ayu-dyah-andari-detail-yang-bercerita-dan-legasi-yang-terus-bergerak
Ayu Dyah Andari merapikan salah satu rancangannya dari koleksi bertajuk ‘Puspa’ yang dipamerkan di Jakarta, 7-8 Mei 2026 | DOC. TIM MUARA BAGDJA
Fashion
Ayu Dyah Andari: Detail yang Bercerita dan Legasi yang terus Bergerak
By Devy Lubis
Sun, 17 May 2026

Jika ada satu hal yang menjadi signature Ayu Dyah Andari dalam ‘PUSPA’ —koleksi spesial penanda 15 tahun berkarya— maka itu adalah keberanian dalam detail. Dan keberanian memilih dari mana detail itu berasal.

Bunga-bunga dalam koleksi ini tidak sekadar menjadi motif. Mereka dihidupkan melalui aneka teknik bordir dan payet yang dikerjakan dengan presisi tinggi, sebuah proses yang menuntut ketelitian luar biasa dari para perajin di balik layar. 

Di lini couture, bunga-bunga itu tersebar di atas bahan-bahan delicate dalam warna yang seolah dipetik langsung dari alam: butter cream, dusty pink, teal blue, hingga warna dalam seperti deep brown, maroon, dan greyish blue.

Yang membuat koleksi ini berbicara lebih jauh adalah pilihan aplikasinya. Ayu memilih batu kecubung dari Kalimantan Tengah sebagai elemen dekoratif pada busana. Sebuah keputusan yang disengaja. Ia memadankannya dengan swarovski. 

Kecubung, batu permata Nusantara yang selama ini lebih sering diabaikan daripada dirayakan, kini menempel pada rancangan haute couture dan bersinar di atas panggung mode Jakarta. Ini bukan sekadar pilihan estetika. Ini adalah sikap. “Saya percaya bahwa tradisi dan modern itu bisa berjalan berbarengan,” kata Ayu.

Ide menggunakan batu asli Indonesia terinspirasi dari partisipasinya dalam Jakarta Fashion Week 2025. Kala itu, Ayu menyadari bahwa batu kecubung tidak hanya berwarna ungu. “Ada emas, ada warna putih, ada hitam,” terangnya.

“Lalu, saya yang notabene selalu pakai swarovski berpikir, 'Kenapa tidak memakai batu alam asli?’ Maka, dalam koleksi ‘PUSPA” yang mengangkat kembali akar budaya, kita pakai batu asli Indonesia dan saya pesan khusus ke perajinnya,” tambahnya.  

Elemen keindonesiaan terus mengalir dalam keseluruhan koleksi: siluet kebaya yang anggun, kain panjang yang mengalir, beskap yang tegak berwibawa, hingga motif ukiran Jepara dengan detail halus dan rumit yang hanya bisa lahir dari tangan-tangan yang telah bertahun-tahun mengasah keahliannya. 

Kompleks, tapi indah. Seperti Indonesia itu sendiri.

“Lima belas tahun berkarya bukan waktu yang singkat, dan perjuangannya itu kami rasakan banget,” tutur Ayu, yang menekankan betapa ia dan tim selalu berupaya merilis karya-karya orisinal. 

“Seperti karya-karya dalam koleksi ini. Motifnya ukiran Jepara. Bordirnya dibuat sedemikian rupa. Kami menggunakan berbagai macam teknik dalam satu bordir.”

Untuk perempuan Indonesia

PUSPA juga menandai kolaborasi seri tas terbaru sebagai pelengkap koleksi. Seluruhnya dibuat dari kulit sapi oleh tangan-tangan pengrajin lokal.

Dalam citra tiga bunga andalannya, seri tas hadir dalam lima warna yang masing-masing menyimpan narasi: marun yang mengutip keteduhan Rafflesia, putih yang berselaras dengan melati dan anggrek bulan, hijau yang berkorelasi dengan dedaunan, coklat selaksa tanah di mana bumi dipijak, serta hitam yang mengusung konsep keluasan semesta.

Untuk rangkaian terbaru dari koleksi tas ini, Ayu berkolaborasi dengan Cynthia Riza. “Biasanya desainer memakai Italia leather, tapi kami yakin bahwa kulit asli Indonesia tidak kalah bagus. Kenapa kita enggak bikin (tas) dari kulit asli Indonesia untuk perempuan Indonesia?” cetusnya.

Konsistensi menggelar karya terbaik, baik dalam peragaan tunggal maupun bersama, telah menempatkan Ayu Dyah Andari sejajar dengan desainer papan atas dan senior busana modest Nusantara. Karya-karyanya dapat ditemukan di Butik Ayu Dyah Andari di Pondok Indah Mall 2 dan Kota Kasablanka, Jakarta.

Di ujung perhelatan ‘PUSPA’, ada satu hal yang Ayu harapkan. Bahwa perjalanan penciptaan Ayu Dyah Andari dapat mengilhami siapa pun untuk tetap konsisten pada jalur profesi yang mereka pilih.

Lima belas tahun. Tiga bunga. Dua puluh tujuh koleksi. Dan satu desainer yang setia pada signature pattern-nya membuktikan bahwa setelah ‘badai’ sekalipun, setiap kita masih akan terus bertumbuh.***

Share
Deheng House
Nyonya Secret

Pilihan Redaksi

Berita Terpopuler

Berita Terbaru