dialog-banto-dan-tokke
DIALOG BANTO DAN TOKKE | Ilustrasi : Ai
Bacaan Sekolom Sambil Minum Kopi
DIALOG BANTO DAN TOKKE
By Arsal Alhabsi
Sun, 21 Jun 2026

MALAM makin larut. Kepulan asap rokok kian mempersempit ruangan yang berukuran 2 meter x 3 meter. Di lantai bertebaran puntung dan abu rokok. Di atas meja terletak sebuah piring berisi singkong goreng dan dua buah gelas berisi kopi hitam. Masih penuh, terhidang sejak berjam-jam lalu. Rupanya belum tersentuh.

Di kamar tidur yang sekaligus berfungsi sebagai kamar tamu itu, dua orang sahabat sedang asyik berdiskusi. Topiknya macam-macam, aneh-aneh dan lompat-lompat. Orang lain sulit nimbrung. Banto dan Tokke kalau sudah terlibat dalam diskusi seperti itu nyaris tidak ingat apa-apa lagi. Mereka merasa dunia ini hanya berpenghuni dua orang saja.

Dengan mata yang sayu mereka saling memandang. Kadang bermenit-menit tanpa suara. "Kita sudah empat puluh lima tahun merdeka. Kita berdua setidaknya telah dua puluh lima tahun mendiskusikannya. Adakah hasil diskusi yang kita capai?" Banto memulai dialog mengusik sunyi.

"Tergantung apa yang kita maksud dengan Hasil. Kalau rasa bahagia, ya, karena tahunya kita cuma berdiskusi. Kalau menggarap sesuatu yang wujud, jelas, merentang hubungan komunikasi bisnis dengan para pengambil keputusan misalnya, kan tak pernah kita pikirkan apalagi melakukannya. Dan menurut kita, hasil yang demikian tidak akan membahagiakan, bahkan pada akhirnya kecuali menyebalkan juga menyesatkan!" Sambut Tokke dengan tekanan meyakinkan.

"Adakah yang salah dalam pikiran kita selama ini?" Banto meneruskan pertanyaannya.

"Ada dan tidak ada sekaligus!" jawab Tokke singkat.

"Tolong jabarkan maksudnya," Banto mendesak.

"Yang ada, maksudku, kita merasa tergolong pemikir, padahal kita tidak tahu sistematika berpikir. Yang tidak ada, alasannya, kita ini kan orang bebas, nah, ada urusan apa untuk repot-repot belajar sistematika segala?" jelas Tokke ingin meyakinkan.

"Lantas siapa yang paling menikmati hasil kemerdekaan kita?" Banto memunculkan pertanyaan lagi.

"Jawabannya bertebaran di sekeliling kita. Oleh sebab itu, jawaban dalam bentuk kata-kata menjadi mubazir saja!" jawab Tokke tegas.

"Maksudmu golongan tertentu yang merajai kawasan-kawasan strategis di segenap kota di Indonesia?" Banto bertanya lagi.

"Pertanyaanmu itu sungguh mendemonstrasikan ketololanmu!" warna wajah Tokke agak memerah.

"Tetapi emosimu, Bung, juga tak kurang pandirnya!" reaksi Banto mengimbangi.

Ruang senyap kembali. Asap rokok kian memadati udara. Sumpek. Sesekali terdengar lamat-lamat lolong anjing di kejauhan. Sejenis cecak besar yang disebut tokek berbunyi tiga kali. Kedengarannya nyaring sekali. Di luar embun membasahi daun, bunga, rumput, dan segalanya. Termasuk atap becak yang nongkrong di pekarangan tetangga. Becak tersebut sudah sebulan nganggur di situ. Maklum, dilarang beroperasi. Kota harus bersinar. Daeng Becak harus cari kerja lain.

Banto dan Tokke melemparkan bola matanya ke luar. Di sana tak sesuatu tampak. Ketika ditariknya kembali, dua pasang mata bertabrakan. Sebangsa kabut yang tersusun dari molekul asap memedihkan mata. Kepala mereka bergeleng-geleng lembut, secercah senyum membias di bibir masing-masing.

"TVRI saban ada waktu lowong, mengetengahkan slide antirokok. Nah, kalau umpamanya tujuan siaran itu berhasil, tiba-tiba segenap rakyat, kecuali kita berdua, berhenti merokok, kira-kira apa bakal terjadi?" Banto membuka dialog yang beberapa saat lalu membeku.

"Bertriliun rupiah yang berasal dari cukai rokok menguap, pajak akan dinaikkan berlipat ganda, dan dokter-dokter spesialis jantung dan penyakit dalam akan kekurangan pasien, dan lantaran itu mereka akan memohon keringanan pajak. Sementara kita berdua tenang-tenang saja merokok sambil tetap berdikusi seperti sekarang ini. Kita harus mulai belajar untuk tidak saling menyinggung agar rokok dapat kita nikmati sepuas-puasnya." Jawab Tokke mantap.

Waktu menunjukkan menjelang fajar. Mata mereka sudah demikian sayu, mengantuk. Mereka masih juga meneruskan dialog dalam bentuk igauan. Adapun singkong goreng dan kopi hitam sudah berpindah ke dalam perut mereka.*****

Share
Penta
Nyonya Secret

Pilihan Redaksi

Berita Terpopuler

Berita Terbaru