8-tahun-lakon-indonesia-merawat-wastra-merajut-masa-depan-fashion
| Dok. JF3 Fashion Festival 2025
Fashion
8 Tahun LAKON Indonesia: Merawat Wastra, Merajut Masa Depan Fashion
By Devy Lubis
Mon, 15 Jun 2026
Di balik terciptanya setiap helai kain, ada tangan-tangan yang bekerja dalam ketekunan. Dan di balik lahirnya setiap koleksi, ada budaya yang terus hidup.

Di tengah industri fashion yang bergerak semakin cepat dan dipenuhi tren yang silih berganti, LAKON Indonesia memilih berjalan dengan langkah yang berbeda. Lebih perlahan, lebih sadar, lebih dekat dengan akar budaya.

Memasuki usia delapan tahun, LAKON tidak sekadar merayakan sebuah pencapaian. Sewindu menandai ribuan cerita, dialog tanpa henti dengan para perajin, serta keyakinan bahwa wastra Indonesia memiliki tempat yang layak di masa depan fashion dunia.


Bertempat di LAKON Store, Summarecon Mall Kelapa Gading, Jakarta, 6 Juni 2026, selebrasi ini menjadi momen refleksi. Juga apresiasi bagi mereka yang telah menjadi bagian dari perjalanan panjang menjaga warisan budaya melalui karya yang dapat dikenakan sehari-hari.

Pendiri sekaligus penggagas inisiatif ini, Thresia Maretha, meyakini fashion bukan hanya tentang apa yang terlihat di atas panggung, tetapi juga berpusat pada mereka yang bekerja di baliknya.

“Yang dilakukan LAKON bukan sekadar mengolah kain jadi pakaian. Tujuan kami supaya perajin ini punya kehidupan yang lebih baik, kesempatan yang lebih luas, dan karya-karya mereka mendapatkan tempat apresiasi yang baik,” tuturnya.

Di sisi lain, Thresia tidak menutup mata pada tantangan yang masih ada. Konsistensi dan reliability sebagai pekerjaan rumah yang belum tuntas. Khususnya dalam mengintegrasikan para perajin ke dalam rantai produksi fashion yang lebih terstruktur dan berkelanjutan. 

“Itu yang berusaha kami bangun bersama perajin, karena itu perlu waktu,” tegasnya. 



Melampaui tradisi dan seremoni

Sejak berdiri pada 2018 dan konsisten menghadirkan koleksi ready-to-wear berbasis wastra pada 2020, LAKON Indonesia mengambil langkah nyata untuk membuktikan bahwa kain tradisional tidak hanya hidup di ruang seremonial atau museum. Ia bisa, dan seharusnya menjadi bagian dari keseharian generasi masa kini.

Setiap koleksi lahir dari proses panjang. Melibatkan penenun, pembatik, pencelup warna, penjahit, hingga perajin dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka bukan sekadar bagian dari rantai produksi, melainkan penjaga pengetahuan, identitas, dan nilai budaya yang diwariskan lintas generasi.

Di tangan para perajin inilah, selembar kain berubah menjadi cerita tak berkesudahan. Setidaknya, ini yang selalu disuarakan Thresia dan tim.

Merayakan mereka yang bekerja dalam sunyi

Di balik gemerlap panggung fashion, selalu ada tangan-tangan terampil yang bekerja dengan tekun. Tanpa banyak sorotan.

Para penenun yang menghabiskan hari demi hari di depan alat tenun. Para pembatik yang mengguratkan motif dengan penuh ketelitian, hingga para penjahit yang menyempurnakan setiap detail dengan kesabaran luar biasa.

Melalui perjalanan delapan tahunnya, LAKON Indonesia mengingatkan bahwa masa depan fashion tidak hanya ditentukan oleh inovasi desain, tetapi juga oleh kemampuan ekosistem dan industri menghargai akar budaya dan manusia yang menjaganya.

Bagi para pencinta mode, LAKON menawarkan cara baru memandang busana. Bukan sekadar sebagai gaya, melainkan sebagai cerita yang dikenakan. Bagi industri kreatif, perjalanan ini menjadi bukti bahwa pertumbuhan ekonomi dapat berjalan seiring dengan pelestarian budaya dan pemberdayaan perajin lokal.

“Karena pada akhirnya, kemewahan sejati bukan hanya tentang apa yang kita kenakan, tetapi tentang siapa saja yang ikut menghidupkan karya tersebut,” jelas Thresia.

Sewindu telah berlalu, dipenuhi cerita, diskusi, dan tangan-tangan yang tak pernah berhenti berkarya. Dan LAKON Indonesia masih terus melangkah. Menenun masa depan, satu cerita pada satu helai kain.***



Share
Penta
Nyonya Secret

Pilihan Redaksi

Berita Terpopuler

Berita Terbaru