danny
| Dok Istimewa
OPINI
DANNY
By Rusman Madjulekka
Sun, 26 Apr 2026

DAENG yang satu ini begitu populer. Ia dikenal seorang arsitek, juga konsultan master plan kota. Ia juga dikenal Walikota yang banyak gagasan dengan bermacam tagline program yang inovatif selama memimpin Makassar dua periode, 2021-2024 dan sebelumnya 2014-2019. Nama daeng ini: Danny Pomanto. 

Seminggu usai lebaran, saya diundang ke rumah Danny. Di Makassar. Jalan Amirullah 18 di daerah Mamajang. Malam hari. Karena hari itu ia masih menjalani puasa syawal.

Kali ini betul-betul saya bisa melihat rumah seorang arsitek. Sekaligus mengobati rasa penasaran saya. Mungkin juga anda. Saya membayangkan seperti apa rumah arsitek yang kerap “mengarsiteki” rumah orang lain.  

Melihat sekilas dari depan, arsitektur rumah Daeng Danny cukup unik. Tak hanya di struktur bangunannya juga fungsional. Bagaimana pun bentuk desainnya, itu biasanya mencerminkan selera si empunya rumah itu. 

Dari pintu gerbang saya diarahkan masuk ke ruangan besar seperti layaknya aula. Terparkir beberapa mobil. Dibagian barat disulap jadi lapangan bulutangkis. Disebelah utara, ada ruang meeting kecil. Tak jauh dari situ, naik dua tiga anak tangga, terdapat kolam renang. Ukurannya sekitar 5x7 meter persegi. Tampak khas, ada hiasan pada tegel di kolam ini.


Pada saat masih menjadi sesuatu di kota yang juga merupakan pintu gerbang Indonesia Timur, kediaman pribadi Danny ini lebih banyak digunakan ketimbang rumah dinasnya di depan bibir Pantai Losari. Seperti acara open house, audiensi, menerima tamu dan lainnya.   

Danny seorang arsitek lulusan Universitas Hasanuddin (Unhas) di Makassar, Sulawesi Selatan. Saat kuliah sudah menunjukkan kecerdasannya. Begitu selesai, ia ditawari sebagai asisten dosen yang kelak jadi dosen tetap di jurusan Arsitektur Fakultas Teknik (FT) Unhas. 

Sejak masih di kampus, Danny sudah menjadi dosen favorit. Tak terkecuali bagi mahasiswi dari fakultas ekonomi. Setelah wisuda, dipertemukan kembali saat sarjana ekonomi itu menjadi marketing disebuah hotel di depan Pantai Losari. Dan kebetulan arsitek hotel itu Danny. Nama si sarjana ekonomi itu Indira Jusuf Ismail. Keduanya akhirnya menikah dan dikaruniai tiga putri-dua diantaranya mengikuti jejak ayahnya jadi arsitek.

Sebenarnya Danny itu nama panggilan. Nama lengkapnya Mohammad Ramdhan Pomanto. Ia lahir di Makassar. Masa pendidikannya dari SD hingga kuliah di kota berjuluk “Anging Mammiri” ini. Darah Gorontalo yang mengalir dalam dirinya berasal dari ayahnya dengan marga Pomanto dan ibunya Bugis.

Rupanya profesi dosen belum sanggup menampung kompetensi dan semangatnya yang menyala-nyala. Banyak ide, gagasan dan inovasi di kepalanya yang mandek karena harus berhadapan dengan birokrasi kampus. Ia butuh ruang baru bisa mewujudkan keinginan dan kreasinyanya yang terpendam. Keputusan harus diambil. Ia meninggalkan dosen dan berhenti status PNS di Unhas.      

Danny kemudian meniti karir profesional sebagai arsitek dan konsultan tata kota sejak 1989. Ia tercatat telah mengerjakan lebih dari 650 proyek desain arsitektur dan perencanaan urban di lebih dari 70 kota dan kabupaten di Indonesia. Termasuk desain kawasan ikon baru Makassar hasil reklamasi Pantai Losari: Centre Point of Indonesia (CPI). 

Bila dilihat dari angkasa CPI membentuk simbol burung garuda raksasa di tengah laut. Sebuah simbol kemegahan Indonesia. Masterplan yang menyerupai burung garuda raksasa ini diadopsi dari posisi Makassar yang dinilai strategis.

Simbol itu juga untuk merepresentasikan Makassar sebagai hubungan bisnis, industri dan jasa. Makassar dinilai sebagai kekuatan kedua di luar Jawa setelah Jakarta. Desain simbol burung garuda itu merupakan ide kreatif Danny saat masih menjalani profesi arsitek. Sebelum menjadi Wali Kota Makassar. 

Hari itu, Daeng Danny saya lihat masih tampak segar bugar. Badannya sedikit berbobot. Berkaca mata. Kerutan di dahinya tak nampak. Keliatan lebih rileks. Lebih sering ke warung kopi berbaur dengan warga dan kawannya. 

Banyak yang penasaran, termasuk saya, apa kegiatan Danny setelah tidak lagi jadi Walikota. 

“Kembali jadi konsultan,” jawabnya.

Darah dagingnya di arsitek dan konsultan. Sumsum tulang belakangnya juga berisi kedua aktivitas profesi tersebut.  

Saya lalu diajak ke lantai dua. Ada ruangan cukup luas. Seperti ruang kerja. Di dinding terpampang foto dan gambar hasil karyanya. Di bagian dinding lain tertulis beberapa quote, dan meja tersimpan banyak piala, plakat dan award penghargaan.

Di bagian tengah terdapat meja panjang yang diatasnya banyak kertas gambar desain.

“Gambar apa ini?” tanya saya penasaran.

“Gambar lomba desain kantor gubernur Gorontalo”

“Pria dengan predikat arsitek utama sekelas Danny Pomanto masih ikut lomba?” 

“Kalau saya gak ikut nanti dibilang sombong,” gurau Danny. Ia memang senang bercanda. Ia murah senyum. Juga rendah hati. Mungkin terbawa sifatnya yang suka seni dan olahraga.

Ia sering memenangkan lomba desain kawasan. Ia juga ingin ikut mendesain IKN yang di Kalimantan Timur. Tapi begitu mau mendaftar ia melihat persyaratan: izin praktik arsiteknya sudah mati. Ia lupa memperbaruinya karena sibuk sebagai wali kota.

Sebagai orang yang pernah aktif wartawan, tentu saya kenal baik Danny Pomanto. Ia sumber berita para wartawan Makassar. Tidak pelit berbagi informasi. Menjadi media darling. 

Memori saya teringat momen pertama kali mengenal Danny tahun 2000. Saat itu Makassar ditunjuk AFC menjadi tuan rumah babak perempat final Asian Club Championship (sekarang Liga Champions Asia). Tapi dengan catatan: stadion Mattoanging harus direvitalisasi.

Tak ada pilihan lain. Bangunan stadion legendaris itu harus dipermak. Dikebut pekerjaannya,terdesak deadline AFC. Lalu tak lama, muncul seorang pria muda berkaca mata menerima dan menyanggupi pekerjaan tak ringan itu. 

Bahkan saat momen diperkenalkan, ia datang tergopoh gopoh dengan embel-embel arsitek menenteng tas. Isinya kertas-kertas gambar karya desainnya. 

"Tabe….tabe (permisi,red),” ucapnya menerobos kerumunan wartawan saat dipanggil Walikota Makassar saat itu, Amiruddin Maula, yang didampingi Ketua Panpel Ilham Arief Sirajuddin, maju ke depan. Tak satu pun yang mengenali Danny ketika itu.

Seiring waktu, jejak digital mengungkap pasang surut perjalanan karirnya yang “nyemplung” ke politik. Sejak beberapa tahun ia menjelma jadi “ikon politik” seperti sekarang bak kisah dongeng. 

Sebagai Walikota Danny yang bermula “anak lorong” di kota Makassar, anak seorang guru yang sebelumnya jauh dari publikasi dan sorotan lampu, punya pendekatan lain. Lebih visual. Lebih arsitektural. Kota dipoles, difoto, dipamerkan, dibuatkan jargon pengingat. Instagramable. Warga bangga. Kota jadi panggung. Festival disemarakkan. Pemimpin jadi kurator. 

Ada saja jalan untuk kembali menjalin tali silaturahmi. Dalam hal saya dengan Danny Pomanto jalannya terhubung lewat banyak teks quote kerap dipopulerkannya. Yang saya ingat, salahsatunya: gagal merencana berarti merencanakan kegagalan! *** 


Share
Nyonya Secret

Pilihan Redaksi

Berita Terpopuler

Berita Terbaru