Menjelajah rasa, menyusuri cerita. Di ketinggian 30 ribu kaki, saat awan bergulung pelan di luar jendela pesawat, ada satu hal yang selalu berhasil membangkitkan imajinasi perjalanan kita: sepiring hidangan, semangkuk kelezatan.
Bukan sekadar soal rasa, tetapi kisah panjang yang tersembunyi di balik setiap sajian. Bahwa rasa menjadi bagian penting perjalanan budaya Nusantara. Cita rasa dan selera pun terbentuk dari pertemuan berbagai peradaban, jalur-jalur perdagangan, serta proses akulturasi yang andil membentuk identitas masyarakat dari masa ke masa.
Tahun ini, Indonesia Kaya kembali mengajak kita menyelami cerita itu lewat webseries Kuliner Indonesia Kaya 2026. Sebuah perjalanan rasa menuju Palembang, Ternate, dan Banten. Tiga kota, tiga karakter, dan satu benang merah: kuliner sebagai jejak peradaban. Episode-episode terbaru ini dapat disaksikan di kanal YouTube Indonesia Kaya.
Kue Delapan Jam - Doc Indonesia Kaya/Image Dynamic
PALEMBANG — Harmoni Sungai dan Tradisi
Perjalanan berlanjut ke Palembang, salah kota tertua di Indonesia. Masyarakat di kota ini hidup berdampingan dengan Sungai Musi. Di sini, rasa mengalir seperti air. Tenang, tapi penuh makna.
Tak lengkap singgah di Palembang tanpa mencicipi Pindang Ikan. Kuahnya bening dengan sentuhan asam pedas yang segar. Ikan patin, gabus, atau baung dimasak dengan bumbu khas yang membuat setiap suapan terasa ringan namun kaya rasa.
Ini bukan sekadar hidangan, melainkan cerminan kedekatan masyarakat dengan alam sungai beserta entitas yang saling bergantung padanya, di dalamnya, dan di sekitarnya.
Namun Palembang juga punya sisi manis yang penuh filosofi. Kue Delapan Jam. Seperti namanya, penganan ini dimasak selama delapan jam hingga menghasilkan tekstur lembut dan warna cokelat keemasan. Sabar adalah kunci, dan hasilnya adalah kelezatan yang elegan.
Bersanding dengannya, ada Kue Maksuba yang berlapis-lapis dan legit. Disajikan (bahkan menjadi bagian penting) dalam tradisi pernikahan dan perayaan besar seperti Lebaran.
Membuatnya butuh ketelitian, keterampilan, dan kesabaran—cerminan yang dilekatkan pada perempuan lokal. Menyantapnya terasa seperti merayakan tradisi —dinikmati dengan sepenuh hati.
Karena di Palembang, makanan adalah bahasa kasih yang diwariskan turun-temurun. Dan, kuliner menjadi cara masyarakat merawat nilai serta ingatan kolektif kota yang menyimpan banyak cerita lama yang terus hidup di tengah modernisasi.
Selanjutnya : Kuliner TERNATE — Rasa Alam dari Jalur Rempah