museum-macan-2026-titian-waktu-lanskap-dan-imajinasi
Karya Raden Saleh berjudul ‘Segler in schwerer See' | DOC. MUSEUM MACAN
ART & DESIGN
Museum MACAN 2026: Titian Waktu, Lanskap, dan Imajinasi
By Devy Lubis
Fri, 08 May 2026

Rangkaian presentasi yang menggugah menandai pameran terbaru Museum MACAN tahun 2026. Sebuah pertemuan antara praktik seni modern dan kontemporer dalam dialog lintasmedium dan gagasan. 

Karya-karya perupa Riar Rizaldi, Dawn Ng, dan Marcos Kueh, serta pameran grup bertajuk ‘Menelan Cakrawala’, dihadirkan. Menelusuri bagaimana waktu, lanskap, memori, dan identitas budaya terus dibentuk dan dipertanyakan. 

Berangkat dari beragam medium dan pendekatan, pameran ini menampilkan lukisan, instalasi, media baru, hingga tekstil. Setiap presentasi mengajak publik menyelami relasi kompleks antara masa lalu dan masa kini. Menimbang bagaimana jejak sejarah, terutama perkembangan teknologi, andil memproses cara kita memahami dunia di sekitar kita hari ini. 

Perupa media baru sekaligus sineas Riar Rizaldi siap menghadirkan ‘Period Piece’, karya komisi baru untuk MACAN. Ini akan menjadi pameran perdananya di Tanah Air setelah pengakuan luas di panggung internasional. 

Riar kesohor akan praktik berkesenian yang banyak menyoroti isu-isu persimpangan antara teknologi, sejarah kolonial, dan lanskap industri ekstraktif Asia Tenggara. Nantinya, kita akan menikmati karya instalasi yang mengimajinasikan kembali memori spasial dan budaya sinema era 90-an. 

Kemudian, ‘Menelan Cakrawala’. Pameran ini menghadirkan sepilihan karya modern dan kontemporer. Antara lain dari Raden Saleh, Franz Wilhelm Junghuhn, Heinz Mack, Robert Rauschenberg, hingga Dede Eri Supria, I Nyoman Masriadi, Ipeh Nur, dan Thao Nguyen Phan. 

Sesuai judul, esensi cakrawala menjadi pemantik pameran grup ini. Sesuatu yang terlihat tenang, normal, dan netral di mata kita. Sebentang garis tipis tempat daratan, laut, dan langit bertemu. Tapi, ceritanya jauh lebih rumit dari itu.

Di balik kesan sederhana tersebut, cakrawala ternyata menjadi ruang di mana pengetahuan dibentuk, wilayah dibayangkan dalam batas-batas imajinasi, sementara kekuatan dan tentu saja, kekuasaan, dimainkan. Semua saling berkaitan, berkelindan, dan ternyata tidak dapat dipisahkan. 

Jadi, lewat pameran ini, pengunjung akan diajak menyusuri bagaimana lanskap ‘sebenarnya dibangun’ melalui beragam cara pandang. Dari jejak pencitraan di era kolonial hingga refleksi kekinian. 

Rangkaian karya berkelanjutan dari perupa Singapura Dawn Ng berjudul ‘Atlantis II’ juga dipamerkan. Es menjadi elemen penting praktik artistik Ng. Sesuatu yang fana dalam perjalanan waktu, dari kehadiran menuju ketiadaan. 

Area Sculpture Garden museum akan dihiasi karya-karya perupa tekstil asal Malaysia, Marcos Kueh. Presentasi tunggal bertajuk ‘Kenyalang Circus’ akan menampilkan interpretasi ulangnya terhadap simbol-simbol sakral Borneo yang ia replikasi melalui tapestry atau permadani.

‘Beradu Padu’ karya Ruth Marbun akan memberi warna pada Ruang Seni Anak MACAN. Perupa asal Jakarta tersebut berharap dapat memacu rasa ingin tahu kala berkreasi dengan kertas dan benda sehari-hari —menghidupkan kisah-kisah personal yang memantik sama-rasa di antara kita semua.   

Share
Nyonya Secret

Pilihan Redaksi

Berita Terpopuler

Berita Terbaru