peristiwa yang terjadi di masa itu. Setiap keputusan, dan proses kreatif yang tidak selalu mudah.
“Enggak semuanya pengalaman bahagia,” Thresia menekankan, “tapi berharga."
Lebih dari sekadar sisa
Bagi LAKON, pendekatan ini bukan hal baru. Jauh sebelum upcycling menjadi tren global, mereka sudah mengerjakan remodelling koleksi lama menjadi sesuatu yang berbeda. Memperpanjang usia sebuah busana, bukan memensiunkannya.
Celana pendek yang bertransformasi menjadi atasan. Celana panjang yang berubah wujud menjadi jaket. Koleksi upcycle ini bahkan pernah dibawa ke Paris, dan sambutannya hangat.
"Kami di LAKON … kalau bisa kain sisa itu jadi sesuatu yang lebih berharga," kata Thresia. "Bukan jadi sesuatu yang kayaknya, ya udah deh, sisa, jadi barang apa aja."
Di sinilah letak perbedaan mendasarnya: LAKON tidak sekadar mendaur ulang material. Mereka mendaur ulang makna.
Artefak perjalanan
Anniversary ini juga menghadirkan aktivitas yang mengajak pengunjung terlibat langsung. UP-CYCLE by LAKON Indonesia Repair Service hadir sebagai layanan perbaikan busana. Wujud nyata komitmen pada fashion yang lebih bertanggung jawab.
Ada pula Interactive Scrapbook Activity, ruang bagi siapa saja untuk turut menuliskan bagian dari cerita LAKON.
Karena perjalanan ini, kata Thresia, memang tidak pernah hanya milik satu pihak.
Ia berharap koleksi anniversary ini menjadi sesuatu yang benar-benar dipegang para kolektor. Bukan sebagai tren musiman, melainkan sebagai artefak perjalanan.
"Kami harap koleksi ini bisa menjadi sesuatu yang berharga untuk disimpan," katanya.
Dan memang begitulah adanya. Ketika sehelai kain menyimpan memori, ia bukan lagi sekadar busana. Ia adalah catatan. Tentang tangan yang bekerja, budaya yang dijaga, dan pilihan untuk tidak serta-merta membuang apa pun yang masih bisa berarti.
Karena dari sepotong perca sekalipun, selalu ada kisah yang bisa diceritakan dari masa ke masa.***