tiga-kota-tiga-warisan-kuliner-nusantara-2
Rimo Rimo | DOC INDONESIA KAYA | IMAGE DYNAMICS
Culinary
Tiga Kota, Tiga Warisan Kuliner Nusantara #2
By Devy Lubis
Sun, 10 May 2026

TERNATE — Rasa Alam dari Jalur Rempah

Di timur Indonesia, Ternate berdiri sebagai saksi bisu kejayaan Jalur Rempah. Di sini, makanan bukan sekadar kebutuhan. Ia adalah bentuk hubungan manusia dengan alam.

Bayangkan Rimo-rimo, teknik memasak tradisional tanpa panci, tanpa dapur modern. Bambu dijadikan wadah, api menjadi sahabat, dan bahan-bahan sederhana seperti ayam, daging, hingga umbi-umbian dimasak perlahan hingga meresap sempurna. 

Aroma asapnya? Hangat, alami, dan terasa seperti pelukan dari masa lalu. Metode memasak, sekaligus kekhasan cita rasa yang tercipta, yang diwariskan turun-temurun masih coba terus dilestarikan masyarakat setempat hingga hari ini.


Gohu Ikan. Doc Indonesia Kaya

Kris Syamsudin, founder Cengkeh Afo dan Gamalama Spices menjelaskan, Rimo-rimo berakar dari kebutuhan masyarakat Ternate ketika berada di belantara hutan. “Tradisi memasak yang lahir dari situasi bertahan hidup (survival mode),” ungkapnya. 

Lalu ada Gohu Ikan, sajian segar yang sering disebut sebagai “sashimi-nya Indonesia Timur.” Potongan tuna atau cakalang mentah disiram perasan lemon cui, ditaburi garam, dan dipadukan dengan kemangi.  

Rasanya? Segar, tajam, dan sangat jujur seperti laut yang mengelilingi pulau ini. Juga mengingatkan kita pada kuliner khas Peru ‘ceviche’ tapi tentu saja cita rasanya lebih Nusantara karena diramu tanpa daun ketumbar. 

Di Ternate, setiap gigitan terasa seperti kembali ke akar kehidupan.

“Hidangan ini memperlihatkan bagaimana masyarakat Ternate memanfaatkan hasil laut dengan sederhana, sekaligus menunjukkan hubungan harmonis antara manusia dengan lingkungannya.”

BANTEN — Jejak Kesultanan di Setiap Sajian


Rabeg, Banten - Doc Indonesia Kaya/Image Dynamic

Dari Sumatera, kita menyeberang ke barat Pulau Jawa, menuju Banten. Wilayah yang sarat jejak kesultanan-nya.

Di sini, Sate Bandeng menjadi bintang utama. Uniknya, ikan bandeng diolah tanpa duri. Hasil inovasi dapur kerajaan demi menghormati tamu. Dagingnya lembut, dibumbui kaya rempah, lalu dibakar hingga harum. Setiap gigitan terasa mewah, namun tetap akrab di lidah.

Tak kalah menarik, Rabeg hadir dengan cita rasa kuat. Olahan daging kambing atau sapi ini dimasak dengan rempah yang kaya dan sedikit sentuhan manis-gurih. Konon, hidangan ini terinspirasi dari perjalanan Sultan ke Timur Tengah. Sebuah bukti bahwa kuliner juga menjadi hasil pertemuan budaya lintas dunia.

Banten mengajarkan kita bahwa rasa bisa menjadi jembatan antara sejarah dan inovasi.

Lebih dari Sekadar Sajian Khas Penggugah Selera

Melalui Kuliner Indonesia Kaya, kita diajak memahami bahwa di balik setiap hidangan, tersimpan lebih dari sekadar resep. Ada cerita tentang perjalanan, adaptasi, cinta, dan identitas.

Dari bambu sederhana di Ternate, kuah hangat di Palembang, hingga dapur kerajaan di Banten, semuanya menyatu dalam satu narasi besar: kuliner sebagai warisan hidup bangsa. Jadi, saat pesawat Anda mendarat nanti, mungkin bukan hanya destinasi yang Anda cari, tetapi rasa yang ingin Anda temui.

Karena di Indonesia, setiap kota punya cerita. Dan cerita terbaiknya… selalu dimulai dari meja makan.***

Sebelumnya : Kuliner Palembang - Harmoni Sungai dan Tradisi

Share
Nyonya Secret

Pilihan Redaksi

Berita Terpopuler

Berita Terbaru