lakon-indonesia-delapan-koleksi-delapan-babak-perjalanan
Eksotisme sosial pasar malam yang khas menginspirasi gelaran pekan fashion LAKON Indonesia pada 2024 | Dok. Tim Muara Bagdja
Fashion
LAKON Indonesia: Delapan Koleksi, Delapan Babak Perjalanan
By Devy Lubis
Mon, 15 Jun 2026

Perayaan sewindu LAKON menghadirkan instalasi mini yang merangkum delapan koleksi penting dalam perjalanan kreatifnya. Dimulai dari “Pakaiankoe” hingga koleksi spesial anniversary yang memadupadan perca dan kain sisa pada 2026. Dengan runway unik, dari latar Prambanan hingga parkiran. 

Koleksi perdana “Pakaiankoe” bertema “A Journey to Jawa” dipresentasikan di Jakarta, 15 November 2020. Memperkenalkan kembali kekayaan tekstil Jawa melalui pendekatan modern. Sebuah pengingat bahwa pakaian bukan hanya penutup tubuh, tetapi juga identitas, memori, dan cara seseorang bercerita tentang dirinya.

“Koleksi ini sekaligus menjadi langkah awal kami membangun ekosistem yang menghubungkan desainer, perajin, dan masyarakat,” kata Thresia Maretha, pendiri LAKON Indonesia. 

Gantari, perempuan, dan inisiatif berkelanjutan

Perjalanan itu berlanjut ke Yogyakarta. Koleksi “Gantari: The Final Journey to Java” dirilis 9 Oktober 2021. Bertepatan dengan bulan peringatan Hari Batik Nasional, koleksi ini menampilkan motif unik berupa lembaran koran dan kolase perempuan.  


“Koleksi ini bicara tentang perempuan. Bahwa perempuan itu, yang kami percaya, adalah kunci untuk pewarisan budaya,” imbuhnya.  

Koleksi yang memadukan batik, jumputan, dan tenun lurik dalam siluet kontemporer ini terbilang ikonik. Peragaan busana digelar langsung di Candi Prambanan. Runway-nya dibangun dari 15 ribu batang bambu.

“Setelah selesai acara, bambu-bambu itu kita distribusikan ke desa-desa sekitar yang kemudian dimanfaatkan warga untuk bangun jembatan, bikin kandang, dan lainnya. Jadi, enggak terbuang bambunya,” terang sosok yang juga menjadi advisor JF3 Fashion Festival.

Yang membuat koleksi ini semakin bermakna adalah komitmen pada proses. Semua print dikerjakan dengan tangan oleh para perajin, bukan mesin, melalui sistem cetakan yang diulang berkali-kali hingga menghasilkan motif yang presisi. 

“Bukan karena mereka sempurna. Hanya saja, itu membuktikan bahwa perajin kita benar-benar sehebat itu,” katanya, mengapresiasi. 

Ia pun mengakui sisa bahan adalah keniscayaan. “Tapi enggak banyak,” tegasnya.  

Maka, koleksi ini menjadi simbol bahwa budaya akan selalu menemukan cara baru ketika terus dihidupkan oleh generasi-generasi penerus berikutnya. Melestarikan warisan bangsa dengan tetap mengedepankan visi berkelanjutan.

Koleksi berbasis riset, eksplorasi bahan

Berselang satu bulan, LAKON mengajak publik melihat proses yang sering kali luput dari perhatian. Koleksi “Aradhana” yang mengangkat tema “Seen and Unseen” ditampilkan di Jakarta, 11 November 2021. 

Sebanyak 30 set busana ready-to-wear berbahan wastra menjadi penghormatan bagi dedikasi para perajin yang bekerja di balik layar dengan kesabaran luar biasa. Membuktikan bahwa nilai sebuah busana lahir jauh sebelum ia sampai di tangan pemakainya.

“Ada batik, tenun ikat, songket, dan ulos dari berbagai daerah di Indonesia,” jelas Thresia, mengenang bagaimana koleksi ini berbasis riset dan pemberdayaan UMKM. 

Pada September 2022, kolaborasi dengan maestro batik Pekalongan, Cahyo, dalam “Lorong Waktu” menghadirkan refleksi tentang perjalanan budaya yang terus bergerak melintasi zaman. Setiap motif dan warna menjadi arsip hidup yang menyimpan jejak sejarah sekaligus harapan akan masa depan.

Pada 26 Juli 2023, hadir “RIK 062324 L”. Koleksi penutup rangkaian JF3 tahun itu menjadikan tenun lurik sebagai tokoh utama. Fashion show berlangsung di pakiran salah satu mall di Jakarta. 

Dengan siluet urban dan palet warna yang berani, LAKON menunjukkan bahwa kain tradisional mampu tampil segar, relevan, dan dekat dengan gaya hidup generasi baru tanpa kehilangan makna filosofisnya. Seratus lebih tampilan ready-to-wear bertatah siluet urban dan warna-warna berani.

Sentuhan manusia dan warna-warna nostalgia 

Koleksi berikutnya, “The Tailor Made 01” diluncurkan pada 29 November 2023. First prive collection karya Irsan dengan konsep made to order. 

Lewat koleksi tersebut, LAKON kembali menghidupkan seni menjahit tangan dan konsep craftsmanship (manual) yang eksis melintas zaman. Di tengah derasnya arus produksi massal, koleksi ini menjadi penghormatan terhadap ketelitian, waktu, dan sentuhan manusia yang tidak dapat digantikan oleh mesin.

Pada kesempatan yang sama, Thresia mengingatkan kembali bahwa LAKON bukan brand batik. “Kami ingin mendorong kemajuan brand lokal Indonesia, dan yang kami angkat itu hasil karya tangan khas Indonesia. Semua yang handcrafted. Termasuk embroidery, pleats, dan berbagai teknik kerajinan tangan lainnya.”

Itu kembali tecermin pada 30 Juli 2024. Koleksi “Pasar Malam” menerjemahkan hiruk pikuk kehidupan urban Indonesia ke dalam bahasa streetwear kontemporer. Batik dan beragam kerajinan tangan tampil lebih dinamis, kasual, dan akrab dengan keseharian. 

Mengutamakan kenyamanan tanpa meninggalkan nilai artistik. Membuktikan bahwa tradisi mampu berjalan berdampingan dengan perkembangan zaman.

Perjalanan tersebut mencapai babak terbaru melalui “Urub”, yang terinspirasi dari filosofi Jawa “Urip iku urub”—hidup adalah tentang memberi terang. 

Lewat eksplorasi material, warna-warna hangat, potongan longgar, dan siluet yang nyaman, koleksi yang dipresentasikan 30 Juli 2025 ini menjadi penghormatan bagi semangat para perajin Nusantara yang terus berkarya dengan penuh dedikasi.

Delapan koleksi ini bukan sekadar arsip perjalanan sebuah label mode, melainkan catatan tentang bagaimana budaya dapat terus tumbuh ketika dirawat bersama.***

Share
Penta
Nyonya Secret

Pilihan Redaksi

Berita Terpopuler

Berita Terbaru