Di sebuah rumah kayu sederhana di Desa Kuru Sumange, Kabupaten Maros, sebuah ember tua yang nyaris tidak berharga tersembunyi di bawah kolong tempat tidur. Tertutup kain lusuh, seakan tak pernah disentuh siapa pun.
Tetapi siapa sangka, ember tua itulah yang justru diam-diam membangun jalan menuju Makkah.
Pemiliknya adalah, Jumariah, seorang perempuan renta berusia 70 tahun yang hidup dalam kesederhanaan, tampa keluh kesah. Dia bukan pejabat. Dia bukan pengusaha. Dia bukan orang kaya dengan rekening miliaran. Ia hanya buruh sawah dan kebun yang setiap hari menukar tenaganya dengan upah kecil yang kadang bahkan tidak cukup untuk membeli kenyamanan hidup.
Namun, perempuan tua itu memiliki sesuatu yang jauh lebih kuat daripada uang, yaitu keyakinan yang kokoh. Pantang menyerah.
Dua puluh tahun lamanya ia menyimpan mimpi itu sendirian. Waktu selama itu cukup untuk membuat banyak orang berubah pikiran, menyerah, bahkan kehilangan harapan. Namun tidak demikian bagi Nenek Jumariah. Setiap lembar uang yang ia peroleh dari mencabut rumput, memanen jagung, membersihkan kebun, atau menggarap sawah orang lain, selalu ia sisihkan sedikit demi sedikit.
Terkadang hanya Rp20 ribu. Terkadang Rp50 ribu. Terkadang Rp200 ribu ketika panen sedang baik.
Tidak ada celengan mewah. Tidak ada tabungan digital. Tidak ada brankas besi. Ia hanya memiliki ember tua yang disembunyikan rapat di bawah tempat tidur agar tidak diketahui siapa pun, bahkan cucu-cucunya sendiri. Dan mungkin, di situlah letak kemuliaan perjuangan itu. Dari sanalah doa- doa lahir tanpa henti.
Banyak malam berlalu dalam lapar yang disembunyikan. Banyak pagi dimulai dengan tubuh renta yang tetap berjalan ke sawah sebelum matahari terbit. Ia membawa setengah liter air minum dan pulang dengan peluh membasahi pakaian tuanya.
Untuk makan, ia tidak meminta lebih dari orang di sekitarnya. Ia cukup memetik daun ubi di belakang rumahnya. Kadang hanya telur ayam dari ternaknya sendiri yang digoreng sederhana.
“Uang hasil panen tidak boleh diganggu,” kata dia lirih.
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi itulah sesungguhnya samudra pengorbanan yang tidak sanggup dipahami banyak orang hari ini.
Di zaman ketika manusia mudah menghabiskan uang demi gaya hidup, seorang nenek memilih menahan lapar demi memenuhi panggilan Allah SWT.
Saat banyak orang mengeluh karena hidup kurang nyaman, perempuan tua itu justru sedang mengajari dunia tentang makna sabar yang sesungguhnya.
Dia tidak sedang menabung uang. Ia sedang menabung rindu. Dia sedang menabung air mata. Dia sedang menabung keyakinan bahwa Allah tidak pernah tidur mendengar doa hamba-Nya.
Tahun 2011 akhirnya menjadi titik bersejarah. Setelah dua dekade menjaga ember tua itu seperti menjaga harapan hidupnya sendiri, uang yang terkumpul akhirnya cukup untuk mendaftarkan diri sebagai calon jemaah haji.
Namun, perjuangan itu ternyata belum selesai. Dia masih harus menunggu 13 tahun lagi. Bayangkan betapa panjang penantian itu bagi seorang perempuan yang usia dan tubuhnya terus menua setiap hari. Namun lagi-lagi, Nenek Jumariah tidak menyerah. Ia tetap menjaga tubuhnya, tetap bekerja, dan tetap hadir dalam manasik haji lebih dari 80 kali tanpa pernah absen.
Dan ketika hari keberangkatan itu akhirnya tiba, langit seolah memeluk seluruh kesabarannya.
Setibanya di Madinah, air matanyapun pecah.
Di depan Masjid Nabawi, perempuan yang selama puluhan tahun menyimpan rindu itu akhirnya berdiri di tanah yang dulu hanya hadir dalam doa-doa malamnya.
Langkahnya gemetar. Dadanya sesak oleh haru.
Matanya basah saat memasuki Raudhah. Mungkin pada saat itu, seluruh lapar yang pernah ia tahan, seluruh peluh yang jatuh di sawah, dan seluruh daun ubi yang pernah ia makan dalam sunyi, berubah menjadi cahaya yang menyelimuti hatinya.
Dan dunia pun akhirnya ikut menangis bersama kisahnya.
Kisah Nenek Jumariah menembus batas desa, batas Indonesia, bahkan menarik perhatian Kerajaan Arab Saudi. Perjuangannya didokumentasikan dalam Program Makkah Route dan diperkenalkan kepada dunia sebagai simbol keteguhan seorang hamba dalam memenuhi panggilan Tuhan.
Namun, keajaiban terbesar dari kisah ini bukanlah karena ia viral atau mendunia.
Keajaiban terbesarnya justru karena seorang perempuan miskin berhasil menjaga mimpinya tetap hidup selama lebih dari tiga puluh tahun tanpa membiarkan keadaan membunuh harapannya.
Di tengah dunia yang semakin bising oleh ambisi dan kemewahan, Nenek Jumariah hadir seperti cahaya kecil yang menyadarkan kita bahwa jalan menuju langit kadang dibangun dari recehan-recehan perjuangan yang tidak pernah dilihat manusia.
Dan ember tua itu… kini bukan lagi sekadar ember. Ia telah berubah menjadi monumen sunyi tentang kesabaran.
Tentang cinta seorang hamba kepada Tuhannya.
Tentang doa yang dijaga sangat lama hingga akhirnya Allah sendiri membukakan jalan menuju Baitullah.
__________
- Muliadi Saleh: Menulis Makna, Membangun Peradaban."