Museum of Modern and Contemporary Art in Nusantara (Museum MACAN) resmi memasuki babak kolaborasi internasional baru. Museum bermitra dengan The Max Mara Art Prize for Women, sebuah penghargaan bergengsi yang selama dua dekade terakhir konsisten mendukung perupa perempuan pada tahap awal hingga menengah karier mereka.
Tahun ini, penghargaan tersebut memasuki edisi ke-10 sekaligus menandai transformasi penting. Untuk pertama kalinya Max Mara Art Prize for Women mengadopsi format nomadik. Setiap edisi akan berlangsung di negara yang berbeda. Indonesia terpilih sebagai tuan rumah untuk periode 2025 - 2027. Menjadikannya kehadiran perdana penghargaan ini di Asia Tenggara.
Di balik inisiatif ini, Max Mara —rumah mode Italia yang berdiri sejak 1951 dan identik dengan kemewahan serta keanggunan gaya Italia— bekerja sama dengan Collezione Maramotti. Koleksi seni kontemporer privat ini dibuka untuk publik sejak 2007 dan berlokasi di bekas kantor pusat bersejarah Max Mara di Reggio Emilia.
Bersama-sama, keduanya mengumumkan fase baru penghargaan ini sebagai bagian dari visi internasional yang kian diperluas.
Didirikan pada 2005 oleh Max Mara Fashion Group, Max Mara Art Prize for Women berpijak pada komitmen jangka panjang untuk mendukung praktik artistik perempuan. Kini, tanpa meninggalkan nilai-nilai dasarnya, penghargaan ini membuka cakrawala baru. Menjangkau beragam konteks budaya lintas negara dan memperkaya dialog dalam lanskap seni kontemporer global.
Edisi ke-10 juga menjadi penanda berakhirnya kemitraan panjang antara Max Mara dan Collezione Maramotti dengan Whitechapel Gallery di London, Inggris. Selama hampir dua dekade, Whitechapel Gallery memainkan peran sentral dalam penghargaan ini, dikenal luas atas dedikasinya dalam mendukung perupa perempuan, baik yang baru memulai maupun yang telah meniti karier.
Bersama Max Mara dan Collezione Maramotti, institusi ini secara konsisten memperluas visibilitas dan peluang pengembangan profesional bagi perupa perempuan berbasis di Inggris.
Melalui format nomadik, karakter utama penghargaan tetap dipertahankan, namun kini diperkaya oleh pertemuan lintas lanskap budaya yang saling memengaruhi. Max Mara Art Prize for Women terus mengambil peran penting dalam mendorong kesetaraan, merayakan keberagaman praktik artistik, serta menginspirasi generasi mendatang melalui pertukaran berskala global.
Suara perempuan dalam dialog yang lebih setara
Babak baru ini dibentuk Cecilia Alemani, Direktur dan Kurator Utama High Line Art, New York, AS, yang ditunjuk sebagai kurator pertama untuk format internasional ini. Bekerja bersama Max Mara dan Collezione Maramotti, Alemani akan memilih negara dan mitra institusi, sekaligus merancang kerangka kolaborasi internasional yang berkelanjutan serta sistem dukungan struktural bagi perupa perempuan di berbagai belahan dunia.
Untuk edisi kesepuluh, Alemani juga memimpin dewan juri yang terdiri dari Venus Lau (Direktur Museum MACAN), Amanda Ariawan (kurator), Megan Arlin (galeris, ara contemporary), Evelyn Halim (kolektor seni), dan Melati Suryodarmo (perupa). Bersama-sama, mereka akan menentukan arah baru penghargaan ini—sebuah langkah penting yang menempatkan Indonesia dalam peta percakapan seni kontemporer internasional.
Venus Lau menyebut penghargaan ini sebagai platform terdepan yang menguatkan suara perempuan di kancah seni global. Keberadaannya juga berperan penting dalam membentuk wacana seni rupa kontemporer sekaligus membuka jalan dan memperluas peluang perupa perempuan.
“Kami bangga menjadi bagian dari inisiatif ini dan mendorong terjadinya pertukaran budaya yang berkelanjutan, melampaui satu edisi penyelenggaraan,” ungkapnya.
Penghargaan ini menawarkan program residensi selama enam bulan di lingkungan seni Italia. Memungkinkan pendalaman riset, perluasan jejaring, serta pengembangan metode kerja yang, menurutnya, mungkin belum sepenuhnya tersedia secara lokal. Ia pun meyakini, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh seniman terpilih, tetapi juga oleh ekosistem seni Indonesia secara lebih luas.
“Mendorong lahirnya percakapan baru tentang representasi, kesempatan, dan perspektif sekaligus menempatkan praktik perempuan Indonesia dalam dialog global yang lebih setara,” tegasnya.***