inspirasi-lorong-poles-lanskap-arsitektur-kota
| Foto Rusman Madjulekka
Reflection
INSPIRASI LORONG POLES LANSKAP ARSITEKTUR KOTA
By Rusman Madjulekka
Sun, 10 May 2026

Begitu banyak karyanya. Saya pun tak menyangka. Jumlahnya lebih 650 karya desain arsitektur dan perencanaan urban yang tersebar di lebih dari 70 kota dan kabupaten di Indonesia.  

Ratusan karya monumental yang dihasilkannya itu dibuatnya selama rentang waktu sejak 1989 hingga sebelum dirinya terjun ke dunia “arsitek politik” pada 2013. Namanya: Danny Pomanto. Arsitek profesional lulusan Universitas Hasanuddin yang menjadi Walikota Makassar di Sulawesi Selatan dua periode (2014-2019 dan 2021-2015).

“Untuk siapa karya arsitektur sebanyak itu?” tanya saya.

“Saya persembahkan buat warga dan masyarakat. Biarlah mereka menikmati dan merasakan manfaatnya,” jawab Danny sembari menunjuk deretan karya yang terpajang di dinding lantai dua kediamannya di Makassar, belum lama ini.

Karya arsitektur yang didesain Danny- begitu ia biasa dipanggil, tak hanya di Sulawesi atau Indonesia Timur saja, seperti desain Kantor Gubernur Gorontalo, Kantor Gubernur Sulawesi Barat, revitalisasi kawasan pantai Losari Makassar, masjid apung di tepi Pantai Losari, Wisma Negara Centre Point of Indonesia (CPI), Masterplan Ambon Waterfront City, Masterplan Teluk Palu, Menara Persatuan di Kendari, pengembangan Pulau Morotai dan lainnya.

Ada juga jejak karya buah tangan kreatifnya pada pengembangan Teluk Pacitan, pemanfaatan hasil Lumpur Lapindo, pengembangan Tata Ruang Garam di Madura Jawa Timur, penyelamatan pantai utara Pulau Jawa, dan pengembangan pulau-pulau di wilayah perbatasan Indonesia.


Dari ratusan karya arsitekturnya tersebut, mana yang paling menarik dan menantang?   

“Desain CPI (Centre Point of Indonesia),” ujarnya.

Di kawasan ikon baru Makassar hasil reklamasi Pantai Losari itu, bila dilihat dari angkasa CPI membentuk simbol burung garuda raksasa di tengah laut. Sebuah simbol kemegahan Indonesia. Masterplan yang menyerupai burung garuda raksasa ini diadopsi dari posisi Makassar yang dinilai strategis.

Simbol itu juga untuk merepresentasikan Makassar sebagai hubungan bisnis, industri dan jasa. Makassar dinilai sebagai kekuatan kedua di luar Jawa setelah Jakarta. Desain simbol burung garuda itu merupakan ide kreatif Danny.

Beberapa waktu silam, saya pernah berkunjung ke CPI. Di seberang Pantai Losari. Saya berdiri di atas tanah baru hasil reklamasi. Kini menjadi sebuah kawasan strategis untuk pengembangan kota baru. 

Dari Pantai Losari kita bisa memandang kawasan ikonik Makassar. Hanya sepelemparan batu. Sebaliknya, dari lokasi baru itu bisa memandang Pantai Losari yang gemerlap.

Bakat arsitekturnya menular saat menjabat posisi politik Walikota Makassar. Danny mempopulerkan konsep kota cerdas (smart city) dan menata lorong-lorong kota Makassar menjadi lebih bersih dan hidup dengan kegiatan produktif warga.   

Sembari menyaksikan pajangan beberapa karya dan menyimak argumentasi Danny, tiba-tiba pikiran saya melayang ke sebuah perspektif lain. Dari belahan benua yang berjauhan. 

Sebenarnya menarik membandingkan Zohran Mamdani dengan Danny Pomanto. Sama-sama enerjik, komunikatif, pandai memikat publik. Dan sama sama merayakan kota dunia.

Anda sudah tahu, Zohran lahir dari perlawanan. Ia muncul dari “lorong-lorong” memori getir. Gusur, sewa mahal, kota yang terasa asing,bukan milik warganya. Modalnya bukan proyek, tapi empati. Ia menjanjikan satu hal yang mahal di kota besar: rasa aman untuk tetap tinggal. 

Sedangkan Danny, yang bermula “anak lorong” di kota Makassar, punya pendekatan lain. Lebih visual. Lebih arsitektural. Kota dipoles, difoto, dipamerkan, dibuatkan jargon pengingat. Instagramable. Warga bangga. Kota jadi panggung. Festival disemarakkan. Pemimpin jadi kurator. 

Zohran tidak terlalu peduli kota tampak cantik dari drone. Tapi lebih peduli siapa yang terdesak dari trotoar. Ia bicara sewa, bukan skyline. Ia khawatir warga terusir sebelum sempat berfoto. 

Baca Juga : DANNY

Pandangan keduanya punya basis argumentasi kuat. Bukan soal benar atau salah. Kota memang butuh estetika. Tapi kota juga butuh keadilan. Masalahnya, estetika cepat dapat tepuk tangan. Keadilan butuh waktu dan kesabaran. 

New York sedang bereksperimen dengan empati. Banyak kota lain masih sibuk bersolek. Zohran baru mulai. Entah satu atau dua periode. Kita menonton. Sambil tersenyum dan berkata dalam hati: rupanya membangun kota bukan cuma soal desain. “Tapi membangun ekosistem,” ujar Danny. 

Saya tidak banyak membahas Zohran Mamdani, Walikota New York yang fenomenal ini. Anda sudah banyak tahu dari berbagai media dan platform digital. 

Namun Danny Pomanto, meski saya tidak mengenal secara pribadi, tapi tahu dan merasakan apa saja yang sudah dilakukannya selama menjadi pemimpin kota berlabel metro - yang dulunya saya termasuk salahsatu warganya. ***

Share
Nyonya Secret

Pilihan Redaksi

Berita Terpopuler

Berita Terbaru