TAK ada tempat terbaik di dunia ini selain rumah. Rumah kita sendiri. Segala nikmat dan anugerah ada di rumah. Demikian penggalan lirik lagu yang dipopulerkan grup band legendaris God Bless yang digawangi Achmad Albar dkk.
Eksistensi rumah kembali diangkat dalam sebuah pameran tunggal seni rupa karya Budi Haryawan. Dengan tema “Our Home”, Budi, begitu ia akrab dipanggil- menggelar pameran selama tiga hari (1-3 Mei 2026) di kedai Deskopidi kompleks perumahan Bukit Baruga Antang, Makassar, Sulawesi Selatan.
“Kegiatan pameran ini merupakan bagian dari rangakaian pameran seni rupa yang menggambarkan nafas panjang perjalanan seni rupa Makassar yang disajikan dengan mengambil ”Spirit Leang-Leang,” kata Budi dalam rilisnya yang dikirimkan, Minggu (3/5/2026).
Dalam pameran tunggal kali ini, Budi menampilkan karya lukisan dengan dua narasi besar yang menjadi pijakan ekspresinya. Yakni seri “Sebuah Tangga di Bawah Sinar Bulan” dan “Jalan-Rumah-Pohon”. Kedua narasi ini memperluas cakupan makna tentang eksistensi, perjalanan hidup, dan hubungan manusia dengan alam semesta.
Selain itu, tema “rumah kita” dihadirkan Budi sebagai ruang untuk merenung dan menafsirkan makna tersebut dari berbagai sisi. Ia mengajak kita melihat rumah tidak hanya sebagai tempat berteduh, tetapi juga ruang penyimpanan kenangan, wadah hubungan antarmanusia.
Karya-karya Budi mengingatkan bahwa rumah tidak terbentuk dari susunan batu dan kayu semata, melainkan dari kasih sayang yang dipupuk dan dipelihara dengan sepenuh hati di dalamnya.
Pesan yang ingin disampaikan, bahwa rumah adalah tempat di mana kita belajar untuk mencintai, memaafkan, berbagi, dan berkembang menjadi pribadi yang lebih baik.
Dan rumah adalah tujuan perjalanan hidup—tempat untuk kembali, tidak hanya bagi raga yang lelah, tetapi juga bagi hati dan jiwa yang membutuhkan ketenangan.
Budi Haryawan lahir di Makassar, 16 Februari 1970. Ia menempuh pendidikan di Jurusan Pendidikan Seni Rupa IKIP Ujung Pandang (kini Universitas Negeri Makassar) angkatan 1989.
Selain bekal akademis, kemampuan melukis corak realis-naturalis juga diasah secara khusus di bawah bimbingan almarhum Rusdi Trunajaya.
Perjalanan seninya dimulai secara intensif sejak tahun 1996, saat ia mendirikan Sanggar Cenderawasih bersama Wawan Darmawan dan Randhy Boegis.
Sejak pertengahan 1990-an hingga kini, rekam jejaknya tercatat dalam ratusan karya dan puluhan pameran, mulai dari skala lokal hingga nasional, seperti 21 Warna (1998), Ekspresi Lagaligo (1999), Makassar Art Forum, Narasi Zaman (2012), hingga Refleksi 50 Tahun Seni Rupa Makassar (2025).
Kontribusinya bagi dunia seni rupa Makassar sangat nyata, tidak hanya melalui karya, tetapi juga peran aktif dalam komunitas dan event besar seperti MAIM (Makassar International Art Manifestation).
Salah satu karya penting yang menjadi bukti eksplorasi mediumnya adalah instalasi Leang Leang Spirit yang digelar di Benteng Fort Rotterdam, menunjukkan kemampuannya bertransformasi dari lukisan ke ruang publik. ***