ubud-food-festival-2026-keajaiban-tangan-tangan-para-pemberi-pangan
Ubud Food Festival 2026 Tour | Dok Istimewa
FESTIVAL & CULTURE
Ubud Food Festival 2026: Keajaiban Tangan-tangan Para Pemberi Pangan
By Devy Lubis
Fri, 08 May 2026

Pekan gastronomi tahunan di Bali kembali digelar bulan ini. Ubud Food Festival yang berlangsung pada 28 - 31 Mei 2026 akan menyoroti peran para pemberi pangan. Petani, nelayan, penghasil garam, dan mereka yang menjaga keberlanjutan kisah-kisah luar biasa kuliner Indonesia.  

Selama empat hari penyelenggaraan festival di berbagai lokasi di Ubud, mereka akan berbagi pengalaman dan inspirasi bersama para chef dan pecinta kuliner lainnya. Selain agenda bersantap dan mencicipi beragam hidangan, ada pula diskusi kuliner, masterclass interaktif, dan tur.

Yang menarik tahun ini adalah kehadiran chef salah satu restoran populer di Jakarta, Jovan Koran, yang akan membawa cita rasa hidup Sulawesi Utara.  

Janet DeNeefe, founder sekaligus director festival, mengatakan tema yang diangkat tahun ini ‘Farmers: Guardian of Land and Sea’ menempatkan para petani dan penghasil pangan sebagai tokoh utama. Ia menegaskan, peran mereka bukan hanya sebagai pemasok.

“Mereka adalah penjaga keanekaragaman hayati, pembawa pengetahuan, dan perawat budaya. Setiap hidangan berawal dari kerja dan kepedulian mereka terhadap darat dan laut,” ungkapnya.


Jajaran chef internasional, muncul nama Prin Polsuk dari Bangkok. Chef dari restoran peraih penghargaan Samrub Samrub Thai. Ia dikenal akan risetnya terhadap resep-resep tradisional Thailand dan menghadirkan hidangan yang elegan serta berakar kuat pada tradisi, sekaligus menghidupkan kembali cita rasa yang hampir terlupakan.

Dari Australia, ada Ben Devlin. Executive chef sekaligus pemilik Pipit yang kesohor pendekatannya pada hasil laut pesisir, seafood berkelanjutan, serta teknik memasak dengan api kayu yang khas. Pendekatan ini sejalan dengan tema festival yang merayakan darat dan laut. 

Chef internasional lainnya adalah pencipta inovasi pastry Kate Reid dari Lune Croissanterie di Melbourne. Memoarnya yang laris ‘Destination Moon’ menceritakan perjalanannya dari disiplin dunia teknik hingga menciptakan croissant yang terkenal di seluruh dunia.

Nama lainnya, Frank Camorra. Chef kelahiran Spanyol, pemilik restoran ikonik MoVida di Melbourne. Sebagai pelopor tapas Spanyol modern di Australia, ia membawa semangat makan bersama dan kebersamaan ke Bali, di mana berbagi makanan sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. 


Menghadirkan program minuman yang istimewa adalah mixologist asal Australia Darren Leane dari Caretaker’s Cottage. Dikenal dengan tekniknya yang kreatif dan kombinasi rasa yang berani, Leane mendefinisikan ulang budaya koktail kontemporer dengan tepat dan gaya khasnya.

Mewakili dinamika kuliner Indonesia kontemporer adalah Jovan Koraag, chef dari restoran populer Jakarta, Mata Karanjang. Versi masakan Manadonya yang berani penuh rasa pedas, warna, dan intensitas, membawa cita rasa hidup Sulawesi Utara ke panggung festival. 

Sorotan tahun ini adalah petani cokelat Bali, Agung Widyastuti, yang mendedikasikan dirinya pada kakao lokal. Lewat karyanya, ia menyoroti ketahanan, keberlanjutan, dan pengetahuan lintas generasi, mengingatkan kita bahwa setiap gigitan lezat berawal dari tanah.

“Ini adalah perayaan seluruh ekosistem pangan. Sebagai pengingat, bahwa sudah menjadi tanggung jawab bersama untuk menjaga bahan pangan, tradisi, dan masa depan kuliner di Indonesia maupun di dunia,” kata Janet.


Share
Nyonya Secret

Pilihan Redaksi

Berita Terpopuler

Berita Terbaru