Tak apa-apa, tak masalah, sepanjang stadion tersebut dapat berdiri megah sesuai fungsi dan tujuannya, sehingga mampu mengembalikan Makassar sebagai kiblat sepak bola di Indonesia, bahkan jika perlu menjadi kiblat sepak bola Asia Tenggara.
Hari-hari ini kita membaca progres pembangunan dua stadion yang akan berdiri di Makassar. Seolah berlomba meyakinkan publik bahwa stadion benar-benar akan hadir di kota ini. Sudiang Stadium Internasional yang dibangun oleh Kementerian PU bekerja sama dengan Pemprov Sulawesi Selatan dan Pemkot Makassar, sementara Stadion Makassar Untia (SMU) juga mulai masuk tahap pembangunan.
Pertama, Sudiang Stadium Internasional (SSI). Stadion ini bermula ketika Presiden Jokowi berkunjung ke Makassar pada tahun 2023 dan menjanjikan pembangunan stadion di Sulsel dengan syarat Pemprov menyediakan lahan. Pilihan pun jatuh di kawasan Sudiang, di atas lahan milik Pemprov Sulsel, sementara akses jalan menuju kawasan stadion akan disiapkan oleh Pemkot Makassar.
Pembangunan Sudiang Stadium menggunakan skema pendanaan kontrak tahun jamak (multiyears contract) yang dialokasikan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dari Pemerintah Pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum. Proyek pembangunan stadion ini dikerjakan oleh kontraktor pelaksana PT Waskita Karya (Persero) Tbk berkolaborasi dengan PT Adhi Karya (Persero) Tbk. Proyek berskala internasional ini diawasi dan didanai langsung oleh Pemerintah Pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum (PU), dan ditargetkan selesai pada tahun 2027.
Masih di lokasi yang tak jauh dari Sudiang, juga akan berdiri stadion megah lainnya, yakni Stadion Makassar Untia (SMU). Pembangunan Stadion Makassar Untia di Kecamatan Biringkanaya, Kota Makassar, resmi dimulai pada awal 2026 sebagai proyek strategis multiyears (2025â2027) untuk menghadirkan stadion bertaraf nasional. Proyek senilai Rp131 miliar ini didanai APBD, dengan fokus saat ini pada penandatanganan kontrak Manajemen Konstruksi (MK) dan persiapan fisik.
Jauh sebelum kedua stadion tersebut mulai dikerjakan, Makassar sebenarnya telah memiliki Stadion Mattoanging Andi Mattalatta dan Stadion Barombong. Publik tentu tahu bagaimana situasi dan kondisi kedua stadion ini. Saya tak perlu mengulasnya lebih jauh. Namun saya berharap, suatu saat pembangunan Stadion Barombong dapat dilanjutkan sehingga Makassar akan memiliki tiga stadion besar. Mungkinkah kota ini akan kelebihan stadion? Padahal kota ini hanya memiliki satu klub sepak bola yang berlaga di kasta tertinggi sepak bola nasional, yakni PSM Makassar.
Baiklah, pembaca yang budiman.
Saat ini stadion modern tidak hanya berfungsi sebagai arena pertandingan sepak bola, tetapi telah bertransformasi menjadi pusat hiburan, bisnis, dan komunitas yang beroperasi setiap hari.
Seperti halnya stadion-stadion di luar negeri. Pertama, stadion dapat berfungsi sebagai pusat hiburan dan lokasi konser musik skala besar, mulai dari konser musisi internasional, festival musik, hingga pertunjukan teater berskala raksasa. Selanjutnya, stadion juga dapat menjadi destinasi wisata dan tur harian. Pengunjung dapat melihat ruang ganti pemain, museum sejarah klub, hingga menjelajahi area atap stadion seperti fasilitas stadium roofwalk.
Kemudian stadion dapat menjadi pusat bisnis, ritel, dan kawasan komersial. Stadion modern biasanya dilengkapi fasilitas pendukung seperti restoran mewah, kafe, pusat kebugaran, ruang pertemuan, hingga kantor perusahaan yang beroperasi sepanjang pekan. Stadion juga dapat dimanfaatkan untuk acara publik dan sosial, sekaligus menjadi pusat teknologi dan gaya hidup.
Transformasi stadion menjadi area multifungsi bertujuan agar investasi pembangunan bernilai ratusan miliar rupiah tetap menghasilkan pendapatan secara konsisten, bahkan di luar musim kompetisi sepak bola.
Kembali pada fungsi utamanya sebagai arena sepak bola. Sebagai provinsi yang memiliki darah sepak bola sejak dahulu, kehadiran empat stadion sepak bola di Sulsel kelak akan mengembalikan daerah ini sebagai pusat kultur sepak bola. Perlahan, gairah dan ekosistem sepak bola akan terbentuk kembali secara alami. Tak butuh waktu lama, sebab daerah ini sejak dulu telah memiliki kultur sepak bola yang tumbuh dengan sendirinya. Hal tersebut bahkan tercatat melalui akun resmi FIFA yang pernah memajang foto Ramang sebagai legenda sepak bola Indonesia.
Menghadirkan stadion di Kota Makassar tidak akan sia-sia, walaupun ada yang menyebutnya berlebihan. Stadion-stadion inilah kelak yang akan mengantar Makassar kembali muncul di layar televisi internasional. Maka bukan hal mustahil jika kota ini kembali dipilih oleh klub-klub luar negeri untuk menggelar friendly game, sebagaimana ketika klub asal Italia pernah tampil di Stadion Mattoanging Makassar beberapa dekade lalu.
Bukan tak mungkin pula FIFA, AFC, hingga promotor asing akan memilih Makassar sebagai venue sepak bola internasional. Data menunjukkan bahwa Kota Makassar menempati rating dan share tertinggi di Indonesia dalam hal penonton sepak bola.
Kehadiran stadion-stadion bertaraf internasional ini kelak dengan sendirinya akan membangkitkan kembali gairah sepak bola di Indonesia Timur, khususnya Sulawesi Selatan. Sekolah-sekolah sepak bola (SSB) akan kembali bermunculan, dibina oleh mantan pemain PSM Makassar. Bahkan bukan tidak mungkin akademi klub-klub sepak bola dunia akan memilih Makassar sebagai salah satu pusat pembinaan mereka untuk menampung talenta-talenta muda dari Indonesia Timur, sehingga mereka tak lagi harus berkiblat ke Pulau Jawa atau Jakarta. ***