penjaga-wayang-golek-sunda-2
Mengecat Kepala Wayang | Foto Teguh Sudarisman
FESTIVAL & CULTURE
Penjaga Wayang Golek Sunda (2)
By Teguh Sudarisman
Sat, 16 May 2026

Satu Wayang Satu Minggu

Membuat wayang golek tidak bisa dilakukan dengan cepat, karena semuanya dikerjakan dengan tangan. Pertama, memotong bahan baku kayunya dulu, lalu mengukirnya untuk membentuk wajah, badan, dan kedua tangan. Selanjutnya menghaluskan, mengecat, dan merangkaikan batang bambu untuk poros atau tulang belakang wayang, serta untuk kedua tangannya. Terakhir, membuat dan memakaikan baju wayang.

Badan wayang golek terbagi atas beberapa segmen. Pertama, bagian mahkota, kepala, hingga leher. Kemudian bagian badan dari bahu hingga pinggul—wayang golek tidak memiliki kaki. Lalu kedua tangan yang masing-masing terdiri atas dua segmen: satu untuk telapak tangan hingga lengan bawah, satu untuk lengan atas. Sambungan ruas tangan ini dihubungkan dengan benang.

Lalu ada batang bambu dengan ujung bawah yang runcing—agar dalang bisa menancapkan wayang pada batang pisang saat pertunjukan—sebagai poros wayang. Bambu ini menembus badan wayang yang telah dilubangi, hingga ke leher wayang. Dua batang bambu kecil lainnya disambungkan ke kedua telapak tangan wayang sehingga dalang dapat memainkannya. Terakhir, dibuatkanlah sarung batik untuk bagian bawah tubuh wayang, menjuntai hingga menutupi batang bambu poros. Desain baju bagian atas pada wayang laki-laki dan perempuan berbeda. Pada wayang laki-laki, baju atasnya menutup dari bahu hingga ke dada. Sedangkan baju atas wayang perempuan berupa kemben atau kain penutup dada, sehingga bahunya kelihatan.

Bentuk mahkota karakter wayang laki-laki umumnya tinggi mengerucut dengan dominasi warna emas yang mewah, sedangkan mahkota karakter wayang perempuan lebih pendek dengan bagian belakang kepala meruncing seperti helai daun. Namun keduanya punya kesamaan: berwajah tirus, bermata tajam dan melebar, berhidung mancung, berdagu runcing, dan berpulas bibir merah. Karakter wayang yang ‘baik’ akan berkulit putih, sedangkan yang ‘jahat’ akan bermuka merah atau bertaring.

Untuk membuat kepala wayang sendiri Enday perlu waktu tiga hari. Normalnya, membuat satu karakter wayang hingga lengkap perlu waktu satu minggu. Di sanggar ini ada tujuh orang kerabat Enday yang bekerja. Ibu Enday membuat baju wayang, Enday membuat kepala wayang. Yang lain memotong kayu, membuat batang bambu, dan mengecat wayang.

Mengenai bahan baku kayu dan bambu untuk wayangnya, Enday mengaku tidak kesulitan. “Kayu pule (Alstonia scholaris), atau orang Sunda menyebutnya kayu lame, masih banyak terdapat di Bogor ini. Saya membeli satu pohon langsung. Dengan itu saya bisa membuat ratusan karakter wayang, dan baru habis sekitar 6 bulan kemudian.”

Untuk kain batik, benang emas, dan aksesoris baju lainnya Enday beli dari pemasok di Jogja dan Pekalongan. Cuma saya tidak beruntung, hari Sabtu ini tidak bisa melihat proses pembuatan baju wayang, karena Ibunda Kang Enday sedang libur. ”Beliau bekerja Senin sampai Jumat. Senin nanti datang lagi ke sinilah,” ajaknya.

Anaknya Tak Ada yang Tertarik

Dalam sebulan, sanggar Enday bisa membuat 20 wayang, ditambah sekitar 20 wayang dari perajin lain di kota Bogor. Enday tidak merahasiakan harga jual wayangnya. “Untuk wisatawan asing, harga satu wayang 60 euro, atau 75 dolar AS. Kalau untuk pembeli lokal, Rp 400 ribu. Itu saja kadang masih ada yang menawar separuhnya, hahaha!”

Dengan adanya perang di Timur Tengah, kunjungan orang asing memang menurun. Dulu, dalam sehari bisa 50 wisatawan asing datang, dengan sekitar 75%-nya dari Belanda. Namun Enday tetap bersyukur karena masih ada saja wisatawan yang datang. Begitu juga liputan media, para mahasiswa yang mengerjakan tugas kuliah, serta content creator yang membuat konten untuk media sosial.

Yang disayangkan Enday adalah kenyataan bahwa ketiga anaknya tidak ada yang berminat meneruskan kerajinan wayang golek ini. Sang istri, yang seorang doktor, sudah cukup sibuk dengan aktivitasnya sebagai peneliti di Pusat Studi Satwa Primata, Bogor. Makanya tanggung jawab Enday sekarang menurutnya adalah terus memperkenalkan wayang golek sunda ini ke sebanyak mungkin orang, terutama kepada anak-anak muda, agar nantinya ada yang mau meneruskan kerajinan ini, entah dari keluarganya atau orang lain.***

Artikel Sebelumnya : Penjaga Wayang Golek Sunda (1)

Share
Deheng House
Nyonya Secret

Pilihan Redaksi

Berita Terpopuler

Berita Terbaru