Maroko, sebuah negara dengan julukan negeri matahari terbenam (Maghrib) yang terletak di Benua Afrika Utara. Sejarah Maroko dimulai dengan penjajahan Bangsa Fenisia di pantai Maroko antara abad ke 8 - 6 SM.
Bangsa Fenisia adalah bangsa kuno yang pernah menguasai pesisir Laut Tengah. Mereka berasal dari wilayah Timur Tengah, atau sekarang Libanon dan Suriah yang merupakan daerah pesisir laut. Bangsa Fenisia mempunyai kota-kota penting ketika itu, seperti Kartago kota dagang yang terletak di Tunisia. Lalu kota penting lainnya adalah Tirus, Sidon dan Byblos di Libanon.
Penduduk Asli Maroko
Suku Berber, adalah suku asli Maroko, Afrika Utara. Istilah Berber berasal dari bahasa Arab untuk menyebut suku dari Afrika tersebut.
Masuknya Islam ke Maroko
Ekspansi Islam ke Maroko dimulai ketika Maroko ditaklukkan oleh Musa bin Nusayr al Walid I bin Abdul Malik, khalifah keenam Dinasti Umayyah, tahun 705-715 M. Pada awal abad ke-8, berdiri kekhalifahan Bani Umayyah di Maroko yang membawa bahasa Arab dan Islam. Maroko diperintah oleh delapan dinasti, mulai dari Dinasti Idrisid pada tahun 788, dan terakhir Dinasti Alouite pada 1912.
Kedekatan Maroko dengan Amerika Serikat.
Hubungan baik Maroko dengan Amerika terjalin ketika kapal - kapal dagang Amerika diserang oleh bajak laut kemudian Sultan Muhammad III dari Maroko menyatakan memberi perlindungan kepada semua kapal dagang Amerika yang melintas di Atlantik Utara. Pada tanggal 4 Juli 1776 deklarasikan kemerdekaan Amerika Serikat. Maroko adalah negara pertama yang mengakui kemerdekaan Republik Amerika Serikat secara terbuka melalui Deklarasi.
Hubungan yang baik antara Amerika dan Maroko tercatat dalam sebuah perjanjian persahabatan tahun 1786 dan menjadi perjanjian persahabatan tertua di Amerika.
Pendudukan Spanyol dan Prancis.
Setelah era Dinasti Alouite berakhir tahun 1912, Maroko berada di bawah jajahan Perancis dan Spanyol di bagian selatan Maroko hingga tahun 1956. Maroko merdeka 7 April 1956 dan Rabat sebagai ibu kota negara. Maroko menerapkan sistem monarki semi konstitusional.
Perdana menteri pemegang kekuasaan eksekutif pada pemerintahan, namun raja masih memiliki kekuasaan politik seperti militer, kebijakan luar negeri dan urusan agama. Tahun 1884 Spanyol mendapatkan Sahara Barat melalui konferensi Berlin sehingga dikenal dengan julukan Sahara Spanyol. Wilayah tersebut letaknya berbatasan dengan Maroko di sebelah utara, Aljazair di timur laut dan Mauritania di sebelah timur dan selatan. Belakangan Spanyol, Mauritania dan Maroko diam - diam membuat kesepakatan membagi kawasan tersebut kepada Mauritania dan Maroko.
Konflik Terkait Sahara Barat
Konflik di Sahara Barat dimulai pada tahun 1975, ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memutuskan untuk mensponsori referendum untuk penentuan nasib sendiri penduduk Sahara Spanyol, tetapi Maroko dan Mauritania melakukan invasi ke wilayah Sahara Barat sebelum referendum yang dilakukan oleh PBB tercapai.
Akhirnya Sahara Barat menjadi territori yang disengketakan oleh dua entitas, Republik Demokratik Arab Sahrawi (RDAS) yang di proklamasikan oleh Front Polisario 27 Februari 1977. RDAS kini menguasai sekitar 20% dari wilayah yang di klaim dan sisanya oleh Maroko. Maroko mengklaim Sahara Barat adalah bagian dari wilayahnya. Namun klaim Maroko tidak ada satupun negara anggota PBB yang mendukung. Sebaliknya RDAS diakui oleh Uni Afrika dan, pada Desember 2022, oleh 47 negara anggota PBB, serta negara de facto lainnya, Republik Ossetia Selatan.
Tidak ada negara lain selain Amerika Serikat dan Israel yang pernah mengakui aneksasi sepihak Maroko atas Sahara Barat. Namun, negara tertentu seperti Inggris telah mengakui bahwa Maroko secara de facto menjalankan kendali atas wilayah tersebut. Yang pasti, selama sengketa berlangsung korban jiwa sudah cukup besar.
Sekitar 14.000 orang tewas, termasuk 5.000 tentara Maroko, 2.000 tentara Mauritania, 4.000 pemberontak Polisario, dan 3.000 warga sipil. Sekitar 200.000 orang mengungsi selama konflik tersebut.
Penyelesaian Konflik.
17 Oktober 2024 lalu, menurut Agence France-Presse (AFP), utusan PBB untuk Sahara Barat telah mengusulkan pembagian wilayah antara Maroko dan Front Polisario untuk menyelesaikan konflik tersebut. Sebaliknya Polisario menyerukan referendum penentuan nasib sendiri di bawah naungan PBB, yang telah direncanakan ketika gencatan senjata ditandatangani pada 1991, tetapi tidak pernah dilaksanakan.
De Mistura, diplomat Italia-Swedia yang telah menjadi utusan pribadi Sekretaris Jenderal Antonio Guterres untuk wilayah tersebut selama tiga tahun menyatakan “tidak ada tanda-tanda keinginan untuk mempertimbangkan peninjauan lebih jauh, baik dari Maroko maupun Frente Polisario.” Kita tentu berharap tercapai kesepakatan penyelesaikan sengketa Sahara Barat, Maroko. (*)